Ayahku, Sang Penakluk Fajar - Kabar Paciran -->
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik

Penulis: Irtahat | Saat ini mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Pernah belajar di MA Muhammadiyah 02 Model Pondok Modern Paciran Lamongan.

Tentang sosok yang selalu aku banggakan.
Tentang sosok yang selalu aku rindukan di tanah perantauan. Ayah.

Aku seorang remaja putri yang lahir dari keluarga yang bisa dikatakan berpenghasilan rendah atau berpendapatan apa adanya atau kawan-kawan bisa memakai istilah yang lain, suka-suka kalian saja. Namun jika kita merujuk ke data badan sensus negara, keluarga saya masuk dalam tingkat ekonomi menengah ke bawah. Ya. Lumayan kerenan sedikitlah istilahnya daripada dapat predikat "kere".

Ya. Ayahku seorang nelayan dan aku bangga setengah mati dengan profesi ayahku. Dan ibuku seorang ibu rumah tangga yang aku sayangi. Aku mempunyai saudara laki-laki yang sangat aku cintai. Dia adik kecilku yang kini duduk dibangku sekolah dasar. Kami terbilang keluarga kecil yang sangat sederhana. Rumah kami berada di salah satu desa Paciran yang cukup dikenal di kabupaten Lamongan. Jawa Timur.

Karena ayahku seorang nelayan itu artinya rumah kami tak jauh dari laut. Sebab, jika seorang nelayan rumahnya terletak di gunung itu berat diongkos riwa-riwine. Rumah kami menghadap ke utara, tepat menghadap lautan lepas persis seperti bangunan resort di Maladewa. Dan di laut utara Jawa itu setiap harinya menjadi tempat ayahku mencari nafkah baik-baik untuk memenuhi kebutuhan hidup kami sekeluarga.



Setiap hari ayahku memulai aktivitas paginya dengan pergi melaut untuk mencari ikan. Dan ikan-ikan hasil tangkapan itulah yang nantinya menjadi sumber penghasilan bagi keluarga kami. Biasanya, ayah pergi ke laut setelah sholat subuh. Namun terkadang juga sebelum subuh sudah berangkat. Sehingga, tak jarang setiap kali aku bangun tidur, aku tak melihat sosok ayah berada di dekatku.

Beruntunglah, ayahku mempunyai malaikat yang begitu perhatian, yang begitu setia menemani dan yang begitu siap melayani. Ya, malaikat itu adalah ibuku. Ibuku selalu menyiapkan apapun kebutuhan ayah. Apapun keperluan ayah. Seperti baju yang setiap hari digunakan untuk melaut, makanan, minuman dan jajanan kesukaan ayah. Aku juga ikut menyiapkannya jika aku sempat melihat ayah pergi melaut.



Pagi itu, aku mendapat kesempatan melihat ayahku bersiap-siap untuk melaut. Sehingga aku harus membantu ibuku menyiapkan bekal yang akan dibawa oleh ayahku nantinya. Setelah semua disiapkan, dengan penuh pengharapan, bergegaslah ayah ke laut dan memulai aktivitas yang sudah menjadi rutinitas.
Kulihat dari balik kaca jendela rumahku, layar perahu ayahku sudah terbentang lebar dan siap untuk berlayar. Tentunya ayahku tidak pergi melaut seorang diri, ayah ditemani kakekku yang juga sangat peduli dengan keluarga kami.

Setelah layar terbentang, mesin pun mulai dinyalakan. Ayahku duduk di bagian depan dan kakekku duduk dibagian belakang perahu. Karena perahu yang begitu kecil dan sempit, sebab badan perahu sudah dipenuhi alat-alat seperti jaring, dayung dan lain sebagainya. Ketika perahu ayah mulai berjalan, terkadang kecemasan kami datang. Dimulai dari cemas karena ombak besar yang nantinya perahu ayah akan melewatinya, cemas jika nanti hujan turun, termasuk cemas tentang kesehatan ayah.

Singkat cerita, ayahku pernah masuk ruang operasi karena penyakitnya. Ayah mempunyai riwayat penyakit pada ginjalnya. Pernah suatu ketika, saat ayah pergi melaut ayah harus pulang karena rasa sakit yang luar biasa di perutnya hingga akan tak sadarkan diri.

Padahal ayah masih dalam keadaan sehat saat pergi ke laut. Seketika itu, kami sekeluarga begitu panik, dalam hati kami bertanya-tanya. "Ada apa ini? Kenapa? Kenapa ayah pulang dalam keadaan seperti ini?" Hari itu kami tak tau harus berbuat apa, banyak hal-hal negatif yang kami pikirkan tentang kesehatan ayah. Hingga akhirnya ayah dibawa ke Puskesmas di dekat rumahku.

Itulah mengapa kami sering merasa was-was. Tapi kami selalu berdo'a untuk kesehatan dan keselamatan ayah serta kakekku di luar sana. Entah bagaimana kegiatan ayah dan kakekku di lautan yang sangat luas tersebut. Tapi terlepas dari itu pasti ada banyak keringat yang mereka keluarkan karena panasnya terik matahari atau dingin karena hujan yang turun membasahi sekujur badan.

Setelah dirasa sudah cukup mendapatkan ikan, ayah dan kakekku pulang. Seperti biasanya, di rumah ada nenek yang menyambut kedatangan mereka. Karena ibuku harus mengantar adik kecilku ke sekolah jadi nenekkulah yang menjual ikan hasil tangkapan ayah dan kakek ke pasar.

Jika ditanya berapa pendapatan sehari-hari seorang nelayan biasa seperti ayahku, pendapatannya tak menentu, karena ayahku mencari ikan pagi hari dan pulang sore atau malam hari dan hasil tangkapan saat itu juga dijual. Sehingga pendapatan hari ini hanya cukup untuk kebutuhan hari ini.

Akan tetapi, kami tak henti-hentinya untuk bersyukur kepada Allah atas rezeki yang telah kami dapatkan. Karena kami percaya rezeki telah diatur oleh Allah sedemikian rupa. Allah Maha Pemberi Rizki, Allah Maha Kaya dan Allah Maha menyayangi semua makhlukNya.

Inilah sedikit kisah dari kehidupan keluargaku. Semoga bermanfaat dan bisa diambil hikmahnya.

Terimakasih.

Foto: SI

Ayahku, Sang Penakluk Fajar


Penulis: Irtahat | Saat ini mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Pernah belajar di MA Muhammadiyah 02 Model Pondok Modern Paciran Lamongan.

Tentang sosok yang selalu aku banggakan.
Tentang sosok yang selalu aku rindukan di tanah perantauan. Ayah.

Aku seorang remaja putri yang lahir dari keluarga yang bisa dikatakan berpenghasilan rendah atau berpendapatan apa adanya atau kawan-kawan bisa memakai istilah yang lain, suka-suka kalian saja. Namun jika kita merujuk ke data badan sensus negara, keluarga saya masuk dalam tingkat ekonomi menengah ke bawah. Ya. Lumayan kerenan sedikitlah istilahnya daripada dapat predikat "kere".

Ya. Ayahku seorang nelayan dan aku bangga setengah mati dengan profesi ayahku. Dan ibuku seorang ibu rumah tangga yang aku sayangi. Aku mempunyai saudara laki-laki yang sangat aku cintai. Dia adik kecilku yang kini duduk dibangku sekolah dasar. Kami terbilang keluarga kecil yang sangat sederhana. Rumah kami berada di salah satu desa Paciran yang cukup dikenal di kabupaten Lamongan. Jawa Timur.

Karena ayahku seorang nelayan itu artinya rumah kami tak jauh dari laut. Sebab, jika seorang nelayan rumahnya terletak di gunung itu berat diongkos riwa-riwine. Rumah kami menghadap ke utara, tepat menghadap lautan lepas persis seperti bangunan resort di Maladewa. Dan di laut utara Jawa itu setiap harinya menjadi tempat ayahku mencari nafkah baik-baik untuk memenuhi kebutuhan hidup kami sekeluarga.



Setiap hari ayahku memulai aktivitas paginya dengan pergi melaut untuk mencari ikan. Dan ikan-ikan hasil tangkapan itulah yang nantinya menjadi sumber penghasilan bagi keluarga kami. Biasanya, ayah pergi ke laut setelah sholat subuh. Namun terkadang juga sebelum subuh sudah berangkat. Sehingga, tak jarang setiap kali aku bangun tidur, aku tak melihat sosok ayah berada di dekatku.

Beruntunglah, ayahku mempunyai malaikat yang begitu perhatian, yang begitu setia menemani dan yang begitu siap melayani. Ya, malaikat itu adalah ibuku. Ibuku selalu menyiapkan apapun kebutuhan ayah. Apapun keperluan ayah. Seperti baju yang setiap hari digunakan untuk melaut, makanan, minuman dan jajanan kesukaan ayah. Aku juga ikut menyiapkannya jika aku sempat melihat ayah pergi melaut.



Pagi itu, aku mendapat kesempatan melihat ayahku bersiap-siap untuk melaut. Sehingga aku harus membantu ibuku menyiapkan bekal yang akan dibawa oleh ayahku nantinya. Setelah semua disiapkan, dengan penuh pengharapan, bergegaslah ayah ke laut dan memulai aktivitas yang sudah menjadi rutinitas.
Kulihat dari balik kaca jendela rumahku, layar perahu ayahku sudah terbentang lebar dan siap untuk berlayar. Tentunya ayahku tidak pergi melaut seorang diri, ayah ditemani kakekku yang juga sangat peduli dengan keluarga kami.

Setelah layar terbentang, mesin pun mulai dinyalakan. Ayahku duduk di bagian depan dan kakekku duduk dibagian belakang perahu. Karena perahu yang begitu kecil dan sempit, sebab badan perahu sudah dipenuhi alat-alat seperti jaring, dayung dan lain sebagainya. Ketika perahu ayah mulai berjalan, terkadang kecemasan kami datang. Dimulai dari cemas karena ombak besar yang nantinya perahu ayah akan melewatinya, cemas jika nanti hujan turun, termasuk cemas tentang kesehatan ayah.

Singkat cerita, ayahku pernah masuk ruang operasi karena penyakitnya. Ayah mempunyai riwayat penyakit pada ginjalnya. Pernah suatu ketika, saat ayah pergi melaut ayah harus pulang karena rasa sakit yang luar biasa di perutnya hingga akan tak sadarkan diri.

Padahal ayah masih dalam keadaan sehat saat pergi ke laut. Seketika itu, kami sekeluarga begitu panik, dalam hati kami bertanya-tanya. "Ada apa ini? Kenapa? Kenapa ayah pulang dalam keadaan seperti ini?" Hari itu kami tak tau harus berbuat apa, banyak hal-hal negatif yang kami pikirkan tentang kesehatan ayah. Hingga akhirnya ayah dibawa ke Puskesmas di dekat rumahku.

Itulah mengapa kami sering merasa was-was. Tapi kami selalu berdo'a untuk kesehatan dan keselamatan ayah serta kakekku di luar sana. Entah bagaimana kegiatan ayah dan kakekku di lautan yang sangat luas tersebut. Tapi terlepas dari itu pasti ada banyak keringat yang mereka keluarkan karena panasnya terik matahari atau dingin karena hujan yang turun membasahi sekujur badan.

Setelah dirasa sudah cukup mendapatkan ikan, ayah dan kakekku pulang. Seperti biasanya, di rumah ada nenek yang menyambut kedatangan mereka. Karena ibuku harus mengantar adik kecilku ke sekolah jadi nenekkulah yang menjual ikan hasil tangkapan ayah dan kakek ke pasar.

Jika ditanya berapa pendapatan sehari-hari seorang nelayan biasa seperti ayahku, pendapatannya tak menentu, karena ayahku mencari ikan pagi hari dan pulang sore atau malam hari dan hasil tangkapan saat itu juga dijual. Sehingga pendapatan hari ini hanya cukup untuk kebutuhan hari ini.

Akan tetapi, kami tak henti-hentinya untuk bersyukur kepada Allah atas rezeki yang telah kami dapatkan. Karena kami percaya rezeki telah diatur oleh Allah sedemikian rupa. Allah Maha Pemberi Rizki, Allah Maha Kaya dan Allah Maha menyayangi semua makhlukNya.

Inilah sedikit kisah dari kehidupan keluargaku. Semoga bermanfaat dan bisa diambil hikmahnya.

Terimakasih.

Foto: SI
Load Comments

Subscribe Our Newsletter