Tabayyun Gelap Terang TKI di Negeri Seberang - Kabar Paciran -->
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik
KABAR PACIRAN – Berita “Menelusuri Jejak TKI Paciran di Negeri Jiran” cukup menyita perhatian. Berbagai reaksi dari pembaca juga beragam. Ada yang terkejut dengan tingginya ongkos ke negeri seberang Malaysia, ada yang sudah paham dengan jejak kehidupannya, tapi ada juga yang memprotes karena berita tidaklah seperti yang ditulis.
Dalam prosedur jurnalistik seperti berita, jika ada ketidaktepatan isi berita atau keterangan sumber. Maka akan dilakukan kroscek atau konfirmasi ulang yakni yang disebut hak jawab dari orang, pembaca atau narasumber yang merasa keberatan dengan isi berita. Atau dalam istilah kerennya sekarang disebut “tabayyun”. Jadi, tidak dibenarkan sekonyong-konyong admin atau penulis jadi sasaran “tembak” dan tudingan yang tidak berdasar.
Salah satu TKI asal Paciran Umar Faruq yang berhasil kami konfirmasi untuk tabayyun menjelaskan, beberapa keterangan di berita tidak seutuhnya benar. Ia kemudian memprosentasikan hanya sekitar 7 persen saja yang benar mengenai isi berita. Untuk itulah kami berusaha meminta kroscek yang bersangkutan. Di mana letak ketidaksesuain dan keakuratan informasi yang kami sampaikan sebelumnya.
Pria yang sudah 22 tahun di Malaysia itu kemudian menjelaskan, bahwa warga Paciran di Malaysia sudah ada sejak awal dekade1980-an. Atau jauh lebih lama dari yang diberitakan sekitar dekade 1990. “Tahun 1980-an wong Ciran wis akeh nang Malaysia. Almarhum Man Dho (Baidhowi) iku tahun 1980 wis budal. Cuma nggak punya IC (Identity Card),” kata Faruq.
Ia juga tidak sepakat jika kehidupan para TKI terutama asal Paciran seperti digambarkan dalam berita seperti berjudi dan mabuk-mabukan. Karena menurutnya, Malaysia merupakan negara yang ketat dalam urusan alkohol. Dan jika melanggar tentu hukum di Malaysia sendiri lebih berat dibandingkan di Indonesia.
Malah sebaliknya, ia melanjutkan, banyak TKI yang di kampung halaman yang sering mabuk di Malaysia berubah dan berhenti mabuk. “Nah, nek soal selingkuh ra usah dibahas adoh-adoh. Nang omah Ciran yo akeh,” tegas pria yang lahir tahun 1977 itu.
Sedangkan untuk kesuksesan para TKI. Ia membeberkan banyak yang telah meraihnya. Bahkan ada TKI asal Paciran di antaranya yang mampu membeli rumah di sana. “Ono paling sugih sak werohku wong Jarlor. Tuku omah nang Malaysia regone RM.350.000 atau setara 1,3 miliar. Mobilnya sedan tiga dan sport satu,” bebernya saat dikonfirmasi Kabar Paciran.
Soal tidak adanya paguyuban TKI asal Paciran, pria yang juga guru mengaji itu membenarkan bahwa di Malaysia belum ada organisasi yang mewadahi. Hal itu berbeda dengan TKI dari daerah lain seperti Solokuro dan sekitarnya yang lebih solid dalam organisasi.
Meski begitu, ia menambahkan, di Malaysia sebenarnta ada organisasi yang bernama Ikatan Alumni Karang Asem Malaysia (IAKAM). Organisasi itu awal berdirinya karena para TKI alumni Ponpes Karang Asem yang pernah mengundang KH. Hakam Mubarrok untuk ceramah di Malaysia. “Dari hasil pertemuam dengan Pak Barrok kemudian membentuk IAKAM. Anggotanya ora wong Ciran tok. Tapi meluas ke lulusan Karang Asem. Meskipun begitu ora lulusan Karang Asem yo oleh gabung,” terang Faruq.
Dari terbentuknya IAKAM ini kemudian banyak anggotanya yang aktif berdakwah di Malaysia. Sedangkan untuk pengajian, rutin diadakan tiap minggu yang biasanya mengundang langsung pembicara kyai atau dai dari Indonesia. “Atau pas ada tokoh Muhammadiyah yang datang ke Malaysia kita daulat jadi penceramah,” kata Faruq.
Sementara itu, salah satu sumber TKI asal Paciran lainnya saat ditanya bagaimana kehidupan TKI di Malaysia? ia membenarkan bahwa kehidupannya TKI di sana faktanya sesuai dengan yang digambarkan di berita “Menelusuri Jejak TKI Paciran di Negeri Jiran”.
Salah pahamnya tentang sewa omah, pancen bener nek sewa omah biayane kurang lebih RM 500. Tapi nek tik tempati wong 5 kan dadi 100 perorang. Terus masalah judi dan minum-minum memang bener kenyataane. Tapi tidak semua TKI asal paciran,” kata sumber yang enggan disebutkan namanya.
Terkadang kalau kita menceritakan sisi gelap TKI Malaysia memang koyok kui. Banyak yang nggak terima, Tapi memang itu kenyataan,” pungkasnya.
Penulis: Amir Baihaqi

Tabayyun Gelap Terang TKI di Negeri Seberang

KABAR PACIRAN – Berita “Menelusuri Jejak TKI Paciran di Negeri Jiran” cukup menyita perhatian. Berbagai reaksi dari pembaca juga beragam. Ada yang terkejut dengan tingginya ongkos ke negeri seberang Malaysia, ada yang sudah paham dengan jejak kehidupannya, tapi ada juga yang memprotes karena berita tidaklah seperti yang ditulis.
Dalam prosedur jurnalistik seperti berita, jika ada ketidaktepatan isi berita atau keterangan sumber. Maka akan dilakukan kroscek atau konfirmasi ulang yakni yang disebut hak jawab dari orang, pembaca atau narasumber yang merasa keberatan dengan isi berita. Atau dalam istilah kerennya sekarang disebut “tabayyun”. Jadi, tidak dibenarkan sekonyong-konyong admin atau penulis jadi sasaran “tembak” dan tudingan yang tidak berdasar.
Salah satu TKI asal Paciran Umar Faruq yang berhasil kami konfirmasi untuk tabayyun menjelaskan, beberapa keterangan di berita tidak seutuhnya benar. Ia kemudian memprosentasikan hanya sekitar 7 persen saja yang benar mengenai isi berita. Untuk itulah kami berusaha meminta kroscek yang bersangkutan. Di mana letak ketidaksesuain dan keakuratan informasi yang kami sampaikan sebelumnya.
Pria yang sudah 22 tahun di Malaysia itu kemudian menjelaskan, bahwa warga Paciran di Malaysia sudah ada sejak awal dekade1980-an. Atau jauh lebih lama dari yang diberitakan sekitar dekade 1990. “Tahun 1980-an wong Ciran wis akeh nang Malaysia. Almarhum Man Dho (Baidhowi) iku tahun 1980 wis budal. Cuma nggak punya IC (Identity Card),” kata Faruq.
Ia juga tidak sepakat jika kehidupan para TKI terutama asal Paciran seperti digambarkan dalam berita seperti berjudi dan mabuk-mabukan. Karena menurutnya, Malaysia merupakan negara yang ketat dalam urusan alkohol. Dan jika melanggar tentu hukum di Malaysia sendiri lebih berat dibandingkan di Indonesia.
Malah sebaliknya, ia melanjutkan, banyak TKI yang di kampung halaman yang sering mabuk di Malaysia berubah dan berhenti mabuk. “Nah, nek soal selingkuh ra usah dibahas adoh-adoh. Nang omah Ciran yo akeh,” tegas pria yang lahir tahun 1977 itu.
Sedangkan untuk kesuksesan para TKI. Ia membeberkan banyak yang telah meraihnya. Bahkan ada TKI asal Paciran di antaranya yang mampu membeli rumah di sana. “Ono paling sugih sak werohku wong Jarlor. Tuku omah nang Malaysia regone RM.350.000 atau setara 1,3 miliar. Mobilnya sedan tiga dan sport satu,” bebernya saat dikonfirmasi Kabar Paciran.
Soal tidak adanya paguyuban TKI asal Paciran, pria yang juga guru mengaji itu membenarkan bahwa di Malaysia belum ada organisasi yang mewadahi. Hal itu berbeda dengan TKI dari daerah lain seperti Solokuro dan sekitarnya yang lebih solid dalam organisasi.
Meski begitu, ia menambahkan, di Malaysia sebenarnta ada organisasi yang bernama Ikatan Alumni Karang Asem Malaysia (IAKAM). Organisasi itu awal berdirinya karena para TKI alumni Ponpes Karang Asem yang pernah mengundang KH. Hakam Mubarrok untuk ceramah di Malaysia. “Dari hasil pertemuam dengan Pak Barrok kemudian membentuk IAKAM. Anggotanya ora wong Ciran tok. Tapi meluas ke lulusan Karang Asem. Meskipun begitu ora lulusan Karang Asem yo oleh gabung,” terang Faruq.
Dari terbentuknya IAKAM ini kemudian banyak anggotanya yang aktif berdakwah di Malaysia. Sedangkan untuk pengajian, rutin diadakan tiap minggu yang biasanya mengundang langsung pembicara kyai atau dai dari Indonesia. “Atau pas ada tokoh Muhammadiyah yang datang ke Malaysia kita daulat jadi penceramah,” kata Faruq.
Sementara itu, salah satu sumber TKI asal Paciran lainnya saat ditanya bagaimana kehidupan TKI di Malaysia? ia membenarkan bahwa kehidupannya TKI di sana faktanya sesuai dengan yang digambarkan di berita “Menelusuri Jejak TKI Paciran di Negeri Jiran”.
Salah pahamnya tentang sewa omah, pancen bener nek sewa omah biayane kurang lebih RM 500. Tapi nek tik tempati wong 5 kan dadi 100 perorang. Terus masalah judi dan minum-minum memang bener kenyataane. Tapi tidak semua TKI asal paciran,” kata sumber yang enggan disebutkan namanya.
Terkadang kalau kita menceritakan sisi gelap TKI Malaysia memang koyok kui. Banyak yang nggak terima, Tapi memang itu kenyataan,” pungkasnya.
Penulis: Amir Baihaqi
Load Comments

Subscribe Our Newsletter