Libur Hari Jumat - Kabar Paciran -->
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik


KABAR PACIRAN - Saya baru tahu kalau di Maladewa, akhir pekan jatuh pada Jumat dan Sabtu karena mereka jumatan. Ini mengingatkan pada kampung saya, kampung kecil di pantai utara Jawa, yang tentu saja tak seindah Maladewa.


Persamaannya, kami sama-sama libur di hari Jumat. Sekolah-sekolah Madrasah libur. Para nelayan, tukang kayu, dan tukang batu pun libur di hariJumat. Biasanya diisi dengan kerja bakti bersih-bersih jalan atau kuburan. Ada juga yang leha-leha melambatkan hari mendekatkan diri dengan anak-istri. Jika ada yang tetap bekerja di Hari Jumat, terasa ganjil. Bisa jadi diolok-olok pengen segera kaya.


Sebagian besar dari kami sekolah di madrasah, sehingga Jumat sebagai hari libur terasa istimewa. Di kampung saya waktu itu ada tiga pondok pesantren, Pondok Pesatren Mazraatul Ulum, Pondok Pesantren Modern, dan Pondok Pesantren Karangasem. Setiap Jumat, pengelola pondok pesatren itu mengizinkan para santri dan santriwati untuk melihat dunia luar setelah selama enam hari hanya boleh tinggal di asrama atau pergi sekolah yang masih sekompleks dengan asrama.



Para santriwati ini biasanya berbaris rapi memanjang hingga ratusan meter berjalan ke arah Tanjung Kodok untuk melihat laut nan elok. Kalau tidak, mereka beredar ke perkampungan mencari toko-toko kelontong untuk membeli kebutuhan mingguan atau alat tulis. Ada yang jalan kaki, sebagian naik becak. Dus, hari Jumat kampung kami berubah menjadi lautan jilbab.


Bagi saya, yang waktu itu lagi puber, itu pemandangan yang luar biasa. Saya biasanya bersama teman sebaya nongkrong di perempatan jalan tempat para santriwati ini melintas. Kami menikmati wajah-wajah indah, teduh, dan bercahaya. Wajah mereka unyu-unyu menggemaskan, meskipun sebagian datang dari kampung yang lebih kampung daripada kampung saya. Mungkin karena ilmu telah membuat wajah mereka sedemikian indah, teduh, dan bercahaya.


Jilbab mereka sungguh teduh. Sama sekali tidak ada hawa mengancam. Mereka juga sangat santun terhadap kami dan sesama.


Membaca tentang Maladewa, saya rindu kampungku, kampung lautan jilbab.


Penulis : M Hilmi Faiq
Sumber gambar : masjiwopogog.wordpress

Artikel ini terbit kali pertama di halaman kabar Paciran pada (07/05/2017)

Libur Hari Jumat



KABAR PACIRAN - Saya baru tahu kalau di Maladewa, akhir pekan jatuh pada Jumat dan Sabtu karena mereka jumatan. Ini mengingatkan pada kampung saya, kampung kecil di pantai utara Jawa, yang tentu saja tak seindah Maladewa.


Persamaannya, kami sama-sama libur di hari Jumat. Sekolah-sekolah Madrasah libur. Para nelayan, tukang kayu, dan tukang batu pun libur di hariJumat. Biasanya diisi dengan kerja bakti bersih-bersih jalan atau kuburan. Ada juga yang leha-leha melambatkan hari mendekatkan diri dengan anak-istri. Jika ada yang tetap bekerja di Hari Jumat, terasa ganjil. Bisa jadi diolok-olok pengen segera kaya.


Sebagian besar dari kami sekolah di madrasah, sehingga Jumat sebagai hari libur terasa istimewa. Di kampung saya waktu itu ada tiga pondok pesantren, Pondok Pesatren Mazraatul Ulum, Pondok Pesantren Modern, dan Pondok Pesantren Karangasem. Setiap Jumat, pengelola pondok pesatren itu mengizinkan para santri dan santriwati untuk melihat dunia luar setelah selama enam hari hanya boleh tinggal di asrama atau pergi sekolah yang masih sekompleks dengan asrama.



Para santriwati ini biasanya berbaris rapi memanjang hingga ratusan meter berjalan ke arah Tanjung Kodok untuk melihat laut nan elok. Kalau tidak, mereka beredar ke perkampungan mencari toko-toko kelontong untuk membeli kebutuhan mingguan atau alat tulis. Ada yang jalan kaki, sebagian naik becak. Dus, hari Jumat kampung kami berubah menjadi lautan jilbab.


Bagi saya, yang waktu itu lagi puber, itu pemandangan yang luar biasa. Saya biasanya bersama teman sebaya nongkrong di perempatan jalan tempat para santriwati ini melintas. Kami menikmati wajah-wajah indah, teduh, dan bercahaya. Wajah mereka unyu-unyu menggemaskan, meskipun sebagian datang dari kampung yang lebih kampung daripada kampung saya. Mungkin karena ilmu telah membuat wajah mereka sedemikian indah, teduh, dan bercahaya.


Jilbab mereka sungguh teduh. Sama sekali tidak ada hawa mengancam. Mereka juga sangat santun terhadap kami dan sesama.


Membaca tentang Maladewa, saya rindu kampungku, kampung lautan jilbab.


Penulis : M Hilmi Faiq
Sumber gambar : masjiwopogog.wordpress

Artikel ini terbit kali pertama di halaman kabar Paciran pada (07/05/2017)

Subscribe Our Newsletter