Menyongsong era-Revolusi Industri 4.0, Rumah Budaya Pantura menyelenggarakan Kemah Budaya untuk merevitalisasi Kebudayaan Nusantara. - Kabar Paciran
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik
KABAR.PACIRAN.COM - Komunitas kesenian di Jawa Timur berkumpul di GOR Desa Kemantren Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan untuk mengikuti rangkaian Kemah Budaya. Event ini diinisiasi oleh Pengurus Rumah Budaya Pantura, dengan mengusung grand-tema “Revitalisasi Kebudayaan Nusantara menyongsong era-Revolusi Industri 4.0”.

Selaku Ketua Pelaksana, Deni Jazuli menuturkan: “Diadakan Kemah Budaya ini, kami berharap agar komunitas-komunitas kesenian (yang menjadi peserta) dapat lebih berkembang, kokoh dan siap untuk bersaing menghadapi era-globalisai dan revolusi industri yang semakin canggih nantinya.”

Dalam perhelatan event tersebut, penyelenggara membagi fokus pendalaman materi ke dalam beberapa bidang dengan metode workshop proses kreatif penciptaan karya seni. Yakni seni teater, seni tari, seni batik, dan seni pedalangan (wayang kontemporer). Beberapa tokoh lintas Jawa Timur dihadirkan untuk memantik materi sesuai dengan keahlian dan basic masing-masing. Ada Mahendra Cipta asal (Language Theater Indonesia) Sumenep, Galuh T. Utama (Komite Teater Dewan Kesenian Jawa Timur), dan Dody Yan Masfa (Teater Tobong) Surabaya; sebagai pemantik materi Seni Teater. Ada juga Ki Ompong Sudarsono asal Temanggung selaku yang didapuk menjadi pemantik materi Seni Pedalangan Wayang Kontemporer; dan Workshop Membatik diampu oleh Tim dari Batik Sendang.

Rumah Budaya Pantura adalah sebuah sarana kebudayaan yang didirikan atas semangat berkesenian para insan di sepanjang wilayah pesisir Pantai Utara Kab. Lamongan. Komunitas ini lahir atas kesadaran para pemuda yang rindu akan peradaban peninggalan nenek moyang mereka, dahulu kala. Meski digerus arus globalisasi dan industri yang semakin hari semakin merimba di sekelilingnya, Rumah Budaya Pantura akan tetap berdiri kokoh dalam ‘nguri-nguri kabudayan’. Beberapa aktifitas kesenian juga kerap diselenggarakan. Bahkan yang paling terakhir, Pengurus Rumah Budaya Pantura mengadakan riset mengenai kebudayaan masyarakat pesisir di tengah kehidupan yang semakin modern.

“Saya melihat ada gelombang besar gerakan kebudayaan yang muncul dari wilayah pesisir, termasuk adanya Rumah Budaya Pantura yang menginisiasi Kemah Budaya ini. Bisa jadi, Rumah Budaya Pantura ini menjadi pioner atau semacam pijakan baru bagi masa depan kesenian Jawa Timur.”, ujar Dody Yan Masfa, seorang tokoh Teater Jawa Timur yang didapuk selaku pemateri di Kemah Budaya 2019.

Tokoh Seniman Jawa Timur lain, Meimura, dalam Orasi Budayanya berpendapat bahwa keberadaan Rumah Budaya Pantura dengan icon Kemah Budaya ini patut dan layak dipertahankan bahkan dikembangkan. Apalagi kini telah dijamin dalam Undang-Undang RI No.5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan, bahwa Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. Sebab dengan mengadakan Kemah Budaya ini sudah menjadi bukti adanya upaya membangun peradaban, di daerah itu.

Kemah Budaya Pantura 2019 ini diikuti sekurang-kurangnya oleh 90 an peserta yang terdiri dari para pelajar (SMP dan SMA), mahasiswa, komunitas/sanggar kesenian, dan masyarakat umum yang dengan semangat dan antusias tinggi mengasah diri untuk lebih produktif dalam berkesenian, baik dari dalam Kabupaten Lamongan maupun luar Kabupaten Lamongan.

Sedang pada malamnya, turut pula hadir seniman-seniman Jawa Timur menyajikan pertunjukan disaksikan seluruh masyarakat dan peserta Kemah Budaya. Ada Meimura bersama Tim Ludruk Besutan menyajikan Ritus Trevesty; Rodli Tl bersama Sangbala Children Theater membawa lakon Kaum Klepto; Sanggar Tari Al-Maz dan Sanggar Tari Putri Pesisir sebagai penyaji Tari; dan masih banyak penyaji lain yang datang semata-mata untuk mengikuti rangkaian acara dan memeriahkan Kemah Budaya 2019.

“Dengan mengikuti Kemah Budaya ini kami merasa dapat banyak wawasan dan pengalaman baru dalam proses kreatif penciptaan sebuah karya seni. Apalagi dengan metode-metode latihan yang digunakan para mentor ini sangat kreatif dan tidak menjenuhkan. Kami sangat bersyukur untuk itu.”, terang Nuke, seorang peserta yang berasal dari Mahasiswi Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

Dengan hemat kata, dihelatnya Kemah Budaya 2019 ini mudah-mudahan menjadikan komunitas-komunitas kesenian semakin berkembang, kreatif, produktif, sehingga nantinya akan benar-benar menjadi pijakan atau pioner berkesenian di Jawa Timur pada masa depan. Dan pula akan siap menghadapi era-Revolusi Industri 4.0 menuju kehidupan masyarakat yang berperadaban luhur.

Menyongsong era-Revolusi Industri 4.0, Rumah Budaya Pantura menyelenggarakan Kemah Budaya untuk merevitalisasi Kebudayaan Nusantara.

KABAR.PACIRAN.COM - Komunitas kesenian di Jawa Timur berkumpul di GOR Desa Kemantren Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan untuk mengikuti rangkaian Kemah Budaya. Event ini diinisiasi oleh Pengurus Rumah Budaya Pantura, dengan mengusung grand-tema “Revitalisasi Kebudayaan Nusantara menyongsong era-Revolusi Industri 4.0”.

Selaku Ketua Pelaksana, Deni Jazuli menuturkan: “Diadakan Kemah Budaya ini, kami berharap agar komunitas-komunitas kesenian (yang menjadi peserta) dapat lebih berkembang, kokoh dan siap untuk bersaing menghadapi era-globalisai dan revolusi industri yang semakin canggih nantinya.”

Dalam perhelatan event tersebut, penyelenggara membagi fokus pendalaman materi ke dalam beberapa bidang dengan metode workshop proses kreatif penciptaan karya seni. Yakni seni teater, seni tari, seni batik, dan seni pedalangan (wayang kontemporer). Beberapa tokoh lintas Jawa Timur dihadirkan untuk memantik materi sesuai dengan keahlian dan basic masing-masing. Ada Mahendra Cipta asal (Language Theater Indonesia) Sumenep, Galuh T. Utama (Komite Teater Dewan Kesenian Jawa Timur), dan Dody Yan Masfa (Teater Tobong) Surabaya; sebagai pemantik materi Seni Teater. Ada juga Ki Ompong Sudarsono asal Temanggung selaku yang didapuk menjadi pemantik materi Seni Pedalangan Wayang Kontemporer; dan Workshop Membatik diampu oleh Tim dari Batik Sendang.

Rumah Budaya Pantura adalah sebuah sarana kebudayaan yang didirikan atas semangat berkesenian para insan di sepanjang wilayah pesisir Pantai Utara Kab. Lamongan. Komunitas ini lahir atas kesadaran para pemuda yang rindu akan peradaban peninggalan nenek moyang mereka, dahulu kala. Meski digerus arus globalisasi dan industri yang semakin hari semakin merimba di sekelilingnya, Rumah Budaya Pantura akan tetap berdiri kokoh dalam ‘nguri-nguri kabudayan’. Beberapa aktifitas kesenian juga kerap diselenggarakan. Bahkan yang paling terakhir, Pengurus Rumah Budaya Pantura mengadakan riset mengenai kebudayaan masyarakat pesisir di tengah kehidupan yang semakin modern.

“Saya melihat ada gelombang besar gerakan kebudayaan yang muncul dari wilayah pesisir, termasuk adanya Rumah Budaya Pantura yang menginisiasi Kemah Budaya ini. Bisa jadi, Rumah Budaya Pantura ini menjadi pioner atau semacam pijakan baru bagi masa depan kesenian Jawa Timur.”, ujar Dody Yan Masfa, seorang tokoh Teater Jawa Timur yang didapuk selaku pemateri di Kemah Budaya 2019.

Tokoh Seniman Jawa Timur lain, Meimura, dalam Orasi Budayanya berpendapat bahwa keberadaan Rumah Budaya Pantura dengan icon Kemah Budaya ini patut dan layak dipertahankan bahkan dikembangkan. Apalagi kini telah dijamin dalam Undang-Undang RI No.5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan, bahwa Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. Sebab dengan mengadakan Kemah Budaya ini sudah menjadi bukti adanya upaya membangun peradaban, di daerah itu.

Kemah Budaya Pantura 2019 ini diikuti sekurang-kurangnya oleh 90 an peserta yang terdiri dari para pelajar (SMP dan SMA), mahasiswa, komunitas/sanggar kesenian, dan masyarakat umum yang dengan semangat dan antusias tinggi mengasah diri untuk lebih produktif dalam berkesenian, baik dari dalam Kabupaten Lamongan maupun luar Kabupaten Lamongan.

Sedang pada malamnya, turut pula hadir seniman-seniman Jawa Timur menyajikan pertunjukan disaksikan seluruh masyarakat dan peserta Kemah Budaya. Ada Meimura bersama Tim Ludruk Besutan menyajikan Ritus Trevesty; Rodli Tl bersama Sangbala Children Theater membawa lakon Kaum Klepto; Sanggar Tari Al-Maz dan Sanggar Tari Putri Pesisir sebagai penyaji Tari; dan masih banyak penyaji lain yang datang semata-mata untuk mengikuti rangkaian acara dan memeriahkan Kemah Budaya 2019.

“Dengan mengikuti Kemah Budaya ini kami merasa dapat banyak wawasan dan pengalaman baru dalam proses kreatif penciptaan sebuah karya seni. Apalagi dengan metode-metode latihan yang digunakan para mentor ini sangat kreatif dan tidak menjenuhkan. Kami sangat bersyukur untuk itu.”, terang Nuke, seorang peserta yang berasal dari Mahasiswi Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

Dengan hemat kata, dihelatnya Kemah Budaya 2019 ini mudah-mudahan menjadikan komunitas-komunitas kesenian semakin berkembang, kreatif, produktif, sehingga nantinya akan benar-benar menjadi pijakan atau pioner berkesenian di Jawa Timur pada masa depan. Dan pula akan siap menghadapi era-Revolusi Industri 4.0 menuju kehidupan masyarakat yang berperadaban luhur.

Load Comments

Subscribe Our Newsletter