Bagaimana Jika Ibumu Bukan Ibu Terbaik di Dunia? Bukan Pula Ibu Yang Sempurna? - Kabar Paciran -->
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik
KABAR.PACIRAN.COM - Surat terbuka dari anakmu, untukmu ibu

Bagaimana jika ibumu bukan ibu terbaik di dunia?
Bagaimana jika ibumu bukan ibu yang sempurna?

Tak seperti bait-bait puisi, tak seindah gambaran perempuan-perempuan mulia berhati surga, tak sama seperti orang lain ceritakan tentang kasih sayang dan begitu lembut sikapnya.
Barangkali dia memarahimu dengan kata-kata yang menyakiti hati, dia juga meremehkanmu dan tak mempercayaimu. Sialnya dia baik pada orang lain, mungkin kakak atau adikmu, mungkin orang lain yang bukan dirimu.
Betapa menyebalkannya mendengarkan pujian berlompatan dari lidahnya, Semuanya yang bukan dan tidak pernah tentang dirimu.

Barangkali dia bukan ibu yang lembut, tak pernah seperti puisi. Sejak kecil kau terbiasa dipukul olehnya, dibesarkan dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya. Dia sepertinya tak pernah benar-benar menyayangimu. Sialnya kau tak bisa memilih untuk dilahirkan ke dunia dari rahim milik siapa.

Di sekolah kau tak ingin membuat dia bangga, untuk apa? Dia hanya mementingkan kehidupannya sendiri, sibuk dengan pekerjaanya.
Menjelang menjalani kehidupan baru dengan pasangan yang kau pilih, masih saja dia ikut campur dengan masalah restu.
Dimasa tuanya kau masih mendengar kemarah-marahannya. Kau muak pada tubuh ringkihnya yang sakit-sakitan. Pada kesempatan yang sama, kau tak mungkin meninggalkannya, mencampakkanya sendirian.

Barangkali sabda tentang surga dibawah telapak kakinya selalu menjadi sesuatu yang tak dapat kau mengerti. Sementara tak ada lain lagi perempuan yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan dan memberi kesempatan hidup di dunia. Sementara kau tau, tak ada lagi yang kau butuhkan untuk hidup bahagia selain  restu dan perkenannya.

Maka tentang restu ibu, barangkali soal masa depan. Bagaimana anak ditakdirkan untuk menjadi lebih dewasa dan bijaksana daripada orang tua mereka.

Untukmu yang mengalami ini semua, Betapa hebatnya pengorbanannya di saat-saat ia melahirkan kita ke dunia, mustahil bagi kita untuk mengingatnya.
Barangkali cara mendidiknya, membesarkannya adalah cara terbaiknya untu mengantarkanmu sukses pada saat ini. Barangkali caranya memberikan restu adalah jalan petunjuk dariNya melalui tutur katanya.

Maka hari ini katakanlah, “kita adalah kita buk, yang barangkali berbeda dengan anak dan ibu lainnya. Kita adalah nasib, jalan hidup dan kesunyian masing-masing.

Maka maafkanlah aku atas segala perlakuan dan kata-kata burukku. Maafkan aku untuk semua amarah yang pernah kuungkapkan atau kusimpan dalam diam.

Terimakasih telah menjadi motivator terbaikku, buk. Terimakasih karena bagaimanapun tak ada yang bisa menggantikanmu untuk melahirkan dan membesarkanku.

Tuhan selalu  memberikan ibu yang kuat untuk anak-anaknya yang keras kepala. Terimakasih telah mengorbankanku masa lalumu untuk masa depanku. Terimakasih telah menjadi dirimu yang selelau cukup untuk diriku.

Sesuatu yang jika kelak anak-anakku menanyakannya, akan ku ceritakan semuanya dengan rasa bangga dan lega.  Maka akan kuperkenalkan engkau sebagai ibukku.

Sesuatu yang jika aku pergi untuk selama-lamanya, dan tak mungkin pulang lagi kerumahmu, ke pelukanmu, aku tak akan sedikitpun merasa takut atau malu karena ku telah menggegam restumu
Barangkali ibu kita bukan ibu terbaik didunia, sebab kita juga bukan anak-anak terbaik di dunia.

Selamat menikmati masa tuamu, mengingat kata kasar-kasarmu pada masa lalu, selamat berbahagia atas  jalan yang kau pilih untuk mengantarkan kesuksesan anakmu pada saat ini.

Desember, 2019
Dedi Kurniawan
RUMAH TANGGA

Bagaimana Jika Ibumu Bukan Ibu Terbaik di Dunia? Bukan Pula Ibu Yang Sempurna?

KABAR.PACIRAN.COM - Surat terbuka dari anakmu, untukmu ibu

Bagaimana jika ibumu bukan ibu terbaik di dunia?
Bagaimana jika ibumu bukan ibu yang sempurna?

Tak seperti bait-bait puisi, tak seindah gambaran perempuan-perempuan mulia berhati surga, tak sama seperti orang lain ceritakan tentang kasih sayang dan begitu lembut sikapnya.
Barangkali dia memarahimu dengan kata-kata yang menyakiti hati, dia juga meremehkanmu dan tak mempercayaimu. Sialnya dia baik pada orang lain, mungkin kakak atau adikmu, mungkin orang lain yang bukan dirimu.
Betapa menyebalkannya mendengarkan pujian berlompatan dari lidahnya, Semuanya yang bukan dan tidak pernah tentang dirimu.

Barangkali dia bukan ibu yang lembut, tak pernah seperti puisi. Sejak kecil kau terbiasa dipukul olehnya, dibesarkan dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya. Dia sepertinya tak pernah benar-benar menyayangimu. Sialnya kau tak bisa memilih untuk dilahirkan ke dunia dari rahim milik siapa.

Di sekolah kau tak ingin membuat dia bangga, untuk apa? Dia hanya mementingkan kehidupannya sendiri, sibuk dengan pekerjaanya.
Menjelang menjalani kehidupan baru dengan pasangan yang kau pilih, masih saja dia ikut campur dengan masalah restu.
Dimasa tuanya kau masih mendengar kemarah-marahannya. Kau muak pada tubuh ringkihnya yang sakit-sakitan. Pada kesempatan yang sama, kau tak mungkin meninggalkannya, mencampakkanya sendirian.

Barangkali sabda tentang surga dibawah telapak kakinya selalu menjadi sesuatu yang tak dapat kau mengerti. Sementara tak ada lain lagi perempuan yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan dan memberi kesempatan hidup di dunia. Sementara kau tau, tak ada lagi yang kau butuhkan untuk hidup bahagia selain  restu dan perkenannya.

Maka tentang restu ibu, barangkali soal masa depan. Bagaimana anak ditakdirkan untuk menjadi lebih dewasa dan bijaksana daripada orang tua mereka.

Untukmu yang mengalami ini semua, Betapa hebatnya pengorbanannya di saat-saat ia melahirkan kita ke dunia, mustahil bagi kita untuk mengingatnya.
Barangkali cara mendidiknya, membesarkannya adalah cara terbaiknya untu mengantarkanmu sukses pada saat ini. Barangkali caranya memberikan restu adalah jalan petunjuk dariNya melalui tutur katanya.

Maka hari ini katakanlah, “kita adalah kita buk, yang barangkali berbeda dengan anak dan ibu lainnya. Kita adalah nasib, jalan hidup dan kesunyian masing-masing.

Maka maafkanlah aku atas segala perlakuan dan kata-kata burukku. Maafkan aku untuk semua amarah yang pernah kuungkapkan atau kusimpan dalam diam.

Terimakasih telah menjadi motivator terbaikku, buk. Terimakasih karena bagaimanapun tak ada yang bisa menggantikanmu untuk melahirkan dan membesarkanku.

Tuhan selalu  memberikan ibu yang kuat untuk anak-anaknya yang keras kepala. Terimakasih telah mengorbankanku masa lalumu untuk masa depanku. Terimakasih telah menjadi dirimu yang selelau cukup untuk diriku.

Sesuatu yang jika kelak anak-anakku menanyakannya, akan ku ceritakan semuanya dengan rasa bangga dan lega.  Maka akan kuperkenalkan engkau sebagai ibukku.

Sesuatu yang jika aku pergi untuk selama-lamanya, dan tak mungkin pulang lagi kerumahmu, ke pelukanmu, aku tak akan sedikitpun merasa takut atau malu karena ku telah menggegam restumu
Barangkali ibu kita bukan ibu terbaik didunia, sebab kita juga bukan anak-anak terbaik di dunia.

Selamat menikmati masa tuamu, mengingat kata kasar-kasarmu pada masa lalu, selamat berbahagia atas  jalan yang kau pilih untuk mengantarkan kesuksesan anakmu pada saat ini.

Desember, 2019
Dedi Kurniawan
RUMAH TANGGA
Load Comments

Subscribe Our Newsletter