Leader Harus Menjadi Orang Yang Fokus (Esai) - Kabar Paciran -->
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik

KABAR.PACIRAN.COM - Malam-malam yang sunyi itu jadi gairah tersendiri baginya. Lelaki mulia itu, meski di hadapanya ada jaminan agung perihal surga, ia tetap hidupkan malam gulitanya di atas permadani sederhana, berdiri lama, menangis haru, bercampur rindu./p>
“Wahai kakanda, bukankah Allah telah dan akan mengampuni dosa-dosamu? Mengapa engkau begitu tekun dalam beribadah?” istrinya r.a dengan santun bertanya kepadanya.

“Apakah dengan begitu aku harus enggan untuk menjadi seorang hamba-nya yang bersyukur?” jawabnya. Dialog ini terabadikan indah oleh imam bukhari dan imam muslim, sesuai penuturan dari Mughirah bin Syu’bah.


Lelaki itu, kini seluruh Arab tak sekedar mengenalnya dengan sebutan Al-amin saja: bahkan dua negara besar di utaranya sedang panas membincangkannya. Lelaki itu telah menjembatani perubahan raksasa. Lelaki itu telah membawa kekuatan besar, risalah utama yang membuat takjub sejarawan mana pun yang mempelajarinya.

Nabi kita yang tercinta, Rasulullah Muhammad Saw. Langit merindukannya dan bumi mentakjubinya. Karena selangkah demi selangkah, beliau dan para sahabatnya telah berpindah dari kaum yang tertindas menjadi penguasa Arab. Maaf penguasa bumi.

The powerful leader! Tidak akan pernah lengkap jika belajar kepemimpinan tanpa role model yang menempati peringkat 1 dalam 100 manusia berpengaruh sepanjang sejarah sebagaimana tertulis dalam karangan Michael Hart. Sungguh, dari sisi manapun, Nabi Muhammad Saw bisa dipandang, bisa dicontoh, bisa menginspirasai, bisa menularkan kegairahan hidup. Tak ada satu pun manusia dan Amerika sampai Amerika lagi yaang meragukan kepemimpinannya. Adapun mereka yang mencerca beliau, tak lain adalah karena mereka tak tahu apa-apa.

Pemimpin yang powerful selalu bisa menularkan dan memberi teladan di segala kesempatan, tempat dan aspek. Kawan, saat ini sepertinya indah sekali kalau kita menyempatkan diri menyelisik pribadi beliau. Walau tak bisa seluruhnya, mari kita saksamai sama-sama.

“apakah Rasulullah mengkhususkan beberapa hari untuk beribadah sebanyak-banyaknya?” Alqomah menanyakan hal itu pada Aisyah. Dengan cerdas, Aisyah menjawab singkat, tetapi dahsyat.

“Tidak,” kata Aisyah. “Namun, beliau melakukan ibadah terus-menerus!”
Itulah kehebatan. Itulah nilai tinggi. Pemimpin yang menghimpun di dalam jiwanya sebuah keyakinan dan kesempurnaan hubungan dengan Allah akan, “mampu mempengaruhi dan menggerakkan orang-orang mencapai tujuan bersama, serumit dan sekompleks apa pun masalah yang dihadapinya,” tutur misbahul Huda.

“cara hidup semurah mungkin (simplicity) bukan hanya suatu kekuatan, melainkan juga kekayaan bukan menjadi pilar kebahagiaan. Simpicity lawan dari gaya hidup trendi (lifestyle) bahasa al-quran artinya qana’ah,” begitu ungkap Misbahul Huda dalam bukunya Dari Langit Turun ke Bumi.

Sebanyak apa pun income seorang pengusaha kaya raya atau sekecil apa pun gajinya, jika ia mampu menekan belanjanya dengan sederhana mungkin, akan ada sisa uang yang bisa disimpan atau bisa diinvestasikan. Namun, seperti kita tahu, jika pasak lebih besar daripada tiang, jika yang dikeluarkan lebih banyak dari penghasilan. Pastilah pelaku akan merasa ada rasa kemiskinan yang menggantung di hatinya. Ada rasa kuran, memungkinkan potensi korupsi bisa menjangkiti. Bahaya besar.
Dengan cara itulah Nabi menyakinkan para sahabatnya bahwa harta bukan apa-apa. Bagimana dengan kisah Abu Bakar yang menyumbangkan seluruh hartanya? Bukankah itu sebuah nilai tinggi yang jauh-jauh ditanam oleh Rasulullah Saw! Kezuhudan beliau menginspirasi siapa saja, golongan mana saja, agar tak silau dunia. Dengan itulah pasukan Muslimin begitu gagah membebaskan satu per satu negeri (futuhat), denag mulia: menyebarkan Islam, bukan mencari harta.

Rasul mendidik kita agar menjadi pemimpin yang giat bersosialisasi. Komunikasi beliau tergolong sangat ampuh. Dengan segala pendekatan, dengan keramahtamahan dan kewibawaan, beliau berhasil menggaet kekuatan-kekuatan strategis di Mekkah: membangun masyarakat madani di madinah: hingga membangun jaringan pemerintahan yang kuat di daratan semenanjung Arab.

Karena leadership ini menuntut seorang pemimpin memengaruhi manusia. Menebarkan visi yang harus dimengerti lalu dikerjakan bersama, seni komunikasi nabi sangat tepat diperhitungkan. Sejarah telah membuktikannya, bukan? “Tidak ada yang lebih baik dari seorang pemimpin yang mempunyai kemampuan komunikasi yang baik,” begitu pernyataan tambahan seorang guru.

Jadi, mari menyimpulkan komunkasi dalam kepemimpinan ini menjadi beberapa bagian penting: listening skill, observation skill, dan speaking skill. Kesemuanya tersusun sempurna di kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

Listening skill, seni mendengarkan. Ini adalah bagian penting dari gaya Nabi bersosialisasi dengan manusia di sekitarnya. Banyak sekali hadis yang kita dengar hari ini, tersusun dari pertanyaan shahabat kemudian dijawab nabi: pengaduan masyarakat lalu diselesaikan Nabi: dari perkara menyangkut akidah sampai masalah-masalah perceraina, pertengkaran suami istri, bahkan anak-anak yang mengadukan orang tua mereka yang sering marah. Rasul tak mau mengecewakan shahabatnya yang antusias berkonsultasi, maka, seni mendengarkan begitu dahsyat menghasilkan cinta di antara Nabi dan masyarakat yang dipimpinanya.

Sungguh, beliau sebaik-baik teladan dalam perkara dan maslah apa saja, terlebih tugas mengemban risalah, justru itulah tugas kenabian yang inti, menebar kebennaran risalah menuju seluruh arah mata angin, tak pandang bangsa, tak lihat warna. Semua terangkum dan terbalut indah dalam satu kata: Islam.

Tak ada alasan bagi kita untuk mengambil model kepemimpinan lain selain beliau. Kawan, langkah kita belum terlalu besar, masih belajar berjalan di terjalnya jalan juang. Maka, untuk kallian yang rindu perubahan, apa yang kita baca adalah dasar-dasar kepemimpinan yang langsung bisa kita kerjakan setelah membaca tulisan ini.


Solokuro, 3 November 2019

Judul: Leader Harus Menjadi Orang Yang Focus adalah artikel kiriman yang ditulis oleh: Fathan Faris Saputro

Leader Harus Menjadi Orang Yang Fokus (Esai)

KABAR.PACIRAN.COM - Malam-malam yang sunyi itu jadi gairah tersendiri baginya. Lelaki mulia itu, meski di hadapanya ada jaminan agung perihal surga, ia tetap hidupkan malam gulitanya di atas permadani sederhana, berdiri lama, menangis haru, bercampur rindu./p>
“Wahai kakanda, bukankah Allah telah dan akan mengampuni dosa-dosamu? Mengapa engkau begitu tekun dalam beribadah?” istrinya r.a dengan santun bertanya kepadanya.

“Apakah dengan begitu aku harus enggan untuk menjadi seorang hamba-nya yang bersyukur?” jawabnya. Dialog ini terabadikan indah oleh imam bukhari dan imam muslim, sesuai penuturan dari Mughirah bin Syu’bah.


Lelaki itu, kini seluruh Arab tak sekedar mengenalnya dengan sebutan Al-amin saja: bahkan dua negara besar di utaranya sedang panas membincangkannya. Lelaki itu telah menjembatani perubahan raksasa. Lelaki itu telah membawa kekuatan besar, risalah utama yang membuat takjub sejarawan mana pun yang mempelajarinya.

Nabi kita yang tercinta, Rasulullah Muhammad Saw. Langit merindukannya dan bumi mentakjubinya. Karena selangkah demi selangkah, beliau dan para sahabatnya telah berpindah dari kaum yang tertindas menjadi penguasa Arab. Maaf penguasa bumi.

The powerful leader! Tidak akan pernah lengkap jika belajar kepemimpinan tanpa role model yang menempati peringkat 1 dalam 100 manusia berpengaruh sepanjang sejarah sebagaimana tertulis dalam karangan Michael Hart. Sungguh, dari sisi manapun, Nabi Muhammad Saw bisa dipandang, bisa dicontoh, bisa menginspirasai, bisa menularkan kegairahan hidup. Tak ada satu pun manusia dan Amerika sampai Amerika lagi yaang meragukan kepemimpinannya. Adapun mereka yang mencerca beliau, tak lain adalah karena mereka tak tahu apa-apa.

Pemimpin yang powerful selalu bisa menularkan dan memberi teladan di segala kesempatan, tempat dan aspek. Kawan, saat ini sepertinya indah sekali kalau kita menyempatkan diri menyelisik pribadi beliau. Walau tak bisa seluruhnya, mari kita saksamai sama-sama.

“apakah Rasulullah mengkhususkan beberapa hari untuk beribadah sebanyak-banyaknya?” Alqomah menanyakan hal itu pada Aisyah. Dengan cerdas, Aisyah menjawab singkat, tetapi dahsyat.

“Tidak,” kata Aisyah. “Namun, beliau melakukan ibadah terus-menerus!”
Itulah kehebatan. Itulah nilai tinggi. Pemimpin yang menghimpun di dalam jiwanya sebuah keyakinan dan kesempurnaan hubungan dengan Allah akan, “mampu mempengaruhi dan menggerakkan orang-orang mencapai tujuan bersama, serumit dan sekompleks apa pun masalah yang dihadapinya,” tutur misbahul Huda.

“cara hidup semurah mungkin (simplicity) bukan hanya suatu kekuatan, melainkan juga kekayaan bukan menjadi pilar kebahagiaan. Simpicity lawan dari gaya hidup trendi (lifestyle) bahasa al-quran artinya qana’ah,” begitu ungkap Misbahul Huda dalam bukunya Dari Langit Turun ke Bumi.

Sebanyak apa pun income seorang pengusaha kaya raya atau sekecil apa pun gajinya, jika ia mampu menekan belanjanya dengan sederhana mungkin, akan ada sisa uang yang bisa disimpan atau bisa diinvestasikan. Namun, seperti kita tahu, jika pasak lebih besar daripada tiang, jika yang dikeluarkan lebih banyak dari penghasilan. Pastilah pelaku akan merasa ada rasa kemiskinan yang menggantung di hatinya. Ada rasa kuran, memungkinkan potensi korupsi bisa menjangkiti. Bahaya besar.
Dengan cara itulah Nabi menyakinkan para sahabatnya bahwa harta bukan apa-apa. Bagimana dengan kisah Abu Bakar yang menyumbangkan seluruh hartanya? Bukankah itu sebuah nilai tinggi yang jauh-jauh ditanam oleh Rasulullah Saw! Kezuhudan beliau menginspirasi siapa saja, golongan mana saja, agar tak silau dunia. Dengan itulah pasukan Muslimin begitu gagah membebaskan satu per satu negeri (futuhat), denag mulia: menyebarkan Islam, bukan mencari harta.

Rasul mendidik kita agar menjadi pemimpin yang giat bersosialisasi. Komunikasi beliau tergolong sangat ampuh. Dengan segala pendekatan, dengan keramahtamahan dan kewibawaan, beliau berhasil menggaet kekuatan-kekuatan strategis di Mekkah: membangun masyarakat madani di madinah: hingga membangun jaringan pemerintahan yang kuat di daratan semenanjung Arab.

Karena leadership ini menuntut seorang pemimpin memengaruhi manusia. Menebarkan visi yang harus dimengerti lalu dikerjakan bersama, seni komunikasi nabi sangat tepat diperhitungkan. Sejarah telah membuktikannya, bukan? “Tidak ada yang lebih baik dari seorang pemimpin yang mempunyai kemampuan komunikasi yang baik,” begitu pernyataan tambahan seorang guru.

Jadi, mari menyimpulkan komunkasi dalam kepemimpinan ini menjadi beberapa bagian penting: listening skill, observation skill, dan speaking skill. Kesemuanya tersusun sempurna di kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

Listening skill, seni mendengarkan. Ini adalah bagian penting dari gaya Nabi bersosialisasi dengan manusia di sekitarnya. Banyak sekali hadis yang kita dengar hari ini, tersusun dari pertanyaan shahabat kemudian dijawab nabi: pengaduan masyarakat lalu diselesaikan Nabi: dari perkara menyangkut akidah sampai masalah-masalah perceraina, pertengkaran suami istri, bahkan anak-anak yang mengadukan orang tua mereka yang sering marah. Rasul tak mau mengecewakan shahabatnya yang antusias berkonsultasi, maka, seni mendengarkan begitu dahsyat menghasilkan cinta di antara Nabi dan masyarakat yang dipimpinanya.

Sungguh, beliau sebaik-baik teladan dalam perkara dan maslah apa saja, terlebih tugas mengemban risalah, justru itulah tugas kenabian yang inti, menebar kebennaran risalah menuju seluruh arah mata angin, tak pandang bangsa, tak lihat warna. Semua terangkum dan terbalut indah dalam satu kata: Islam.

Tak ada alasan bagi kita untuk mengambil model kepemimpinan lain selain beliau. Kawan, langkah kita belum terlalu besar, masih belajar berjalan di terjalnya jalan juang. Maka, untuk kallian yang rindu perubahan, apa yang kita baca adalah dasar-dasar kepemimpinan yang langsung bisa kita kerjakan setelah membaca tulisan ini.


Solokuro, 3 November 2019

Judul: Leader Harus Menjadi Orang Yang Focus adalah artikel kiriman yang ditulis oleh: Fathan Faris Saputro

Load Comments

Subscribe Our Newsletter