Mengerem Kecanduan Gawai - Kabar Paciran
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik
Penulis : M Hilmi Faiq
KABAR PACIRAN – Mungkin bukan hanya kami yang khawatir dengan anak-anak yang semakin gandrung dengan gawai. Anak-anak kami memang belum sampai kecanduan, tetapi mereka semakin sulit untuk jauh dari gawai. Biasanya menonton youtube atau video-video permainan.
Kami mencoba mengalihkankannya dengan kegiatan positif secara perlahan. Si sulung, Hiro(8 tahun 10 bulan), kami beri stimulasi membaca. Dia boleh main hape selama 15 menit sampai 30 menit setelah membaca satu bab novel “Lima Menara“. Hasilnya, dalam dua pekan lebih tiga hari, novel hampir habis dibaca. Sekarang dia mulai senang membaca karena cerita di dalam novel itu menarik.
Itu memang tujuan kami. Membiarkan anak berdialog dengan buku biar dia tahu bahwa banyak hal lebih mengasyikan daripada gawai. Biar dia juga paham tentang banyak hal di luar dirinya.
Untuk di bungsu, Flo (5 tahun 3 bulan), yang belum bisa membaca, dan kami tidak memaksakan untuk bisa membaca, kami beri stimulasi lain: melukis. Pekan lalu saya beli kanvas 1,5 meter x 3 meter. Saya potong menjadi beberapa bagian lalu membiarkan di bungsu mewarnai apa saja.
Kami tak begitu peduli dengan hasilnya, yang penting dia menemukan keasyikan yang lebih berarti daripada main hape. Meskipun, gagasan obyek yang dia lukis bisa jadi terinspirasi dari gawai.
Berikut ini cuplikan video saat di bungsu meminta ditemani melukis. Saya membantu menggelar kanvas dan menuang cat. Si bungsu yang bebas menorehkan cat.
Doakan kami dapat mendidik mereka dengan benar dan tepat. Bisa menghindari jebakan teknologi yang bermata ganda ini.
Pemutar Video
00:16
00:33

Kami melihat, tidak mungkin memisahkan sama sekali anak dari gawai karena mereka adalah generasi Alpha, yang lahir dan tumbuh bersama gawai. Mengasingkan mereka dari gawai sama dengan merusak ekosistemnya, mengganggu stabilitas akar dan kognisinya. Anak bisa menjadi orang asing ketika bergaul di luar karena sama sekali tidak kenal gawai. Maka yang perlu kami lakukan adalah membatasinya dalam takaran dan pas.
Takaran pas yang kami maksud adalah, anak bisa mengambil inspirasi atau pelajaran-pelajaran tertentu yang positif gawai, tetapi tidak sampai kecanduan. Dia bisa dengan fleksibel beralih ke permainan lain sewaktu-waktu. Gawai memang melenakan, orang tua bisa tenang beraktivitas tanpa diganggu anak ketika mereka sudah dikasih gawai. Akan tetapi justru di situ bahayanya karena anak lepas kontrol. Mari berhati-hati mendidik anak.

Mengerem Kecanduan Gawai

Penulis : M Hilmi Faiq
KABAR PACIRAN – Mungkin bukan hanya kami yang khawatir dengan anak-anak yang semakin gandrung dengan gawai. Anak-anak kami memang belum sampai kecanduan, tetapi mereka semakin sulit untuk jauh dari gawai. Biasanya menonton youtube atau video-video permainan.
Kami mencoba mengalihkankannya dengan kegiatan positif secara perlahan. Si sulung, Hiro(8 tahun 10 bulan), kami beri stimulasi membaca. Dia boleh main hape selama 15 menit sampai 30 menit setelah membaca satu bab novel “Lima Menara“. Hasilnya, dalam dua pekan lebih tiga hari, novel hampir habis dibaca. Sekarang dia mulai senang membaca karena cerita di dalam novel itu menarik.
Itu memang tujuan kami. Membiarkan anak berdialog dengan buku biar dia tahu bahwa banyak hal lebih mengasyikan daripada gawai. Biar dia juga paham tentang banyak hal di luar dirinya.
Untuk di bungsu, Flo (5 tahun 3 bulan), yang belum bisa membaca, dan kami tidak memaksakan untuk bisa membaca, kami beri stimulasi lain: melukis. Pekan lalu saya beli kanvas 1,5 meter x 3 meter. Saya potong menjadi beberapa bagian lalu membiarkan di bungsu mewarnai apa saja.
Kami tak begitu peduli dengan hasilnya, yang penting dia menemukan keasyikan yang lebih berarti daripada main hape. Meskipun, gagasan obyek yang dia lukis bisa jadi terinspirasi dari gawai.
Berikut ini cuplikan video saat di bungsu meminta ditemani melukis. Saya membantu menggelar kanvas dan menuang cat. Si bungsu yang bebas menorehkan cat.
Doakan kami dapat mendidik mereka dengan benar dan tepat. Bisa menghindari jebakan teknologi yang bermata ganda ini.
Pemutar Video
00:16
00:33

Kami melihat, tidak mungkin memisahkan sama sekali anak dari gawai karena mereka adalah generasi Alpha, yang lahir dan tumbuh bersama gawai. Mengasingkan mereka dari gawai sama dengan merusak ekosistemnya, mengganggu stabilitas akar dan kognisinya. Anak bisa menjadi orang asing ketika bergaul di luar karena sama sekali tidak kenal gawai. Maka yang perlu kami lakukan adalah membatasinya dalam takaran dan pas.
Takaran pas yang kami maksud adalah, anak bisa mengambil inspirasi atau pelajaran-pelajaran tertentu yang positif gawai, tetapi tidak sampai kecanduan. Dia bisa dengan fleksibel beralih ke permainan lain sewaktu-waktu. Gawai memang melenakan, orang tua bisa tenang beraktivitas tanpa diganggu anak ketika mereka sudah dikasih gawai. Akan tetapi justru di situ bahayanya karena anak lepas kontrol. Mari berhati-hati mendidik anak.
Load Comments

Subscribe Our Newsletter