Menengok Lika-liku Perajin Wuwu - Kabar Paciran -->
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik





KABAR PACIRAN – Tidak semua nelayan punya keahlian membuat wuwu. Karena merangkainya butuh keahlian serta bahan khusus pula. Para nelayan pencari rajungan (miyang wuwu, red) di Paciran, biasanya membeli atau memesannya terlebih dulu dari para perajin alat yang sepintas mirip perangkap tikus itu.



Bahan baku membuat wuwu sebenarnya hanya ada dua macam, yakni kawat dan rabuk (jaring, red). Sebelum dibentuk menjadi kerangka wuwu, glondongan (roll) kawat dipotong sesuai panjang ukuran yang diinginkan. Setelah dipotong, kawat-kawat tersebut kemudian dibengkokan sampai membentuk persegi panjang. Alat pembengkoknya sendiri merupakan hasil modifikasi besi-besi kecil yang ditancapkan di kayu.



Sedankan untuk ukuran wuwu, umumnya panjang sekitar 40 cm, lebar 27 cm, dan tinggi 15 cm. Setelah terbentuk, kerangka-kerangka wuwu dikumpulkan dalam satu tumpukan. Sebagian langsung dipasang rabuk atau jaring-jaring yang terbuat dari karet di dinding masing-masing sisinya. Sebagian lagi dibiarkan hanya berbentuk kerangka.
Salah satu pembuat wuwu Arief Irwanto mengatakan, untuk membuat satu wuwu biasanya hanya dibutuhkan sekitar 10 menit. Untuk bahan kawatnya, harus beli grosir yang didatangkan dari Surabaya. Karena bahan tersebut memang tidak dijual di toko-toko desa setempat. “Nama merk kawatnya Santex. Tahan teyeng (karatan) sampai tiga tahun. Satu glondong harganya Rp 980 ribu,” kata pria yang sering disapa Wanto itu.





Wanto melanjutkan, satu buah glondong kawat bisa dijadikan sekitar 170 buah kerangka wuwu. Sedang untuk harga satuannya komplit dengan jaring rabuk umumnya dipatok Rp 15 ribu. “Kalau beli kerangkanya saja tanpa rabuk sekitar Rp 8 ribu,” lanjut pria yang juga penggemar klub bola Serie A Italia, Inter Milan itu.
Harga wuwu perbuahnya sendiri tidak bisa stabil. Kadang naik kadang tidak. Hal itu dipengaruhi permintaan dan harga bahan utama kawatnya. Jika harga kawat naik, dipastikan harga wuwu juga terimbas ikut naik. Sedangkan untuk pembelian wuwu tidak ada waktu tertentu kapan ramai atau sepinya. Karena selalu ada saja nelayan wuwu yang datang membeli. Kecuali saat musim baratan seperti tempo hari.



Selain menjual sendiri wuwu yang dibuatnya, ia juga kadang menerima pesanan membuat wuwu. Pesanan itu kadang bisa datang dari nelayan perorangan atau pengepul wuwu yang dijual lagi ke nelayan. Saat ini saja, ia mengaku lebih banyak menerima pemesanan wuwu dari pengepul.
Saat ditanya di mana ia belajar membuat wuwu? ia mengaku belajar dari Idin Kojek dan Ainur Monce yang juga perajin wuwu. Di Paciran sendiri saat ini sudah banyak perajin wuwu. Sehingga para nelayan punya banyak pilihan untuk membeli wuwu sesuai seleranya. “Kalau dulu pelanggan wuwu saya lumayan banyak. Karena masih agak jarang yang buat. Tapi sekarang sudah agak sepi, karena sudah banyak perajin dan penjual wuwu,” ungkapnya.
Meskipun saingan perajin atau penjual wuwu banyak, para perajin atau penjual wuwu tetap guyub-rukun saja. Bahkan mereka kadang saling tukar informasi mengenai bahan baku atau saling rembuk menyepakati standar harga wuwu bersama.
Dalam membuat wuwu, sebenarnya Wanto tidak bekerja sendirian. Tapi sehari-hari dibantu juga oleh adiknya Habib yang juga bekerja sebagai nelayan. “Yo nek aku teko miyang langsung melu garap. Tapi nek acak (Wanto,red) yo wis mulai kawit isuk. Pokok’e sedino iku wis dipastikno mari 100 wuwu,” kata Habib. (MIR)
Foto: Facebook.

Menengok Lika-liku Perajin Wuwu






KABAR PACIRAN – Tidak semua nelayan punya keahlian membuat wuwu. Karena merangkainya butuh keahlian serta bahan khusus pula. Para nelayan pencari rajungan (miyang wuwu, red) di Paciran, biasanya membeli atau memesannya terlebih dulu dari para perajin alat yang sepintas mirip perangkap tikus itu.



Bahan baku membuat wuwu sebenarnya hanya ada dua macam, yakni kawat dan rabuk (jaring, red). Sebelum dibentuk menjadi kerangka wuwu, glondongan (roll) kawat dipotong sesuai panjang ukuran yang diinginkan. Setelah dipotong, kawat-kawat tersebut kemudian dibengkokan sampai membentuk persegi panjang. Alat pembengkoknya sendiri merupakan hasil modifikasi besi-besi kecil yang ditancapkan di kayu.



Sedankan untuk ukuran wuwu, umumnya panjang sekitar 40 cm, lebar 27 cm, dan tinggi 15 cm. Setelah terbentuk, kerangka-kerangka wuwu dikumpulkan dalam satu tumpukan. Sebagian langsung dipasang rabuk atau jaring-jaring yang terbuat dari karet di dinding masing-masing sisinya. Sebagian lagi dibiarkan hanya berbentuk kerangka.
Salah satu pembuat wuwu Arief Irwanto mengatakan, untuk membuat satu wuwu biasanya hanya dibutuhkan sekitar 10 menit. Untuk bahan kawatnya, harus beli grosir yang didatangkan dari Surabaya. Karena bahan tersebut memang tidak dijual di toko-toko desa setempat. “Nama merk kawatnya Santex. Tahan teyeng (karatan) sampai tiga tahun. Satu glondong harganya Rp 980 ribu,” kata pria yang sering disapa Wanto itu.





Wanto melanjutkan, satu buah glondong kawat bisa dijadikan sekitar 170 buah kerangka wuwu. Sedang untuk harga satuannya komplit dengan jaring rabuk umumnya dipatok Rp 15 ribu. “Kalau beli kerangkanya saja tanpa rabuk sekitar Rp 8 ribu,” lanjut pria yang juga penggemar klub bola Serie A Italia, Inter Milan itu.
Harga wuwu perbuahnya sendiri tidak bisa stabil. Kadang naik kadang tidak. Hal itu dipengaruhi permintaan dan harga bahan utama kawatnya. Jika harga kawat naik, dipastikan harga wuwu juga terimbas ikut naik. Sedangkan untuk pembelian wuwu tidak ada waktu tertentu kapan ramai atau sepinya. Karena selalu ada saja nelayan wuwu yang datang membeli. Kecuali saat musim baratan seperti tempo hari.



Selain menjual sendiri wuwu yang dibuatnya, ia juga kadang menerima pesanan membuat wuwu. Pesanan itu kadang bisa datang dari nelayan perorangan atau pengepul wuwu yang dijual lagi ke nelayan. Saat ini saja, ia mengaku lebih banyak menerima pemesanan wuwu dari pengepul.
Saat ditanya di mana ia belajar membuat wuwu? ia mengaku belajar dari Idin Kojek dan Ainur Monce yang juga perajin wuwu. Di Paciran sendiri saat ini sudah banyak perajin wuwu. Sehingga para nelayan punya banyak pilihan untuk membeli wuwu sesuai seleranya. “Kalau dulu pelanggan wuwu saya lumayan banyak. Karena masih agak jarang yang buat. Tapi sekarang sudah agak sepi, karena sudah banyak perajin dan penjual wuwu,” ungkapnya.
Meskipun saingan perajin atau penjual wuwu banyak, para perajin atau penjual wuwu tetap guyub-rukun saja. Bahkan mereka kadang saling tukar informasi mengenai bahan baku atau saling rembuk menyepakati standar harga wuwu bersama.
Dalam membuat wuwu, sebenarnya Wanto tidak bekerja sendirian. Tapi sehari-hari dibantu juga oleh adiknya Habib yang juga bekerja sebagai nelayan. “Yo nek aku teko miyang langsung melu garap. Tapi nek acak (Wanto,red) yo wis mulai kawit isuk. Pokok’e sedino iku wis dipastikno mari 100 wuwu,” kata Habib. (MIR)
Foto: Facebook.
Load Comments

Subscribe Our Newsletter