Mengenal Istilah "Ngombang" di Pesisir Paciran - Kabar Paciran -->
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik



Ora sido sat, ojo pok Ngombang, tik gode banyu kuwe, paling engko lak banyune wes warek, terus gak sido sat.” kelakar Paemo.


KABAR PACIRAN – Semilir angin membelai genit bendara sang saka merah putih di tiap tiang Jaten, (sebutan perahu lokal). Bendera berkibar anggun melambai-lambai di temaram gelap malam. Waktu pada layar gawai menunjukkan pukul 22.11 WIB. Gelombang air laut tenang menentramkan, debur ombak pantai gemericik memercikkan suara alam yang melenakan jiwa-jiwa yang mendengarnya. Kelap-kelip lampu di buritan Jaten menyala dengan warna-warni yang memukau, cahaya gemerlap lampu yang berganti-ganti warna, seperti mengajak mata yang memandang untuk bergoyang disko. joget dangdut koplo yo ora po-po




Ketinggian air laut mulai berkurang di bibir pantai, raut wajah para nelayan tampak gusar. Hal itu dikarenakan kecepatan surut air laut lebih cepat dari  yang diperkirakan nelayan pada umumnya. Malam ini nampak satu-dua nelayan terlihat siaga di salah satu gubuk babakan. Langkah kaki para nelayan sibuk memastikan Jaten atau Perahunya tidak kandas karena surutnya air laut. Di tempat lain, terlihatlah di kejauhan, sudah ada nelayan yang Ngombang Jatennya.


Ngombang Jaten adalah aktifitas memindahkan perahu atau menambatkan perahu ke suatu tempat dimana ketinggian air laut masih dalam. Dengan kata lain nelayan melakukan aktivitas perpindahan itu agar Jaten atau Perahu tidak kandas, sehingga Jaten atau Perahu masih bisa digunakan untuk menangkap ikan atau Rajungan di laut, setelah lebih dulu Ngombang perahu dilakukan.

Ketika laporan ini ditulis, salah satu nelayan Paciran. Paemo namanya sudah balik ke darat setelah selesai Ngombang Jaten. “Ora sido sat, ojo pok Ngombang, tik gode banyu kuwe, paling engko lak banyune wes warek, terus gak sido sat.” kelakar Paemo, pada kawan nelayan lainnya yang hendak Ngombang juga.

Sementara itu Abidin salah satu nelayan desa Paciran, malam ini sudah mau beranjak tidur, karena nanti pukul 24.00 WIB sudah harus pergi melaut. Saat dikonfirmasi oleh tim redaksi Kabar Paciran, kenapa tidak Ngombang malam ini, dia menjawab dengan enteng. “Engko langsung budal jam 12 bengi, saiki tak turu sek, lumayan turu 2 jam. engko nek budal jam setengah siji, iso gak koman banyu.” ujar Pria yang akrab disapa Kaji Lawon ini.

Surut air laut di desa Paciran. (14/03/2018) malam ini diprediksi akan terjadi pada pukul 22.30 WIB. Begitu perkiraan yang terucap oleh salah satu nelayan. “Sekarang nelayan Paciran banyak yang macak jadi hantu, karena harus ngombang perahu lebih awal.” kata Fathul, nelayan Paciran yang biasanya lebih suka nangkap Keong.



Walaupun begitu dalam beberapa hari ini dia kembali ke khitahnya dengan menjadi nelayan Rajungan. “Tangkapan Keong dalam beberapa hari ini sepi, terakhir nangkap keong hanya dapat 2 kg, sekarang balik miyang Supit (baca: Rajungan) lagi.” beber lelaki yang akrab disapa Najuk ini.

Tepat pada pukul 22.45 WIB. kedua nelayan ini sudah melayang ke alam mimpi, menjemput harapan agar bisa bangun sesuai dengan bunyi alarm. Selamat tidur kawan, semoga mimpi ketemu ikan duyung yang cantik. (Ar)





Mengenal Istilah "Ngombang" di Pesisir Paciran




Ora sido sat, ojo pok Ngombang, tik gode banyu kuwe, paling engko lak banyune wes warek, terus gak sido sat.” kelakar Paemo.


KABAR PACIRAN – Semilir angin membelai genit bendara sang saka merah putih di tiap tiang Jaten, (sebutan perahu lokal). Bendera berkibar anggun melambai-lambai di temaram gelap malam. Waktu pada layar gawai menunjukkan pukul 22.11 WIB. Gelombang air laut tenang menentramkan, debur ombak pantai gemericik memercikkan suara alam yang melenakan jiwa-jiwa yang mendengarnya. Kelap-kelip lampu di buritan Jaten menyala dengan warna-warni yang memukau, cahaya gemerlap lampu yang berganti-ganti warna, seperti mengajak mata yang memandang untuk bergoyang disko. joget dangdut koplo yo ora po-po




Ketinggian air laut mulai berkurang di bibir pantai, raut wajah para nelayan tampak gusar. Hal itu dikarenakan kecepatan surut air laut lebih cepat dari  yang diperkirakan nelayan pada umumnya. Malam ini nampak satu-dua nelayan terlihat siaga di salah satu gubuk babakan. Langkah kaki para nelayan sibuk memastikan Jaten atau Perahunya tidak kandas karena surutnya air laut. Di tempat lain, terlihatlah di kejauhan, sudah ada nelayan yang Ngombang Jatennya.


Ngombang Jaten adalah aktifitas memindahkan perahu atau menambatkan perahu ke suatu tempat dimana ketinggian air laut masih dalam. Dengan kata lain nelayan melakukan aktivitas perpindahan itu agar Jaten atau Perahu tidak kandas, sehingga Jaten atau Perahu masih bisa digunakan untuk menangkap ikan atau Rajungan di laut, setelah lebih dulu Ngombang perahu dilakukan.

Ketika laporan ini ditulis, salah satu nelayan Paciran. Paemo namanya sudah balik ke darat setelah selesai Ngombang Jaten. “Ora sido sat, ojo pok Ngombang, tik gode banyu kuwe, paling engko lak banyune wes warek, terus gak sido sat.” kelakar Paemo, pada kawan nelayan lainnya yang hendak Ngombang juga.

Sementara itu Abidin salah satu nelayan desa Paciran, malam ini sudah mau beranjak tidur, karena nanti pukul 24.00 WIB sudah harus pergi melaut. Saat dikonfirmasi oleh tim redaksi Kabar Paciran, kenapa tidak Ngombang malam ini, dia menjawab dengan enteng. “Engko langsung budal jam 12 bengi, saiki tak turu sek, lumayan turu 2 jam. engko nek budal jam setengah siji, iso gak koman banyu.” ujar Pria yang akrab disapa Kaji Lawon ini.

Surut air laut di desa Paciran. (14/03/2018) malam ini diprediksi akan terjadi pada pukul 22.30 WIB. Begitu perkiraan yang terucap oleh salah satu nelayan. “Sekarang nelayan Paciran banyak yang macak jadi hantu, karena harus ngombang perahu lebih awal.” kata Fathul, nelayan Paciran yang biasanya lebih suka nangkap Keong.



Walaupun begitu dalam beberapa hari ini dia kembali ke khitahnya dengan menjadi nelayan Rajungan. “Tangkapan Keong dalam beberapa hari ini sepi, terakhir nangkap keong hanya dapat 2 kg, sekarang balik miyang Supit (baca: Rajungan) lagi.” beber lelaki yang akrab disapa Najuk ini.

Tepat pada pukul 22.45 WIB. kedua nelayan ini sudah melayang ke alam mimpi, menjemput harapan agar bisa bangun sesuai dengan bunyi alarm. Selamat tidur kawan, semoga mimpi ketemu ikan duyung yang cantik. (Ar)





Load Comments

Subscribe Our Newsletter