Buka Puasa Bersama dan Ceramah Agama di Ponpes Karangsawo Paciran - Kabar Paciran -->
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik
karang sawo

KABAR.PACIRAN.COM — Sore hari ke-21 Puasa Ramadlan 1440 H. bertepatan dengan tanggal 27 Mei 2019 Pondok Pesantren Tahfidhul Qur’an Karangsawo Paciran kembali rutin menggelar doa bersama, ceramah agama, dan dilanjutkan buka puasa bersama warga dari kecamatan Paciran dan Brondong. Acara dihadiri muslimin dan muslimat dari berbagai kalangan dan usia sekitar seribu lima ratus orang

Doa bersama dipimpin oleh K. Minhajul Abidin selaku pengasuh pesantren. Setelah khusuk memanjatkan doa pada sore itu, acara dilanjutkan ceramah agama.

Ceramah agama disampaikan oleh KH. Salim Azhar dari Sendangduwur. Dalam ceramah yang disampaikan di masjid pesantren itu, beliau menyampaikan tentang pentingnya meneladani Nabi Muhammad SAW sebagai teladan yang baik (uswatul hasanah). Beliau lalu mengisahkan awal pertemuan Khadijah dan Rasulullah dalam urusan bisnis.

ponpes karangsawo

Saat itu, Muhammad belum diutus sebagai seorang nabi dan rasul. Suatu hari, Khadijah mendengar kabar tentang pemuda yang sangat terpercaya di kalangan Arab bernama Muhammad. Tertarik menjadikan pemuda itu karyawannya, Khadijah pun memanggilnya. Muhammad pun menerima tawaran Khadijah tersebut dengan senang hati.

Khadijah pun mengirim Muhammad sebagai pemimpin kafilah dagang ke negeri Syam. Seorang budak kepercayaan Khadijah bernama Maysarah ikut serta dalam kafilah tersebut.

Dalam perjalanan, seorang rahib Yahudi yang dikenal memiliki wawasan agama yang luas, Nestora, bertanya pada Maysarah, siapa gerangan pemimpin kafilah dagang yang ikut serta di dalamnya. Maysarah pun mengabarkan tentang reputasi Rasulullah yang dikenal jujur dan cerdas. Nestora kemudian mengatakan, orang tersebut merupakan bakal nabi yang diutus Allah.

Segala pengalaman Maysarah dalam mengikuti kafilah dagang Rasulullah pun dikabarkan kepada Khadijah. Maysarah bahkan mengatakan, melihat dua malaikat membawa awan di atas kepala Nabi untuk melindunginya dari terik matahari.

Semakin hari, Khadijah semakin terkesan dengan kepribadian Rasulullah. Ia pun berkeinginan untuk membangun rumah tangga bersama Muhammad yang kala itu belum diangkat menjadi rasul Allah. Tapi, saat itu Khadijah dilanda keraguan mengingat ia seorang janda sementara Muhammad seorang pemuda.

Dalam suatu malam Khadijah bermimpi matahari turun dari langit menuju halaman rumahnya. Matahari tersebut kemudian bersinar terang memancarkan cahaya dari dalam rumah. Saat terbangun di pagi hari, Khadijah merasa penasaran atas mimpi itu.

Ia pun menemui sepupunya Waraqah bin Naufal, seorang tunanetra yang terkenal karena keahliannya dalam menafsirkan mimpi. Mendengarnya, Waraqah tersenyum tenang dan meminta Khadijah untuk tidak khawatir. Pasalnya, mimpi tersebut menunjukkan hal positif dalam kehidupan Khadijah.

Matahari dalam mimpi menunjukkan bahwa nabi yang penuh kedamaian dan keberkahan yang kedatangannya telah diramalkan di dalam Taurat dan Injil akan memberi cahaya di dalam rumahnya. Nabi tersebut akan membawa rahmat dan kebahagiaan dalam kehidupan Khadijah.

Pasca mengalami mimpi tersebut, mantaplah tekad Khadijah untuk menikah dengan Muhammad. Ia pun kemudian mengajukan pinangan kepadanya. Tersambut, Muhammad menerimanya dan keduanya pun menikah. Saat itu, usia Khadijah 40 tahun sementara Rasulullah berusia 25 tahun. Tapi, perbedaan usia tak menghambat pernikahan tersebut. Keduannya hidup bahagia. Bisnis Khadijah makin jaya setelah menikah dengan Rasulullah.

Selain bisnis yang semakin maju, seluruh putra-putri Nabi pun lahir dari rahim Khadijah, kecuali Ibrahim. Putra-putri Nabi bersama Khadijah berjumlah enam orang. Pertama dua putra, Qasim dan Abdullah, kemudian diikuti anak-anak perempuan, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah. Tapi, baru berusia dua tahun, Qasim dan Abdullah wafat sehingga membawa kesedihan mendalam bagi Rasulullah dan Khadijah.

Pernikahan bersama Rasulullah menjadi yang ketiga dan terakhir bagi Khadijah. Rasulullah pun tak pernah menikah lagi dengan wanita lain sepanjang hidup Khadijah. Saat Muhammad diutus sebagai rasul, Khadijah menjadi orang pertama yang mengakui kenabiannya. Khadijah selalu mendampingi Rasulullah saat diterpa kesulitan ketika masyarakat Mekkah menentang dakwahnya. Khadijah bahkan rela memberikan hartanya untuk dakwah menjunjung agama Allah.

buka bersama

Setelah ceramah agama dilanjutkan dilanjutkan buka puasa bersama di halaman pesantren dengan jamuan buka (iftar) yang disajikan khusus ala Masjid Nabawi Madinah. Hidangan disajikan diatas alas. Para jamaah duduk teratur didepan hidangan. Jamaah menikmati hidangan iftar dengan suka-cita dengan penuh kebersamaan. Menambah kehidmahan bulan suci Ramadlan tahun ini.

(ried)

Buka Puasa Bersama dan Ceramah Agama di Ponpes Karangsawo Paciran

karang sawo

KABAR.PACIRAN.COM — Sore hari ke-21 Puasa Ramadlan 1440 H. bertepatan dengan tanggal 27 Mei 2019 Pondok Pesantren Tahfidhul Qur’an Karangsawo Paciran kembali rutin menggelar doa bersama, ceramah agama, dan dilanjutkan buka puasa bersama warga dari kecamatan Paciran dan Brondong. Acara dihadiri muslimin dan muslimat dari berbagai kalangan dan usia sekitar seribu lima ratus orang

Doa bersama dipimpin oleh K. Minhajul Abidin selaku pengasuh pesantren. Setelah khusuk memanjatkan doa pada sore itu, acara dilanjutkan ceramah agama.

Ceramah agama disampaikan oleh KH. Salim Azhar dari Sendangduwur. Dalam ceramah yang disampaikan di masjid pesantren itu, beliau menyampaikan tentang pentingnya meneladani Nabi Muhammad SAW sebagai teladan yang baik (uswatul hasanah). Beliau lalu mengisahkan awal pertemuan Khadijah dan Rasulullah dalam urusan bisnis.

ponpes karangsawo

Saat itu, Muhammad belum diutus sebagai seorang nabi dan rasul. Suatu hari, Khadijah mendengar kabar tentang pemuda yang sangat terpercaya di kalangan Arab bernama Muhammad. Tertarik menjadikan pemuda itu karyawannya, Khadijah pun memanggilnya. Muhammad pun menerima tawaran Khadijah tersebut dengan senang hati.

Khadijah pun mengirim Muhammad sebagai pemimpin kafilah dagang ke negeri Syam. Seorang budak kepercayaan Khadijah bernama Maysarah ikut serta dalam kafilah tersebut.

Dalam perjalanan, seorang rahib Yahudi yang dikenal memiliki wawasan agama yang luas, Nestora, bertanya pada Maysarah, siapa gerangan pemimpin kafilah dagang yang ikut serta di dalamnya. Maysarah pun mengabarkan tentang reputasi Rasulullah yang dikenal jujur dan cerdas. Nestora kemudian mengatakan, orang tersebut merupakan bakal nabi yang diutus Allah.

Segala pengalaman Maysarah dalam mengikuti kafilah dagang Rasulullah pun dikabarkan kepada Khadijah. Maysarah bahkan mengatakan, melihat dua malaikat membawa awan di atas kepala Nabi untuk melindunginya dari terik matahari.

Semakin hari, Khadijah semakin terkesan dengan kepribadian Rasulullah. Ia pun berkeinginan untuk membangun rumah tangga bersama Muhammad yang kala itu belum diangkat menjadi rasul Allah. Tapi, saat itu Khadijah dilanda keraguan mengingat ia seorang janda sementara Muhammad seorang pemuda.

Dalam suatu malam Khadijah bermimpi matahari turun dari langit menuju halaman rumahnya. Matahari tersebut kemudian bersinar terang memancarkan cahaya dari dalam rumah. Saat terbangun di pagi hari, Khadijah merasa penasaran atas mimpi itu.

Ia pun menemui sepupunya Waraqah bin Naufal, seorang tunanetra yang terkenal karena keahliannya dalam menafsirkan mimpi. Mendengarnya, Waraqah tersenyum tenang dan meminta Khadijah untuk tidak khawatir. Pasalnya, mimpi tersebut menunjukkan hal positif dalam kehidupan Khadijah.

Matahari dalam mimpi menunjukkan bahwa nabi yang penuh kedamaian dan keberkahan yang kedatangannya telah diramalkan di dalam Taurat dan Injil akan memberi cahaya di dalam rumahnya. Nabi tersebut akan membawa rahmat dan kebahagiaan dalam kehidupan Khadijah.

Pasca mengalami mimpi tersebut, mantaplah tekad Khadijah untuk menikah dengan Muhammad. Ia pun kemudian mengajukan pinangan kepadanya. Tersambut, Muhammad menerimanya dan keduanya pun menikah. Saat itu, usia Khadijah 40 tahun sementara Rasulullah berusia 25 tahun. Tapi, perbedaan usia tak menghambat pernikahan tersebut. Keduannya hidup bahagia. Bisnis Khadijah makin jaya setelah menikah dengan Rasulullah.

Selain bisnis yang semakin maju, seluruh putra-putri Nabi pun lahir dari rahim Khadijah, kecuali Ibrahim. Putra-putri Nabi bersama Khadijah berjumlah enam orang. Pertama dua putra, Qasim dan Abdullah, kemudian diikuti anak-anak perempuan, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah. Tapi, baru berusia dua tahun, Qasim dan Abdullah wafat sehingga membawa kesedihan mendalam bagi Rasulullah dan Khadijah.

Pernikahan bersama Rasulullah menjadi yang ketiga dan terakhir bagi Khadijah. Rasulullah pun tak pernah menikah lagi dengan wanita lain sepanjang hidup Khadijah. Saat Muhammad diutus sebagai rasul, Khadijah menjadi orang pertama yang mengakui kenabiannya. Khadijah selalu mendampingi Rasulullah saat diterpa kesulitan ketika masyarakat Mekkah menentang dakwahnya. Khadijah bahkan rela memberikan hartanya untuk dakwah menjunjung agama Allah.

buka bersama

Setelah ceramah agama dilanjutkan dilanjutkan buka puasa bersama di halaman pesantren dengan jamuan buka (iftar) yang disajikan khusus ala Masjid Nabawi Madinah. Hidangan disajikan diatas alas. Para jamaah duduk teratur didepan hidangan. Jamaah menikmati hidangan iftar dengan suka-cita dengan penuh kebersamaan. Menambah kehidmahan bulan suci Ramadlan tahun ini.

(ried)

Load Comments

Subscribe Our Newsletter