Menelusuri Jejak TKI Paciran di Negeri Jiran - Kabar Paciran -->
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik



KABAR PACIRAN – Iming-iming kerja dengan gaji yang besar di Malaysia telah lama menjadi daya tarik para Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Tak terkecuali para pekerja dari Desa Paciran. Ada yang untung tapi tak sedikit yang “buntung” alias tak membawa apa-apa. Meskipun begitu, para TKI semakin banyak saja yang datang mencari penghidupan yang lebih baik di negeri asal Upin-Ipin tersebut.
Syarat menjadi calon TKI di Malaysia sebenarnya mudah. Cukup punya Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga. Dengan syarat itu, seseorang sudah bisa mendaftar. Tapi jangan salah, itu hanya syarat awal saja. Syarat selanjutnya seperti biaya akomodasi dan dokument pengurusan izin seperti visa atau permit bisa mencapai puluhan juta. Untuk saat ini saja, bagi calon TKI resmi dengan tujuan ke Malaysia, paling tidak harus merogoh kocek sekitar Rp26 sampai Rp30 juta. Sedangkan yang tidak resmi (ilegal) cukup menyiapkan Rp5 juta.
Salah satu TKI asal Desa Paciran Zainal Abidin mengungkapkan, hampir semua keberangkatan para calon TKI yang sah maupun ilegal biasanya diurus oleh agen tunggal penyalur TKI di desa. ” Biasanya pendatang (TKI) sah diarahkan sama Haji Kartono (agen penyalur TKI di Paciran). Pendatang yang ilegal juga tetap diantar sama Haji Kartono sampai tujuan,” kata pria 37 tahun itu.
Berapa lama prosesnya? pria yang sudah 9 tahun di Malaysia itu menjelaskan, keberangkatan calon TKI biasanya paling cepat sekitar satu setengah bulan. Namun kadang bisa mundur karena belum rampungnya proses pengurusan perizinan dokumen. “Bisa juga mundur sampai dua bulan. Soalnya tergantung pihak migration dari Malaysia,” lanjutnya.






TKI yang datang secara sah atau tidak sah sebenarnya tidak menjamin aman dari razia pihak berwenang di sana. Karena selain sering merazia dan menangkap TKI ilegal, Polisi Diraja Malaysia juga kerap menangkap TKI yang datang secara sah. Biasanya penangkapan itu dilakukan saat TKI mengurus perpanjangan masa berlaku permit. Dari situlah pihak polisi Malaysia mencari celah untuk menangkap. “Kalau ketangkap dapat hukuman penjara tiga bulan,” beber Abidin.
Visa atau permit kerja TKI sendiri mempunyai masa aktif selama setahun. Jika sudah habis maka yang bersangkutan harus memperpanjang masa izin permit. Meski begitu, perpanjangan tidak serta-merta langsung jadi. Harus menunggu beberapa minggu sampai berbulan-bulan.
Tidak ada data pasti sejak kapan persisnya para TKI asal Paciran mulai merantau dan bekerja di Malaysia. Tapi dari penulusuran, awal dekade 1990-an sudah ada yang datang mengais rezeki ke negeri Jiran. Karena ongkos akomodasi yang mahal, tak jarang mereka tinggal di sana puluhan tahun. Bahkan sampai beristri dan beranak-pinak di Malaysia.
“Setahu saya di sini (red, Malaysia) ada orang Paciran namanya Ziyak yang tinggal di Malaysia sudah sekitar 21 tahun tanpa pulang. Kalau yang awal-awal datang mungkin salah satunya Man Ambiri. ada yang beristri dengan orang sini juga banyak. Cuma awak tak kenal siapa-siapanya,” kata Abidin yang saat ini tinggal di Chowkit, Kuala Lumpur.
Kurangnya data TKI asal Paciran, menurut Abidin, salah satunya disebabkan tidak adanya organisasi atau paguyuban TKI asal Paciran yang mewadahi. Padahal organisasi atau ikatan seperti itu sangat penting dan dibutuhkan TKI yang berasal dari Paciran. Meski belum ada data pasti dan resmi, ia memperkirakan setidaknya ada sekitar 350 sampai 500 TKI yang bekerja di Malaysia. Untuk itu sebagai TKI asal Paciran, ia berharap kelak ada organisasi atau paguyuban TKI yang mewadahi.
“Kalau ada paguyuban pasti enak. Soalnya bisa dibuat perbincangan (Red, tukar informasi) satu sama lain. Misalnya ada anak kemalangan (Red, kena musibah) bisa diurus dan dibantu secepatnya. Soalnya pekerja di Malaysia banyak yang jatuh dari bangunan,” kata pria yang suka mendengarkan OM Monata itu.
Lalu kenapa TKI asal Paciran tidak mulai mendirikan paguyuban? Tidak adanya inisiatif dan penggerak di antara sesama TKI asal Paciran membuat paguyuban TKI asal Paciran susah terlaksana. Jika ada, itu pun hanya terbatas pada kelompok atau grup tertentu saja. “Di Malaysia sebenarnya ada perkumpulan orang Paciran. Tapi khusus di area blok Banjar Kidul, Karang Asem. Nama grupnya IAKA. Mungkin singkatan dari ‘Ikatan Arek Karang Asem’. Pimpinane jengene Molan,” beber Abidin.
Di Malaysia, para TKI dari berbagai daerah tinggal bersama-sama mengontrak rumah semi permanen. Untuk biaya sewa para TKI dikenakan sekitar Ringgit Malaysia (RM) 100. dengan perbandingan kurs 1 Ringgit sekitar Rp 3 ribu. Beberapa daerah yang paling banyak ditempati orang Paciran sebut saja Chowkit, Kampung Pandan, Keramat, dan Subang Parade. Semua tempat tersebut masih termasuk dalam area sekitar Kuala Lumpur.
Sedangkan untuk pekerjaan, para TKI umumnya bekerja di sektor informal atau tenaga kasar sesuai dengan keahliannya. Seperti pengerjaan konstruksi bangunan atau sekedar memasang pipa maupun mengecat gedung. Untuk sistem kerja, biasanya dilakukan harian dengan bayaran perbulan. Dari gaji yang didapat, sebagian disisihkan untuk keluarganya. Tapi ada juga yang habis dibuat senang-senang. Tergantung masing-masing orangnya.
Di luar rutinitas kerja. Para TKI seringkali mengisi waktu dengan mencari hiburan mengusir kepenatan setelah bekerja. Namun hidup di perantauan dengan lingkungan bebas yang berbaur dengan berbagai ras dan bangsa kadangkala membuat pergaulan juga turut bablas tanpa kontrol. “Kasus perselingkuhan di sini juga banyak. Yang lagi viral di medsos sekarang Bangladesh versus Indonesia,” kata Abidin kepada Kabar Paciran.

Selain perselingkuhan, judi juga sangat marak. Terlebih di sekitar Kuala Lumpur terdapat kasino (tempat judi) Genting kelas internasional. Di kalangan TKI, ada banyak macam judi yang digandrungi. Tapi yang paling populer adalah judi roullete yang memakai komputer dan judi selikuran atau kartu remi. “Beberapa orang malah memakai uang hasil judi untuk dikirim buat tambahan uang ke rumah,” lanjutnya sambil terkekeh.
Sama seperti TKI dari berbagai daerah. TKI asal Paciran juga hampir sama dengan yang lainnya dalam mencari hiburan. Bagi yang TKI anak muda, kesempatan jauh dari kampung biasanya dilampiaskan dengan acara minum-minuman sampai mabuk. Ada yang senang berbelanja di mall. Dan ada juga mengusir kesepian dengan jalan-jalan ke taman Tasik Titiwangsa, Kuala Lumpur mencari amoy atau purel Cina.
Malaysia Nomor Satu Tujuan TKI
TKI di Malaysia dengan segala problem kehidupannya memang banyak menyedot perhatian pemerintah. Selain rentan terhadap kekerasan majikan, minimnya perlindungan dan tingginya tingkat kecelakaan saat kerja. Rupanya juga pengirim uang (remitasi) terbanyak di antara negara-negara lain. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mencatat ada Rp 57,61 triliun kiriman uang TKI ke keluarganya di Indonesia, terhitung Januari sampai Juni 2017.
Tingginya jumlah kiriman uang ke Indonesia sebenarnya tidak mengherankan. Karena Malaysia merupakan negara nomor satu menjadi tujuan TKI setelah Taiwan.Tercatat dari data tahun 2012, sudah ada sekitar 1,5 juta TKI yang bekerja di Malaysia. Dan angka itu terus melonjak drastis. Dari data Migrant Care saat ini diperkirakan sekitar 2,7 juta tenaga kerja asal Indonesia di Malaysia.
Penulis: Amir Baihaqi.
Foto : Istimewa

Menelusuri Jejak TKI Paciran di Negeri Jiran




KABAR PACIRAN – Iming-iming kerja dengan gaji yang besar di Malaysia telah lama menjadi daya tarik para Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Tak terkecuali para pekerja dari Desa Paciran. Ada yang untung tapi tak sedikit yang “buntung” alias tak membawa apa-apa. Meskipun begitu, para TKI semakin banyak saja yang datang mencari penghidupan yang lebih baik di negeri asal Upin-Ipin tersebut.
Syarat menjadi calon TKI di Malaysia sebenarnya mudah. Cukup punya Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga. Dengan syarat itu, seseorang sudah bisa mendaftar. Tapi jangan salah, itu hanya syarat awal saja. Syarat selanjutnya seperti biaya akomodasi dan dokument pengurusan izin seperti visa atau permit bisa mencapai puluhan juta. Untuk saat ini saja, bagi calon TKI resmi dengan tujuan ke Malaysia, paling tidak harus merogoh kocek sekitar Rp26 sampai Rp30 juta. Sedangkan yang tidak resmi (ilegal) cukup menyiapkan Rp5 juta.
Salah satu TKI asal Desa Paciran Zainal Abidin mengungkapkan, hampir semua keberangkatan para calon TKI yang sah maupun ilegal biasanya diurus oleh agen tunggal penyalur TKI di desa. ” Biasanya pendatang (TKI) sah diarahkan sama Haji Kartono (agen penyalur TKI di Paciran). Pendatang yang ilegal juga tetap diantar sama Haji Kartono sampai tujuan,” kata pria 37 tahun itu.
Berapa lama prosesnya? pria yang sudah 9 tahun di Malaysia itu menjelaskan, keberangkatan calon TKI biasanya paling cepat sekitar satu setengah bulan. Namun kadang bisa mundur karena belum rampungnya proses pengurusan perizinan dokumen. “Bisa juga mundur sampai dua bulan. Soalnya tergantung pihak migration dari Malaysia,” lanjutnya.






TKI yang datang secara sah atau tidak sah sebenarnya tidak menjamin aman dari razia pihak berwenang di sana. Karena selain sering merazia dan menangkap TKI ilegal, Polisi Diraja Malaysia juga kerap menangkap TKI yang datang secara sah. Biasanya penangkapan itu dilakukan saat TKI mengurus perpanjangan masa berlaku permit. Dari situlah pihak polisi Malaysia mencari celah untuk menangkap. “Kalau ketangkap dapat hukuman penjara tiga bulan,” beber Abidin.
Visa atau permit kerja TKI sendiri mempunyai masa aktif selama setahun. Jika sudah habis maka yang bersangkutan harus memperpanjang masa izin permit. Meski begitu, perpanjangan tidak serta-merta langsung jadi. Harus menunggu beberapa minggu sampai berbulan-bulan.
Tidak ada data pasti sejak kapan persisnya para TKI asal Paciran mulai merantau dan bekerja di Malaysia. Tapi dari penulusuran, awal dekade 1990-an sudah ada yang datang mengais rezeki ke negeri Jiran. Karena ongkos akomodasi yang mahal, tak jarang mereka tinggal di sana puluhan tahun. Bahkan sampai beristri dan beranak-pinak di Malaysia.
“Setahu saya di sini (red, Malaysia) ada orang Paciran namanya Ziyak yang tinggal di Malaysia sudah sekitar 21 tahun tanpa pulang. Kalau yang awal-awal datang mungkin salah satunya Man Ambiri. ada yang beristri dengan orang sini juga banyak. Cuma awak tak kenal siapa-siapanya,” kata Abidin yang saat ini tinggal di Chowkit, Kuala Lumpur.
Kurangnya data TKI asal Paciran, menurut Abidin, salah satunya disebabkan tidak adanya organisasi atau paguyuban TKI asal Paciran yang mewadahi. Padahal organisasi atau ikatan seperti itu sangat penting dan dibutuhkan TKI yang berasal dari Paciran. Meski belum ada data pasti dan resmi, ia memperkirakan setidaknya ada sekitar 350 sampai 500 TKI yang bekerja di Malaysia. Untuk itu sebagai TKI asal Paciran, ia berharap kelak ada organisasi atau paguyuban TKI yang mewadahi.
“Kalau ada paguyuban pasti enak. Soalnya bisa dibuat perbincangan (Red, tukar informasi) satu sama lain. Misalnya ada anak kemalangan (Red, kena musibah) bisa diurus dan dibantu secepatnya. Soalnya pekerja di Malaysia banyak yang jatuh dari bangunan,” kata pria yang suka mendengarkan OM Monata itu.
Lalu kenapa TKI asal Paciran tidak mulai mendirikan paguyuban? Tidak adanya inisiatif dan penggerak di antara sesama TKI asal Paciran membuat paguyuban TKI asal Paciran susah terlaksana. Jika ada, itu pun hanya terbatas pada kelompok atau grup tertentu saja. “Di Malaysia sebenarnya ada perkumpulan orang Paciran. Tapi khusus di area blok Banjar Kidul, Karang Asem. Nama grupnya IAKA. Mungkin singkatan dari ‘Ikatan Arek Karang Asem’. Pimpinane jengene Molan,” beber Abidin.
Di Malaysia, para TKI dari berbagai daerah tinggal bersama-sama mengontrak rumah semi permanen. Untuk biaya sewa para TKI dikenakan sekitar Ringgit Malaysia (RM) 100. dengan perbandingan kurs 1 Ringgit sekitar Rp 3 ribu. Beberapa daerah yang paling banyak ditempati orang Paciran sebut saja Chowkit, Kampung Pandan, Keramat, dan Subang Parade. Semua tempat tersebut masih termasuk dalam area sekitar Kuala Lumpur.
Sedangkan untuk pekerjaan, para TKI umumnya bekerja di sektor informal atau tenaga kasar sesuai dengan keahliannya. Seperti pengerjaan konstruksi bangunan atau sekedar memasang pipa maupun mengecat gedung. Untuk sistem kerja, biasanya dilakukan harian dengan bayaran perbulan. Dari gaji yang didapat, sebagian disisihkan untuk keluarganya. Tapi ada juga yang habis dibuat senang-senang. Tergantung masing-masing orangnya.
Di luar rutinitas kerja. Para TKI seringkali mengisi waktu dengan mencari hiburan mengusir kepenatan setelah bekerja. Namun hidup di perantauan dengan lingkungan bebas yang berbaur dengan berbagai ras dan bangsa kadangkala membuat pergaulan juga turut bablas tanpa kontrol. “Kasus perselingkuhan di sini juga banyak. Yang lagi viral di medsos sekarang Bangladesh versus Indonesia,” kata Abidin kepada Kabar Paciran.

Selain perselingkuhan, judi juga sangat marak. Terlebih di sekitar Kuala Lumpur terdapat kasino (tempat judi) Genting kelas internasional. Di kalangan TKI, ada banyak macam judi yang digandrungi. Tapi yang paling populer adalah judi roullete yang memakai komputer dan judi selikuran atau kartu remi. “Beberapa orang malah memakai uang hasil judi untuk dikirim buat tambahan uang ke rumah,” lanjutnya sambil terkekeh.
Sama seperti TKI dari berbagai daerah. TKI asal Paciran juga hampir sama dengan yang lainnya dalam mencari hiburan. Bagi yang TKI anak muda, kesempatan jauh dari kampung biasanya dilampiaskan dengan acara minum-minuman sampai mabuk. Ada yang senang berbelanja di mall. Dan ada juga mengusir kesepian dengan jalan-jalan ke taman Tasik Titiwangsa, Kuala Lumpur mencari amoy atau purel Cina.
Malaysia Nomor Satu Tujuan TKI
TKI di Malaysia dengan segala problem kehidupannya memang banyak menyedot perhatian pemerintah. Selain rentan terhadap kekerasan majikan, minimnya perlindungan dan tingginya tingkat kecelakaan saat kerja. Rupanya juga pengirim uang (remitasi) terbanyak di antara negara-negara lain. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mencatat ada Rp 57,61 triliun kiriman uang TKI ke keluarganya di Indonesia, terhitung Januari sampai Juni 2017.
Tingginya jumlah kiriman uang ke Indonesia sebenarnya tidak mengherankan. Karena Malaysia merupakan negara nomor satu menjadi tujuan TKI setelah Taiwan.Tercatat dari data tahun 2012, sudah ada sekitar 1,5 juta TKI yang bekerja di Malaysia. Dan angka itu terus melonjak drastis. Dari data Migrant Care saat ini diperkirakan sekitar 2,7 juta tenaga kerja asal Indonesia di Malaysia.
Penulis: Amir Baihaqi.
Foto : Istimewa
Load Comments

Subscribe Our Newsletter