Jawab Keluhan Abang Becak, Siswa di Lamongan Buat Aplikasi Go-Cab - Kabar Paciran -->
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik

LAMONGAN, KABAR.PACIRAN.COM — Muhammad Hariz Izzudin seorang siswa Madrasah Aliyah (MA) Sains Roudlotul Qur’an Lamongan menciptakan sebuah aplikasi ringan dengan memori rendah, bernama Go-Cab.


Inspirasi menciptakan Go-Cab sendiri muncul setelah mendengarkan curahan hati dari abang becak yang mengeluh sepi penumpang.


Maka siswa yang saat ini duduk di kelas 11 itu berangan-angan membantu para tukang becak, dengan pembuatan aplikasi Go-Cab.


“Saya biasa naik becak, tanya-tanya bapak becaknya, satu hari itu dapat berapa tarikan pak? Dia jawab kadang 3, kadang 2, kadang sehari cuma dapat Rp 10 ribu. Bapaknya juga curhat ladang rezekinya tersaingi ojek online,” kata Hariz, Minggu (23/2/2020).



Hingga Hariz terpikir membuat aplikasi becak online. Itu direalisasikan pada akhir Juli 2019. Saat ini memiliki 3 fitur pelayanan, yaitu Go-bela, Go-caktip dan Go-jet.


“Go-bela, itu untuk penumpang biasa, tapi muat lebih banyak jadi lebih menarik dari pada ojek motor biasa. Kalau Go-caktip, becak itu muatannya banyak, bisa mengirim barang-barang, misalnya dari pasar, bisa dikirim lewat Go-Caktip ini,” terangnya.


Nama Go-Cab sendiri tidak asal meniru nama sebuah aplikasi jasa transportasi online yang sudah terkenal.


“Go itu kan pergi, cab itu berasal dari pedicap atau becak, jadi Go-Cab adalah pergi menggunakan pedicab. Go-nya itu tidak melanggar hak cipta, kita sudah konsultasi juga, untuk nama dan logo juga kita sudah konsultasi,” Jelas Hariz.


Tak hanya membuat untuk transportasi tradisional becak, ada Go-jet, itu untuk pijat, dengan layanan kerja sama dengan penyandang tuna netra yang memiliki sertifikat pijat.


Hanya saja, aplikasi tersebut saat ini masih belum dirilis, karena masih dalam tahap pengembangan.


“Masih dalam tahap pengembangan. Juga masih dikenalkan dulu, bahwa Go-Cab ini ada di Lamongan. Besok mau ada yang event internasional di Jogja, tanggal 28/29 juni sampai 4 juli,” ucap Hariz, yang juga berkeingnan Go-Cab bisa dirilis di Playstore.


Lebih lanjut Hariz mengatakan, selain membuat aplikasi, ia juga berencana mengajak koperasi di Lamongan khusus becak untuk bekerjasama membantu tukang becak agar memiliki smart phone.


“Di Lamongan membeli becak dengan mencicil setiap hari, melalui koperasi Ika Teman itu. Niat saya banyak tukang becak yang tidak punya HP, itu nyicilnya sama dengan becak. Becak harganya 4 juta nyicilnya Rp 3.000 per hari. HP lebih murah,” harapnya.


Wakil Kepala Sekolah MA Sains Roudlotul Qur’an, Imron Rasyid, mengaku begiu bangga dengan karya anak didiknya tersebut.


“Ini (Go-Cab) bukan karya yang pertama. Sebelumnya juga sudah sering, sudah pernah ikut lomba di tingkat nasional, yang diselenggarakan di Unair,” kata Rasyid.


Rasyid juga mengatakan pihak sekolah akan melakukan upaya semaksimal mungkin untuk mendukungnya. Apalagi aplikasi becak online bernama Go-Cab juga untuk membantu tukang becak yang ada di Kabupaten Lamongan

Jawab Keluhan Abang Becak, Siswa di Lamongan Buat Aplikasi Go-Cab

LAMONGAN, KABAR.PACIRAN.COM — Muhammad Hariz Izzudin seorang siswa Madrasah Aliyah (MA) Sains Roudlotul Qur’an Lamongan menciptakan sebuah aplikasi ringan dengan memori rendah, bernama Go-Cab.


Inspirasi menciptakan Go-Cab sendiri muncul setelah mendengarkan curahan hati dari abang becak yang mengeluh sepi penumpang.


Maka siswa yang saat ini duduk di kelas 11 itu berangan-angan membantu para tukang becak, dengan pembuatan aplikasi Go-Cab.


“Saya biasa naik becak, tanya-tanya bapak becaknya, satu hari itu dapat berapa tarikan pak? Dia jawab kadang 3, kadang 2, kadang sehari cuma dapat Rp 10 ribu. Bapaknya juga curhat ladang rezekinya tersaingi ojek online,” kata Hariz, Minggu (23/2/2020).



Hingga Hariz terpikir membuat aplikasi becak online. Itu direalisasikan pada akhir Juli 2019. Saat ini memiliki 3 fitur pelayanan, yaitu Go-bela, Go-caktip dan Go-jet.


“Go-bela, itu untuk penumpang biasa, tapi muat lebih banyak jadi lebih menarik dari pada ojek motor biasa. Kalau Go-caktip, becak itu muatannya banyak, bisa mengirim barang-barang, misalnya dari pasar, bisa dikirim lewat Go-Caktip ini,” terangnya.


Nama Go-Cab sendiri tidak asal meniru nama sebuah aplikasi jasa transportasi online yang sudah terkenal.


“Go itu kan pergi, cab itu berasal dari pedicap atau becak, jadi Go-Cab adalah pergi menggunakan pedicab. Go-nya itu tidak melanggar hak cipta, kita sudah konsultasi juga, untuk nama dan logo juga kita sudah konsultasi,” Jelas Hariz.


Tak hanya membuat untuk transportasi tradisional becak, ada Go-jet, itu untuk pijat, dengan layanan kerja sama dengan penyandang tuna netra yang memiliki sertifikat pijat.


Hanya saja, aplikasi tersebut saat ini masih belum dirilis, karena masih dalam tahap pengembangan.


“Masih dalam tahap pengembangan. Juga masih dikenalkan dulu, bahwa Go-Cab ini ada di Lamongan. Besok mau ada yang event internasional di Jogja, tanggal 28/29 juni sampai 4 juli,” ucap Hariz, yang juga berkeingnan Go-Cab bisa dirilis di Playstore.


Lebih lanjut Hariz mengatakan, selain membuat aplikasi, ia juga berencana mengajak koperasi di Lamongan khusus becak untuk bekerjasama membantu tukang becak agar memiliki smart phone.


“Di Lamongan membeli becak dengan mencicil setiap hari, melalui koperasi Ika Teman itu. Niat saya banyak tukang becak yang tidak punya HP, itu nyicilnya sama dengan becak. Becak harganya 4 juta nyicilnya Rp 3.000 per hari. HP lebih murah,” harapnya.


Wakil Kepala Sekolah MA Sains Roudlotul Qur’an, Imron Rasyid, mengaku begiu bangga dengan karya anak didiknya tersebut.


“Ini (Go-Cab) bukan karya yang pertama. Sebelumnya juga sudah sering, sudah pernah ikut lomba di tingkat nasional, yang diselenggarakan di Unair,” kata Rasyid.


Rasyid juga mengatakan pihak sekolah akan melakukan upaya semaksimal mungkin untuk mendukungnya. Apalagi aplikasi becak online bernama Go-Cab juga untuk membantu tukang becak yang ada di Kabupaten Lamongan

Load Comments

Subscribe Our Newsletter