Kabar Paciran -->
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik


Afiqul Adib | Anak Kos


Sampah adalah musuh masyarakat, dan hal tersebut perlu diakui. Apalagi sampah plastik atau yang berbau plastik (tolong jangan dikaitkan dengan korea).


Sampah plastik dianggap musuh masyarakat karena tidak bisa terurai secara alami. Sehingga banyak pecinta lingkungan yang memperjuangkan pelarangan sampah plastik. Mereka geram karena bumi dipenuhi dengan plastik. Bahkan ada suatu kejadian di mana seekor paus mati, dan ditemukan puluhan ton sampah di perutnya.


Sejalan dengan pemikiran tersebut, pemerintah pun ahirnya membuat kebijakan pembatasan pemakaian sampah plastik. Kebijakan ini bisa dilihat ketika berbelanja di Minimarket atau Supermarket. Seperti yang saya temui di Bravo Supermarket daerah Tuban Jawa Timur. Ketika selesai belanja maka akan ditawari sejenis tas atau kardus sebagai pembungkus belanjaan. Tentunya pembungkus tersebut berbayar, dan sangat mengganggu batin saya. 


Bagi saya, pembatasan pemakain plastik adalah kebijakan yang bagus, dalam arti niatnya memang baik. Namun tidak tepat sasaran. Kenapa bisa seperti itu? Oke, jadi gini:


1. Permintaan masyarakat pada plastik itu tinggi, artinya belum ada produk yang menggantikan plastik. Kalau dilakukan pembatasan maka masyarakat harus membiasakan menggunakan kardus atau bahan lain selain plastik yang biayanya agak mahal dari plastik. 

Memulai pembiasaan baru itu sulit dan perlu waktu.


2. Plastik belum bisa digantikan sepenuhnya. Ada beberapa kegunaan plastik yang belum bisa digantikan, seperti fungsi water proof. Yaelah, masak sih jas hujan memakai kertas. Kan sama aja bohong. Belum lagi ketika pandemi. Perlengkapan APD sangat dibutuhkan, seperti masker, handsanitizer (wadahnya), face shild, dan sebagainya, yang mana kebanyakan menggunakan bahan dasar plastik. Itu belum produk sehari-hari seperti bungkus sabun cuci, odol, sampo, dan sebagainya. Produk plastik digunakan memang karena kepraktisan fungsinya.


3. Plastik tidak punya kaki. Ketika ditemukan plastik di perut paus, atau di dasar lautan, saya rasa bukan salah plastiknya, tapi prilaku manusianya. Karena itu yang harus diperbaiki ya manusianya, bukan plastiknya.

Jika plastik tidak boleh dibuang dengan sembarangan karena tidak bisa terurai secara alami, memangnya kalau bisa terurai maka boleh dibuang sembarangan gitu?


4. Percuma pembatasan penggunaan sampah plastik atau bahkan buang sampah pada tempatnya jika pengelolaan sampah masih sempoyongan.


Seharusnya yang dilakukan bukan pengurangan produksi plastik, melainkan perbaikan pelaksanaan manajemen sampahnya. Iya benar, pelaksanaanya saja. karena peraturannya sudah ada.


Silahkan di cek Undang-Undang no. 18 tahun 2008. Di sana sudah diatur dengan jelas dan rinci tentang manajemen sampah plastik. Seperti di pasal 13 yang menjelaskan bahwa pengelola kawasan pemukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya wajib menyediakan fasilitas pemilahan sampah. 


Ada juga kebijakan pemilahan sampah seperti keharusan pencantuman kode plastik pada kemasan untuk memudahkan pemilahan sampah diatur di pasal 14.


FYI saja, dalam kemasan plastik itu tertera nomor, mulai 1 sampai 6. Nah, nomer tersebut menunjukkan kode plastik yang bisa didaur ulang. Kemudian kode 7 adalah yang tidak bisa didaur ulang. Namun sekarang ada teknologi yang bisa mendaur ulang sampah kode 7. Artinya, di jaman sekarang semua sampah plastik bisa didaur ulang. Namun karena teknologi masih belum menyeluruh, kita bisa menyebut kode 7 adalah sampah yang sulit didaur ulang.


Lalu bagaimana solusinya? 

Pertama adalah sosialisasi. Banyak yang belum tahu tentang hal dasar dalam plastik, misal kode sampah yang saya jelaskan di atas tadi. Ada juga yang belum bisa membedakan Styrofoam dan PS Foam. Ini penting, karena kedua benda tersebut berbeda. Styrofoam untuk pembungkus benda seperti televisi dan sebagainya. Sedangkan PS Foam untuk makanan.


Pengenalan plastik juga diperlukan agar masyarakat lebih peduli tentang dunia perplastikan. Karena bagaimana mau peduli jika tahu saja tidak.


Kedua, sosialisasi dalam hal penjualan sampah plastik. Hah sampah plastik bisa dijual? Pastinya banyak yang tidak tahu kalau sampah plastik ternyata bisa dijual.


Faktanya, industri plastik malah kesulitan mencari pengepul sampah plastik untuk dijadikan bahan campuran produksi. Jadi sebenarnya industri plastik juga mencari plastik yang berserakan untuk diolah menjadi campuran bahan pembuatan plastik.


Karena keterbatasan pengepul sampah plastik, jadi jangan kaget kalau ada berita tentang impor sampah plastik. Ya kan industri juga butuh bahan secara instan dan murah. Jadi bukan sepenuhnya salah industri plastik jika memang harus impor sampah.


Kalau kita mau mengumpulkan sampah plastik, sepertinya di ahir bulan tetep bisa makan enak deh (khususnya anak kos). Ya gimana, kalau kita menjual sampah plastik ke produsen plastik, untuk PS Foam itu sekilonya dihargai 7 ribu Rupiah. Itu PS Foam, belum plastik lainnya.


Jika memang males ngirim sampah plastik ke tempat industri, maka bisa kok dijual secara online. Kalian bisa buka Playstore dan search jual sampah online, pasti bermunculan banyak aplikasi jual sampah secara online.


Saran saya, baca baik-baik deskripsi, karena di sana dicantumkan lokasi penjualnya. Jadi pilih yang sesuai atau berdekatan dengan kota anda.


Setelah semua itu disosialisasikan, langkah selanjutnya adalah penerapan berkala.

Karena pengelolaan lebih penting dari pembatasan sampah plastik atau sekedar membuang sampah pada tempatnya. Sama saja dong kita buang plastik ke tempat sampah tapi pada ahirnya sampah tersebut dibakar dan mencemari udara. Atau bahkan dibiarkan menggunung sampai menyerupai pegunungan sampah.


Jadi kebijakan membuang sampah pada tempatnya, atau bahkan pengurangan pemakaian sampah adalah kebijakan yang kurang bijak. Karena masalah utamanya bukan itu. Ibarat ketika hujan, dan rumah kita bocor, kemudian yang kita lakukan adalah mengepel lantai. Bukan menambal atap yang bocor.


*diolah dari konten youtube Geolive tentang bincang nalar bersama Wahyudi Sulistya (pelaku industri plastik).

Membuang Sampah Pada Tempatnya Bukanlah Solusi Utama

KABAR.PACIRAN.COM - Jepang dikenal dengan sejumlah budaya yang melekat pada masyarakatnya seperti disiplin dan saling menghormati.

Selain itu, ada hal-hal lain yang juga menjadi ciri dan sejak lama dikenal pada masyarakat Negeri Sakura itu, di antaranya adalah mereka terbiasa berjalan kaki untuk menuju lokasi lain dan mengenakan masker saat berada di luar rumah.
warga jepangvpakai masker
Warga memakai masker pelindung berjalan di sebuah distrik pasar lokal di tengah penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di Tokyo, Jepang, Rabu (13/5/2020).

Disadari atau tidak, kebiasaan ini ternyata membantu Jepang menekan angka kasus Covid-19 di negara itu.

Sebagaimana diketahui, virus corona bisa dengan mudah menular dari manusia ke manusia, dan salah satu cara pencegahannya adalah dengan mengenakan masker setiap kali keluar rumah.

Tanpa dipaksa dan diminta, masyarakat Jepang sudah melakukannya sejak lama. Masker seringkali menjadi bagian tak terpisahkan dari kelengkapan pakaian yang mereka kenakan bila beraktivitas di luar.

Memakai masker sejak berabad-abad silam
koleksi masker jadul jepang
Tamotsu Hirai dengan sejumlah masker dari berabad-abad lalu


Melansir Japan Times, 4 Juli 2020, di Jepang ada istilah mata berbicara sebanyak mulut.

Bisa jadi, hal itu merupakan makna yang ditangkap dari kebiasaan masyarakat negara itu yang kerap mengenakan masker wajah.

Historis antara masyarakat Jepang dan masker ternyata bisa dilihat telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu, jauh sebelum pandemi Covid-19 menyerang.

Pada umumnya, di luar pandemi, masker di Jepang banyak digunakan saat musim panas dan musim influenza.

Namun sebenarnya di luar itu pun, masker telah merasuk dalam banyak aspek kehidupan orang Jepang.

Misalnya fungsinya dibuat beragam, mulai dari masker anti sinar ultraviolet, mencegah kacamata berkabut, atau masker untuk membuat wajah terlihat lebi ramping.

Di Jepang, bahkan ada istilah yang diberikan pada perempuan yang terlihat cantik jika mengenakan topeng, masuku bijin.

Lalu bagaimana sejarahnya sehingga kebiasaan bermasker di masyarakat Jepang bisa terbentuk dan diterapkan hingga saat ini?

Di negara Asia Timur lain, penggunaan masker secara meluas baru mulai terbentuk ketika terjadi wabah SARS pada era 2003.

Bukan suatu kebetulan, ketika wabah terjadi, Jepang mencatat nol kematian yang ditimbulkan akibat SARS.

Menurut seorang kolektor peralatan medis lawas asal Jepang, Tamotsu Hirai, mengapa masyarakat Jepang begitu dekat dengan masker harus dilihat jauh ke belakang.

Hirai menceritakan, sejak zaman kuno masyarakat Jepang sudah menutup mulut mereka menggunakan kertas atau daun untuk mencegah napas (yang dianggap sebagai najis) mereka terembus keluar. Ini erat kaitannya dengan ritual keagamaan.

Hal ini banyak ditemui di kuil-kuil di penjuru Jepang, seperti di Kyoto dan Osaka.

Lalu pada Zaman Edo (1603-1868 Masehi) praktik mengenakan masker sudah menjadi kebiasaan hampir mayoritas penduduk negeri.

Selanjutnya sejarah modern masker dimulai pada Era Meiji (1868-1912), menurut Hirai.

Pada awalnya, masker diproduksi untuk diimpor, bagian luar berbagan kawat kuningan dilengkapi dengan filter, masker diperuntukkan bagi pekerja tambang, pabrik, dan konstruksi.

Kemudian pada 1879, salah satu masker produksi dalam negeri diiklankan untuk pertama kalinya melalui surat kabar.

Secara perlahan bahan pembuatan masker bergeser, dari logam, hingga dari bahan seluloid.

Saat itu harga masker sangat mahal, setara dengan 3.500 Yen saat ini.

Namun masker-masker itu memang dapat digunakan berkali-kali dengan cara mengganti kain kasa yang diselipkan di antara mulut dan masker.

Di Era Taisho (1912-1926), bisnis masker berkembang karena ekonomi yang juga sedang maju. Banyak masker produksi pabrikan Jepang mengisi pasar Eropa selama Perang Dunia I.

Sebagian besar masker itu terbuat dari kulit, beludru, dan bahan lainnya.
Pandemi Flu Dpanyol
fotoblawas masker jepang
shutterstock
Petugas medis menggunakan masker saat wabah flu spanyol di awal abad 19

Namun, momentum penting atau momentum kunci yang membuat masyarakat Jepang begitu dekat dengan masker adalah adanya pandemi Flu Spanyol 1918-1929 yang menewaskan jutaan orang di dunia.

Jepang sendiri kehilangan lebih dari 450.000 warganya akibat Flu Spanyol.

Salah satu akademisi Jepang yang memiliki umur panjang dan pernah mengalami masa terjadinya flu Spanyol Saburo Shochi menceritakan pengalamannya ketika dulu terjadi pandemi flu Spanyol.

Ia masih mengingat ketika satu per satu teman kelasnya tak bisa lagi ia temui karena wabah flu itu.

Di saat wabah terjadi, bahkan Shoichi mengaku diriya yang masih berusia 10 tahun dan sejumlah anggota keluarganya terkena penyakit sehingga tidak bisa bangkit dari kamarnya selama berhari-hari.

Flu Spanyol yang bisa dengan mudah menular akhirnya diketahui, masyarakat pun mulai memakai masker dalam menjalani kegiatan sehari-hari, karena dianggap menawarkan perlindungan dari virus itu.

Beragam slogan di lembaga pendidikan juga banyak yang menyangkut soal masker, misalnya "Sembrono adalah mereka yang tidak memakai masker".

Dengan begitu orang-orang terpacu untuk memakainya.

Bagi mereka yang tidak mampu membeli masker, media cetak ketika itu menampilkan informasi yang memuat cara membuat masker sendiri di rumah.

Persis seperti tutorial membuat masker yang akhir-akhir ini bermunculan di media digital modern.

Di awal Periode Showa (1926-1989) masker memiliki model tiga dimensi seperti yang saat ini diproduksi.

Namun, lama-kelamaan stok menipis karena muncul Perang Dunia II, dan bahan baku pembuatan masker kebanyakan difokuskan untuk kebutuhan militer.

Oleh karena itu, muncul lah masker yang menggunakan bahan baku kasa dengan model sederhana dan harga lebih murah. Kasa ini lah yang akhirnya dipakai oleh masyarakat Jepang untuk kegiatan sehari-hari.

Sejak saat itu, masker sudah tidak lagi menjadi simbol kemakmuran atau kemampuan seseorang.

Setelah perang berakhir, masker mengalami evolusi hingga bentuknya sebagaimana kita temui hari ini, berwarna putih atau bersih, sekali pakai, memiliki model lipatan, dan sebagainya.

Sumber: Japan Times via Kompas.com

Masyarakat Jepang dan Budaya Memakai Masker sejak Berbabad-abad Silam



PACIRAN : Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Paciran dalam tahapan Pilkada Serentak 2020 Kabupaten Lamongan kemarin sore (18/7) menggelar Apel Petugas Pemutakhiran Data Pemiih (PPDP) di Pendopo Kecamatan Paciran. Dalam acara apel sore itu dilauching Gerakan Pakai Masker dan Coklit Serentak di daerah yang akan menggelar Pilkada Serentak 2020. 



Apel  dipimpin oleh Ahmad  Farid, Divisi Parmas dan SDM PPK Paciran. Pada apel  sore itu, H. Farihi selaku Ketua PPK Paciran memberikan pengarahan kepada personel PPDP, “Hendaknya personel PPDP dalam mencoklit warga masyarakat harus prosedural dan tetap mengikuti protokol kesehatan.” tuturnya.

Setelah itu, dilaunching Gerakan Pakai Masker dan Coklit Serentak. Para personel PPDP secara serentak diajak memakai masker, terutama saat menjalankan tugasnya di tengah masyarakat. Lalu juga  dilaunching Gerakan Coklit Online Serentak.

Para personel PPDP diajak untuk membuka websiite www.lindungihakpilihmu.kpu.go.id dan secara serentak memasukkan biodatanya untuk melakukan pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih Pilkada Serentak 2020 Kabupaten Lamongan.

Setelah memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK), nama lengkap, dan tanggal lahir yang bersangkutan, maka akan muncul data pemilih yang bersangkutan dan nantinya akan mencoblos di TPS mana.

Para personel PPDP selain mencoklit pemilih secara offline dengan home visit ke pemilih juga  harus mensosialisasikan Coklit Online via website itu,” tukas Ahmad Farid.

Hal itu tentunya akan sangat membantu sekali dalam proses validasi data pemiih di Paciran, terlebiih data pemilih di Paciran  merupakan data pemiilih terbesar  di Kabupaten Lamongan pada setiap gelaran pesta demokrasi. (Ried).  

GERAKAN PAKAI MASKER DAN COKLIT SERENTAK DI PACIRAN



PACIRAN : Rabu sore (15/7) PPK Paciran menggelar Rapat Pleno Pengesahan Hasil Verifikasi Faktual Dukungan Calon Perseorangan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Lamongan Tahun 2020 di Pendopo Kecamatan Paciran yang dihadiri oleh Forkompimcam Paciran, Panwascam Paciran,  PPS se-Kecamatan Paciran selaku verifikator di lapangan, serta dihadiri Law Officer (LO) Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Lamongan jalur independen.



Setelah acara ceremonial, lalu dilanjutkaan dengan Rapat Pleno Terbuka, lalu verifikator dari 13  desa/kelurahan di Kecamatan Paciran melaporkan satu-persatu hasil verisikasi faktual di lapangan selama sebulan. 

Setelah mendengar tanggapan dari Panwascam dan LO, maka hasil verifikasi faktual untuk Pasangan Suhandoyo-Su’udi di Kecamatan Paciran memperoleh suara dukungan dari warga sebanyak 1264 pendukung, dari data awal sejumlah 1348 pendukung.

Semua pihak menerima hasil verisikasi faktual itu, dan rapat pleno ditutup jelang adzan maghrib berkumandang senja itu. (Ried).

SUHANDOYO-SU’UDI PEROLEH DUKUNGAN 1264 SUARA HASIL VERFAK DI PACIRAN


PACIRAN : Di tengah merebaknya Pandemi Covid-19 ratusan Panitia Ad Hoc Penyelenggara Pilkada Serentak 2020 mengikuti rapid test corona di Pendopo Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi agar para Penyelenggara Pilkada Serentak 2020 terbebas dari penyebaran virus corona di Paciran.


Rapid Test Corona digelar secara bergelombang. Untuk personel PPK dan PPS se-Kecamatan Paciran (27/6), Sekretariat PPK dan PPS se-Kecamatan Paciran (2/7), Panwascam dan PKD se-Kecamatan Paciran (8/7), Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) se-Kecamatan Paciran (11/7).


Petugas Rapid Test Corona dari RSUD Soegiri Lamongan, mereka memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap untuk mengambil sampel setetes darah peserta rapid test. H. Farihi, Ketua PPK Paciran saat diwawancarai media ini menyampaikan.


“Alhamdulillah, kegiatan rapid test corona untuk Panitia Ad Hoc Penyelenggara Pilkada Serentak 2020 Se-Kecamatan Paciran telah berjalan dengan lancar dan penuh antusiasme, Kegiatan rapid test ini wajib dilaksanakan karena merupakan tahapan yang harus dilalui oleh penyelenggara. Semua itu demi memastikan bahwa kami dalam menjalankan tugas sebagai penyelenggara Pilkada Serentak 2020 di masyarakat dalam keadaan sehat, sehingga khalayak umum tidak perlu khawatir.” ujarnya.


Sementara itu, Khoirul Amin, Ketua Panwascam Paciran saat diwawancarai media ini menyampaikan hal yang senada, “Di musim Pandemi Covid-19 ini, kita sebagai Penyelenggara Pemilu harus pro aktif untuk mencegah dan mengantisipasi penyebaran virus corona yang lebih luas, maka dilakukannya test rapid ini sebagai upaya untuk mendeteksi lebih dini.” jelasnya.

Selain mengikuti rapid test corona, ratusan Panitia Ad Hoc Penyelenggara Pilkada Serentak 2020 itu juga tetap menjalankan protokol kesehatan dalam menjalankan tugasnya. Sehingga nantinya pesta demokrasi di kabupaten Lamongan itu bisa berjalan dengan sukses dan tetap sehat. (Ried).

PANITIA AD HOC PENYELENGARA PILKADA SERENTAK 2020 PACIRAN DIRAPID TEST CORONA



PC RMI NU bersama Satgas Covid-19 PCNU Lamongan dan pondok-pondok pesantren se-Lamongan menggelar acara diklat kesehatan tanggap covid-19 di lingkungan pesantren yang berlangsung di Aula Pondok Pesantren Al Fatimiyah Paciran Lamongan (09/07).

Dalam sambutannya, ketua PC NU Lamongan Dr. H. Supandi Awaluddin, M.Pd sangat mengapresiasi dan menyampaikan rasa terima kasih kepada lembaga yang ada di PCNU Lamongan (RMI NU, LKKNU, LBINU dan satgas Covi-19 PCNU Lamongan) bisa mengadakan diklat kesehatan tanggap covid-19 di lingkungan pesantren secara mandiri, “Pandemic Covid-19 membuat porak poranda tatanan ini tidak boleh dibiarkan, yang semestinya mempunyai tugas membuat pelatihan pencegahan itu ya pemerintah daerah kabupaten Lamongan, karena mempunyai anggaran, dan kepala dinas kesehatan yang seharusnya memberikan pencerahan dan bantuan-bantuan kesehatan kepada seluruh masyarakat termasuk lembaga pondok pesantren ". Papar pak Supandi.



Dalam kesempatan acara tersebut, Pak Supandi juga mengajak dan mewajibkan seluruh pondok pesantren untuk menetapkan protokol kesehatan untuk menjega terjadinya penularan virus covid-19, “jangan sampai pondok pesantren NU yang ada di Lamongan menjadi cluster baru penyebaran virus corona, maka protokol kesehatan wajib diterapkan disetiap pondok pesantren”. tambahnya
Dr. Syahrul Munir mewakili Syuriah PCNU Lamongan dalam sambutannya juga mengapresiasi dan menyambut baik acara diklat kesehatan untuk petugas satgas covid-19 di setiap pesantren NU Lamongan. “Acara demikian harus ada, meskipun tidak ada ulur tangan dari pemerintah kabupaten Lamongan. Sampai hari ini tidak ada program dari pemkab Lamongan tentang penangan covid-19 khusunya lagi di pondok pesantren”. Tuturnya



H. Abdulloh Adib Haad, selaku ketua PC RMI NU Lamongan menyampaikan bahwa pemkab Lamongan tidak memberikan bantuan apapun kepada pondok-pondok pesantren NU tentang penanganan Covid-19. “Kita sudah pernah kumpul bersama pemkab Lamongan hari senin, 5 Juni 2020 di pendopo Lamongan untuk membahas pencegahan covid-19 di pesantren. Disana saya menyampaikan tentang beberapa hal bantuan untuk pondok pesantren seperti bantuan disinfektan, vitamin, termogan yang disetujui dan oleh bupati akan segera diberikan kepesantren tentang hal tersebut, tapi sampai hari ini tidak ada bantuan dari pemkab Lamongan untuk pondok-pondok pesantren terutama pesantren NU”. imbuhnya.

Penulis: A. Hanif (Sekjen RMI NU Lamongan)

Bantuan Pemkab Lamongan Belum Menyentuh Pesantren, Satgas covid-19 NU Lamongan Buat Diklat Kesehatan Pesantren Mandiri



PACIRAN : Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Paciran, Kabupaten Lamongan pada tanggal 29 Juni s.d. 12 Juli 2020 menggelar verifikasi faktual (verfak) dukungan calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Lamongan jalur perseorangan. Petugas verifikator berasal dari unsur Panitia Pemungutan Suara (PPS) Se-Kecamatan Paciran.



Dalam menjalankan proses verifikasi faktual menemui warga selalu diawasi oleh personel Panwaslu Kelurahan/Desa (PKD) dan selalu berkoordinasi dengan Liaison Officer (LO) dari Cabup-Cawabup Independen dengan tetap menjaga protokol kesehatan di tengah Pandemi Covid-19.

Dari 17 jumlah desa / kelurahan yang ada di Kecamatan Paciran, terdapat  13   desa / kelurahan yang terdapat 1.348 data warga yang perlu diverifikasi dukungannya. Dari ketiga-belas desa/kelurahan itu terdapat desa yang paling banyak data warga yang perlu diverifikasi yang paling besar jumlahnya yaitu desa Sendangagung sejumlah 582 warga.

Dalam melalukan proses verfak itu para petugas / verifikator seringkali menemui beberapa kendala diantaranya karena mobilitas warga masyarakat di Kecamatan Paciran yang sangat tinggi, sehingga mereka seringkali sulit ditemui di kediamannya.

Sebagai contoh ada seorang petugas keamanan (satpam) di sebuah pabrik sarden ikan di desa Kandangsemangkon yang harus diverifikasi di tempat kerjanya. Dan ada juga kediaman warga yang tercatat sebagai pendukung Cabup-Cawabup yang rumahnya sudah rata dengan tanah, sehingga menyebabkan verifikator kesulitan mencari alamat yang bersangkutan.



Ketua PPK Paciran, H. Farihi ketika diwawancarai media ini menyampaikan, “Meski terkendala berbagai hambatan di lapangan, tapi kami tetap optimis dan semangat dengan tetap menjaga protokol kesehatan insya-Allah proses verfak di wilayah Kecamatan Paciran akan selesai dengan baik.” pungkasnya optimis. (Ried).

PPK PACIRAN GELAR VERIFIKASI FAKTUAL



PACIRAN : Siang hari (4/7) Mahrus Ali, Ketua KPUK Lamongan melakukan kunjungan ke Pantura Lamongan dalam rangka monitoring dan evaluasi tahapan Pilkada Serentak 2020 ke PPK Paciran.

Dalam kunjungannya itu, Mahrus Ali disambut oleh lima komisioner PPK Paciran yang dipimpin oleh H. Farihi dalam suasana yang akrab dan dalam nuansa kekeluargaan. Dalam pertemuan itu para komisioner PPK Paciran melaporkan tahapan verifikasi faktual dokumen dukungan warga Kecamatan Paciran untuk pasangan calon bupati dan wakil bupati Kabupaten Lamongan jalur perseorangan.

Mahrus Ali, Ketua KPUK Lamongan lalu memberikan arahan kepada para komisioner PPK Paciran agar proses verfak itu dikerjakan dengan profesional dan penuh integritas.

Meski proses verfak yang akan berlangsung selama 14 hari itu penuh kendala di lapangan. “Verifikator di lapangan harus tetap profesional dan menjaga integritasnya dalam proses verfak di desa/kelurahan” saran Mahrus Ali kepada para komisioner PPK Paciran.

Lebih lanjut, Mahrus Ali berpesan agar para komisioner PPK Paciran menjaga kekompakan, “Sinergitas dengan berbagai pihak demi suksesnya Pilkada Serentak 2020 Kabupaten Lamongan meski di tengah Pandemi Covid-19.

Kelima Komisioner PPK Paciran setelah mendengar pengarahan dari Ketua KPUK Lamongan lalu berkomitmen untuk bekerja giat demi suksesnya gawe politik di Lamongan dalam memilih pemimpin pada akhir tahun 2020. (Ried)

KETUA KPUK LAMONGAN MONEV KE PPK PACIRAN


PACIRAN : Dalam bulan Syawal 1441 H. Ponpes Tahfidzul Qur’an Karangsawo Paciran menggelar halal bihalal para simpatisan pesantren itu disertai dengan acara Haul Syaikhona Kholil Bangkalan ke-95 (1/6). Acara malam itu berlangsung di Masjid Jami’ Siti Aminah PPTQ Karangsawo Paciran berlangsung sederhana dan dalam protokol kesehatan karena pandemi Covid-19. Diawali jamaah sholat Isya’ lalu dilanjutkan dengan pembacaan Surat Yaasin dan Tahlil yang dipandu oleh Ust. Ahmad Fauzi, dilanjutkan dengan tausiyah oleh K. Minhajul Abidin selaku Pengasuh PPTQ Karangsawo Paciran.


Dalam tausiyahnya beliau menyampaikan kiprah Syaikhona Kholil Bangkalan dalam menyebarkan ajaran aswaja di Indonesia. Sebelumnya Saikhona Kholil berziarah ke makam Sunan Ampel Surabaya, secara ruhaniyah Sunan Ampel menyampaikan bahwa beliau mendapat amanah dari Rasulullah Muhammad SAW. untuk merawat ajaran ahlus sunnah wal jamaah (aswaja) di Indonesia. Semasa berguru, Syaikhona Kholil Bangkalan juga ada keanehan, yaitu beliau masih bisa berguru kepada ulama yang telah wafat, seperti berguru kepada Kyai Abu Dzarin dari Pasuruan, Jawa Timur. Sehingga beliau juga menerapkan metode pendidikan yang aneh (khoriqul adat) kepada para santrinya, misalnya dulu KH. Hasyim Asy’ari, Jombang saat berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan diperintahkan untuk memanjat pohon bambu setiap harinya, kelak di kemudian hari Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari mampu mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama dengan berjuta pengikut di Indonesia dan dunia. Ada juga sosok KH. Wahab Hasbullah, Jombang saat berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan diumumkan bahwa akan singa buas datang di pesantrennya, sehingga para santri Syaikhona Kholil Bangkalan yang saat itu diminta untuk mencarinya, ternyata tidak menemukan keberadaan singa di pesantren itu, tetapi hanya menjumpai remaja yang ingin ikut belajar agama, kelak di kemudian hari KH. Wahab Hasbullah menjadi sosok ‘singa podium’ yang disegani. Demikian juga sosok KH. Abu Amar Khotib, Pasuruan dulu juga pernah belajar di Syaikhona Kholil Bangkalan yang setiap harinya selalu diminta untuk berjemur di bawah sinar matahari, sehingga kelak mampu mendirikan pesantren yang kelak mampu menyinari umat islam. Ada juga sosok KH. Maksum Lasem dulu ketika belajar di Syaikhona Kholil Bangkalan diminta untuk memasuki kandang ayam. Kelak di kemudian hari KH. Maksum Lasem menjadi pendamai konflik tokoh dan ummat. Selain itu banyak pula tokoh yang dulu pernah belajar di Syaikhona Kholil Bangkalan seperti KH. As’ad Syamsul Arifin, Probolinggo, dan Habib Ali dari Bali yang fenomenal itu.


Di daerah Lamongan, dulu juga ada santri Syaikhona Kholil Bangkalan meskipun hanya pernah belajar selama dua tahun saja namun telah dianggap telah cukup dalam belajarnya, sehingga kelak KH. Musthofa, Kranji mampu mendirikan ponpes yang kini menjadi salah satu ponpes besar di Pantura Lamongan (Ponpes Tarbiyatut Tholabah Kranji, Paciran).


Masih dalam tausiyahnya, K. Minhajul Abidin yang kini juga sebagai Rois Syuriah PRNU Paciran juga mengkisahkan perjuannya ketika berguru selama 23 tahun di KH. Abu Amar Khotib, Pasuruan. Suatu malam beliau bermimpi pernah nyantri di Syaikhona Kholil Bangkalan, saat itu tiba-tiba bermimpi dipukul tongkat dan diludahi Syaikhona Kholil Bangkalan. Ketika terbangun dari tidurnya tiba-tiba beliau diberi kemampuan untuk menghapalkan puluhan teks doa. Beliau menyakini berkat karomah Syaikhona Kholil Bangkalan meski hanya melalui mimpi saja, tetapi beliau sekarang mampu mendirikan dan memimpin sebuah pesantren yang kini sedang berkembang cepat di Paciran, Lamongan (PPTQ Karangsawo Paciran).


K. Minhajul Abidin juga mengisahkan kekeramatan Syaikhona Kholil Bangkalan saat sedang mengajar para santrinya beliau lupa belum menuaikan sholat ashar. Beliau lantas memutuskan menyeberangi lautan dari Madura ke Mekkah karena beliau menyakini bahwa di Mekkah waktu sholat ashar belum habis. Sehingga beliau naik perahu dalam sekejab sudah sampai di kota Mekkah, Saudi Arabia.


Beliau juga menyampaikan penghormatan Syaikhona Kholil Bangkalan kepada keturunan (dzuriyah) Rasulullah Muhammad SAW. sangatlah besar. Pernah suatu hari Syaikhona Kholil Bangkalan sedang berceramah di depan masyarakat Madura, saat itu beliau melihat kehadiran seorang habib kecil, Syaikhona Kholil Bangkalan tiba-tiba melompat dari panggung ceramahnya karena menghormati kehadiran seorang habib kecil.


Diakhir tausiyahnya, K. Minhajul Abidin juga berdoa semoga wabah korona segera sirna dari muka bumi, sehingga kaum muslim bisa beribadah di masjid nusantara dan beribadah di masjidil haram dengan tenang. Acara malam itu, lalu diakhiri dengan tutupan doa oleh H. Mu’anam, sosok alim dan penuh kesabaran, dulu guru madrasah K. Minhajul Abidin. 

Kontributor / Journalis Citizen : Ahmad Faried

HALAL BIHALAL DAN HAUL SYAIKHONA KHOLIL BANGKALAN

Subscribe Our Newsletter