Budaya Nyulo, Yang Memudar Ditelan Hiburan Malam Kekinian - Kabar Paciran -->
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik






  Penulis: Ahmad Dhiyauddin

MUMPUNG BANYUNE SAT, AYO NYULO CAH?

Kelap-kelip bintang di Langit bersinar terang, tidak ada awan hitam yang menghalangi sinar Rembulan, langit yang cerah menandakan cuaca malam akan bersahabat tanpa curah hujan, Dan sungguh suatu kebetulan yang luar biasa, Air Laut surut pas malam hari.

Kami berencana untuk melakukan kegiatan luar ruangan di malam hari, khususnya di tepi pantai karang desa Paciran, aktifitas malam mecari Yuyu dan Goto di tepi pantai karang tersebut biasa kami namakan NYULO. Agenda ini kami laksanakan sebagai cara menghibur diri sekaligus bisa mengisi perut lapar pas jam makan malam, mungkin di antara kita masih ada yang melakukan kegiatan NYULO, atau setelah baca artikel ini malah kepengen Nyulo lagi. Monggo diagendakan meneer.



Nyulo sendiri adalah kegiatan mencari berbagai biota Laut di sela-sela atau di balik bahkan kadang ada yang di dalam batu karang. Biota Laut yang dicari seperti Ikan, Yuyu, Gotto, Kepiting, Rajungan, Udang dan binatang laut lainya, yang mana jika dirasa bisa dimakan atau bisa dibawah pulang. Namun tangkapan yang jadi idaman saat Nyulo adalah Yuyu, dan Gotto. Nyulo biasanya dilakukan di malam hari dengan beberapa kawan, alat Perlengkapanya juga sederhana, Tidak muluk-muluk seperti mau perang, juga tidak banyak makan biaya.

Dalam kebiasaan lama kami ada kode etik untuk berbagi tugas sebelum berangkat Nyulo, hal ini dilakukan agar setiap kawan yang ikut Nyulo punya peran dan tugas masing-masing. Ada yang bawa lampu Petromak (gasphon), Timba, Jiret (tali simpul longgar), Bentel (besi cor panjang yang dibengkokkan menyerupai Gancu), dan ada pula yang bawa Kaos Tangan (sarung tangan), buat melindunggi tangan ketika mau menangkap Yuyu atau Gotto.

Tradisi ini dilakukan sewaktu-waktu, artinya hanya kegiatan kondisional, tidak bisa direncanakan, mengingat saat malam hari dan air laut surut belum tentu semua kawan bisa ngumpul, begitupun sebaliknya saat kawan-kawan bisa kumpul belum tentu air laut surut pas malam hari.

Ketika banyak teman-teman yang kumpul dan Air Laut surut pada saat itulah biasanya kita nyulo. "Mumpung banyune Sat, ayo Nyulo cah?" Begitu Kata seorang kawan. Kalimat ini pasti akan muncul jika melihat situasi dan kondisi yang ideal. Tanpa butuh waktu lama kita akan berbagi tugas membawa perlengkapan masing-masing, lantas kita akan kumpul di salah satu tempat yang sebelumnya sudah disepakati bersama sebelum berangkat Nyulo.

Lokasi favorit biasanya di sebelah utaranya Makam Pendem desa Paciran, karena di situ dipercaya sebagai sarangnya Yuyu, Gotto dan binatang laut lainya, Meskipun medan Nyulo sangat ekstrem dan penuh dengan bebatuan karang yang tajam, serta sedikit berlumpur dan licin, pada kenyataannya bukan menjadi masalah bagi kami.



Batas waktu lama Nyulo sendiri tidak bisa ditentukan, semua itu tergantung dari hasil tangkapan, jika sudah dapat tangkapan yang banyak maka akan pulang, dan jika masih dapat tangkapan yang sedikit, perburuan akan terus dilakukan. Kecuali ada kendala teknik yang membatalkan Nyulo, yang mana kendala teknis tersebut tidak bisa diantisipasi.

Misalnya Kaos lampu Petromak pecah. Padahal lampu Petromak menjadi satu-satunya alat penerangan. Bila mengalami kejadian apes seperti ini memang sangat mengecewakan, apa hendak dikata bila dalam terang saja sukar mendapatkan buruan, apalagi dalam gelap. Sebab menangkap Biota laut itu butuh penerangan, tidak seperti membayangkan wajah Dian Sastro, walau dalam gelap sekalipun masih bisa dilakukan.

Beberapa hal yang paling menjengkelkan ketika Nyulo dan biasanya terjadi, seperti terpeleset hingga basah kuyup karena medanya yang licin, disupit Yuyu atau Gotto sampai berdarah-darah. Diperlihatkan wujud Gendruwu (iiiih sereeeem)

Akan tetapi seiring dengan berjalanya waktu tradisi Nyulo kini sudah mulai semakin ditinggalkan, mungkin karena kesibukkan masing-masing individu, atau bisa jadi kita lebih memilih hiburan malam yang lain dan mungkin saja habitat biota laut yang ada di batu karang seperti Yuyu, Gotto, Ikan, Kepiting, Rajungan, dan Udang itu sendiri yang semakin langka, beberapa tahun belakangan ini.

Bagaimana mau mencoba Nyulo lagi ?
Atau kamu yang belum pernah mencoba malah kepengen, karena penasaran.


Foto : Google


Budaya Nyulo, Yang Memudar Ditelan Hiburan Malam Kekinian







  Penulis: Ahmad Dhiyauddin

MUMPUNG BANYUNE SAT, AYO NYULO CAH?

Kelap-kelip bintang di Langit bersinar terang, tidak ada awan hitam yang menghalangi sinar Rembulan, langit yang cerah menandakan cuaca malam akan bersahabat tanpa curah hujan, Dan sungguh suatu kebetulan yang luar biasa, Air Laut surut pas malam hari.

Kami berencana untuk melakukan kegiatan luar ruangan di malam hari, khususnya di tepi pantai karang desa Paciran, aktifitas malam mecari Yuyu dan Goto di tepi pantai karang tersebut biasa kami namakan NYULO. Agenda ini kami laksanakan sebagai cara menghibur diri sekaligus bisa mengisi perut lapar pas jam makan malam, mungkin di antara kita masih ada yang melakukan kegiatan NYULO, atau setelah baca artikel ini malah kepengen Nyulo lagi. Monggo diagendakan meneer.



Nyulo sendiri adalah kegiatan mencari berbagai biota Laut di sela-sela atau di balik bahkan kadang ada yang di dalam batu karang. Biota Laut yang dicari seperti Ikan, Yuyu, Gotto, Kepiting, Rajungan, Udang dan binatang laut lainya, yang mana jika dirasa bisa dimakan atau bisa dibawah pulang. Namun tangkapan yang jadi idaman saat Nyulo adalah Yuyu, dan Gotto. Nyulo biasanya dilakukan di malam hari dengan beberapa kawan, alat Perlengkapanya juga sederhana, Tidak muluk-muluk seperti mau perang, juga tidak banyak makan biaya.

Dalam kebiasaan lama kami ada kode etik untuk berbagi tugas sebelum berangkat Nyulo, hal ini dilakukan agar setiap kawan yang ikut Nyulo punya peran dan tugas masing-masing. Ada yang bawa lampu Petromak (gasphon), Timba, Jiret (tali simpul longgar), Bentel (besi cor panjang yang dibengkokkan menyerupai Gancu), dan ada pula yang bawa Kaos Tangan (sarung tangan), buat melindunggi tangan ketika mau menangkap Yuyu atau Gotto.

Tradisi ini dilakukan sewaktu-waktu, artinya hanya kegiatan kondisional, tidak bisa direncanakan, mengingat saat malam hari dan air laut surut belum tentu semua kawan bisa ngumpul, begitupun sebaliknya saat kawan-kawan bisa kumpul belum tentu air laut surut pas malam hari.

Ketika banyak teman-teman yang kumpul dan Air Laut surut pada saat itulah biasanya kita nyulo. "Mumpung banyune Sat, ayo Nyulo cah?" Begitu Kata seorang kawan. Kalimat ini pasti akan muncul jika melihat situasi dan kondisi yang ideal. Tanpa butuh waktu lama kita akan berbagi tugas membawa perlengkapan masing-masing, lantas kita akan kumpul di salah satu tempat yang sebelumnya sudah disepakati bersama sebelum berangkat Nyulo.

Lokasi favorit biasanya di sebelah utaranya Makam Pendem desa Paciran, karena di situ dipercaya sebagai sarangnya Yuyu, Gotto dan binatang laut lainya, Meskipun medan Nyulo sangat ekstrem dan penuh dengan bebatuan karang yang tajam, serta sedikit berlumpur dan licin, pada kenyataannya bukan menjadi masalah bagi kami.



Batas waktu lama Nyulo sendiri tidak bisa ditentukan, semua itu tergantung dari hasil tangkapan, jika sudah dapat tangkapan yang banyak maka akan pulang, dan jika masih dapat tangkapan yang sedikit, perburuan akan terus dilakukan. Kecuali ada kendala teknik yang membatalkan Nyulo, yang mana kendala teknis tersebut tidak bisa diantisipasi.

Misalnya Kaos lampu Petromak pecah. Padahal lampu Petromak menjadi satu-satunya alat penerangan. Bila mengalami kejadian apes seperti ini memang sangat mengecewakan, apa hendak dikata bila dalam terang saja sukar mendapatkan buruan, apalagi dalam gelap. Sebab menangkap Biota laut itu butuh penerangan, tidak seperti membayangkan wajah Dian Sastro, walau dalam gelap sekalipun masih bisa dilakukan.

Beberapa hal yang paling menjengkelkan ketika Nyulo dan biasanya terjadi, seperti terpeleset hingga basah kuyup karena medanya yang licin, disupit Yuyu atau Gotto sampai berdarah-darah. Diperlihatkan wujud Gendruwu (iiiih sereeeem)

Akan tetapi seiring dengan berjalanya waktu tradisi Nyulo kini sudah mulai semakin ditinggalkan, mungkin karena kesibukkan masing-masing individu, atau bisa jadi kita lebih memilih hiburan malam yang lain dan mungkin saja habitat biota laut yang ada di batu karang seperti Yuyu, Gotto, Ikan, Kepiting, Rajungan, dan Udang itu sendiri yang semakin langka, beberapa tahun belakangan ini.

Bagaimana mau mencoba Nyulo lagi ?
Atau kamu yang belum pernah mencoba malah kepengen, karena penasaran.


Foto : Google


Load Comments

Subscribe Our Newsletter