Istiqamah Merawat Seni Kentrung Lamongan, Putranya Menjadi Penerus - Kabar Paciran
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik

LAMONGAN, KABAR.PACIRAN.COM — Kentrung Lamongan, menjadi satu di antara seni pertunjukan asli Lamongan, Jawa Timur. Kentrung sebagai warisan adiluhung yang sangat bernilai dan menunjukkan bukti Indonesia kaya akan seni dan budaya daerah dengan ciri khasnya tersendiri.


Yazid
Yazid,putra Mbah Khusairi penerus seni Kentrung Lamongan (kaos merah)


Seni dan pertunjukan tradisional, Kentrung, sebagai warisan dan kekayaan yang sangat bernilai, yang sekaligus menjadi lambang kepribadian Lamongan yang tentu harus tetap dijaga dan dirawat agar dapat menjadi warisan dari generasi ke generasi.


Kentrung yang menjadi aset berharga semakin luntur dan langka ini, sedang dalam posisi diambang kepunahan. Apalagi dengan seiring meninggalnya Dalang Kentrung, H Ahmad Kusairi atau yang biasa disapa Mbah Kusyairi, dalang Kentrung dari Desa/Kecamatan Solokuro.


Seni-Kentrung-Lamongan.jpg
Anak Mbah Kusairi, Yazid, Dalang Kentrung tampil di depan publik ke untuk pertama kalinya, dalam momen tribute to Mbah Kusairi yang bertema.


Untuk menjaga dan merawat warisan seni dan budaya itu, Dewan Kesenian Lamongan (DKL) dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Lamongan, dengan menggelar Workshop dengan tema "Tradisi Lisan dan Sastra Kentrung", di Aula Disparbud, Sabtu, (7/3/2020) malam WIB.


Seni-Kentrung-Lamongan-2.jpg


"Workshop ini adalah salah satu upaya untuk mengangkat kembali Kentrung ke permukaan," tutur Mifta Alamuddin, Kabid Kebudayaan Disparbud Lamongan, Minggu, (8/3/2020).


Disparbud meyakini, workshop dan memberikan kesempatan anak Mbah Kusairi, Yazid, untuk tampil ke publik ke untuk pertama kalinya ini menjadi formula untuk kembali membangkitkan Kentrung agar bisa tetap eksis dan diterima oleh kaum milenial.


"Kami mencari formula yang pas agar Kentrung bisa kembali eksis," kata Udin dalam momen tribute to Mbah Kusairi yang bertema "Membumikan Kentrung sebagai Warisan Budaya".


Untuk diketahui, Kentrung yang merupakan kesenian teater tradisional asli Lamongan, yang asal istilah penamaan Kentrung, diambil dari suara musiknya yang berbunyi "tung, tung, tung' ini.


Kentrung juga bisa diartikan “ngreken perkoro isane jluntrung”, yang penyampaiannya dengan cara bercerita (bertutur) dengan bahasa Jawa.


Selama pertunjukan, Kentrung terkadang dimainkan oleh satu orang pemain, sekaligus berperan sebagai Dalang Kentrung yang bertugas memainkan alat musik dan menuturkan cerita.


Ini biasanya disebut Kentrung ontang-anting. Namun, ada pula yang beranggotakan 10 pemain saat tampil, dengan satu orang berperan sebagai dalang, dua sinden, satu pembaca mocopat dan enam pemusik.


Cerita-cerita dalam penyajian Kentrung biasanya seperti cerita Sunan Drajat, Panji Laras-Liris, Syekh Subakir dan cerita Wali Songo. Namun juga bisa menyesuaikan dengan tema yang diminta penanggap dengan diiringi instrumen musik Kentrung menggunakan rebana.


Penggunaan dua rebana (rebana berukuran besar dan rebana berukuran kecil) yang selalu dimainkan dalam Kentrung, dan pakaian dalang yang menggunakan jubah dan sorban, menjadi ciri khas Kentrung Lamongan.


"Di Lamongan, Kentrung bernuansa Islami, baik dari kostum yang memakai jubah dan sorban, maupun dari segi cerita yang biasanya berasal dari kisah Sunan Drajat, Sunan Giri dan Sunan Kalijaga yang kemudian di tengah-tengah ditambahkan tentang cerita-cerita lokal dan juga cerita riwayat para nabi," tutur Yazid, yang kini meneruskan profesi sang ayah.


Seni-Kentrung-Lamongan-3.jpg


Lebih lanjut, Yazid mengungkapkan, Kentrung Lamongan mengandung tiga unsur. Ada budaya, dakwah dan sejarah yang disampaikan ke penonton.


"Kentrung ini biasanya ditampilkan ketika pernikahan, sunatan atau tingkepan, sedekah Bumi, haul sunan-sunan, peringatan lahirnya suatu daerah atau desa," ujarnya.


Disisi lain, Rodli TL, pemerhati budaya, membeberkan, Kentrung merupakan satu di antara kemasan sastra lisan yang dimainkan oleh seorang dalang tanpa wayang yang sekaligus menjadi panjak (penabuh alat musik).


Kentrung, membawakan cerita yang kebanyakan tentang juru dakwah kebaikan dan tantangannya.


Namun, sambung Rodli, perkembangan Kentrung semakin ditinggalkan generasinya Mbah Kusairi. Padahal, dikatakannya, Kentrung sampai sekarang diyakini memiliki spirit yang cukup tinggi untuk merekatkan antar masyarakat dan mendekatkan pada Tuhan.


Sementara, Welly Suryandoko, Dosen Jurusan Sendratasik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menguraikan, Kentrung Lamongan adalah seni teater tradisional yang bisa digolongkan dalam kentrung ontang anting.


Sebab, Kentrung Lamongan biasanya hanya terdapat satu pemain dalam penyajian pertunjukannya.


Menurutnya, aksi dalang Kentrung Lamongan yang memukul rebana, adalah bagian dari akting yang memberikan peran sebagai suspend dalam cerita.


"Dalang Kentrung Lamongan yang bercerita tidak melakukan gerakan seperti menari ataupun berdiri sebagai bagian dari pertunjukan, melainkan hanya duduk di tempat dan menuturkan ceritanya," kata Welly.


sumber: timesindonesia.co.id

Istiqamah Merawat Seni Kentrung Lamongan, Putranya Menjadi Penerus

LAMONGAN, KABAR.PACIRAN.COM — Kentrung Lamongan, menjadi satu di antara seni pertunjukan asli Lamongan, Jawa Timur. Kentrung sebagai warisan adiluhung yang sangat bernilai dan menunjukkan bukti Indonesia kaya akan seni dan budaya daerah dengan ciri khasnya tersendiri.


Yazid
Yazid,putra Mbah Khusairi penerus seni Kentrung Lamongan (kaos merah)


Seni dan pertunjukan tradisional, Kentrung, sebagai warisan dan kekayaan yang sangat bernilai, yang sekaligus menjadi lambang kepribadian Lamongan yang tentu harus tetap dijaga dan dirawat agar dapat menjadi warisan dari generasi ke generasi.


Kentrung yang menjadi aset berharga semakin luntur dan langka ini, sedang dalam posisi diambang kepunahan. Apalagi dengan seiring meninggalnya Dalang Kentrung, H Ahmad Kusairi atau yang biasa disapa Mbah Kusyairi, dalang Kentrung dari Desa/Kecamatan Solokuro.


Seni-Kentrung-Lamongan.jpg
Anak Mbah Kusairi, Yazid, Dalang Kentrung tampil di depan publik ke untuk pertama kalinya, dalam momen tribute to Mbah Kusairi yang bertema.


Untuk menjaga dan merawat warisan seni dan budaya itu, Dewan Kesenian Lamongan (DKL) dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Lamongan, dengan menggelar Workshop dengan tema "Tradisi Lisan dan Sastra Kentrung", di Aula Disparbud, Sabtu, (7/3/2020) malam WIB.


Seni-Kentrung-Lamongan-2.jpg


"Workshop ini adalah salah satu upaya untuk mengangkat kembali Kentrung ke permukaan," tutur Mifta Alamuddin, Kabid Kebudayaan Disparbud Lamongan, Minggu, (8/3/2020).


Disparbud meyakini, workshop dan memberikan kesempatan anak Mbah Kusairi, Yazid, untuk tampil ke publik ke untuk pertama kalinya ini menjadi formula untuk kembali membangkitkan Kentrung agar bisa tetap eksis dan diterima oleh kaum milenial.


"Kami mencari formula yang pas agar Kentrung bisa kembali eksis," kata Udin dalam momen tribute to Mbah Kusairi yang bertema "Membumikan Kentrung sebagai Warisan Budaya".


Untuk diketahui, Kentrung yang merupakan kesenian teater tradisional asli Lamongan, yang asal istilah penamaan Kentrung, diambil dari suara musiknya yang berbunyi "tung, tung, tung' ini.


Kentrung juga bisa diartikan “ngreken perkoro isane jluntrung”, yang penyampaiannya dengan cara bercerita (bertutur) dengan bahasa Jawa.


Selama pertunjukan, Kentrung terkadang dimainkan oleh satu orang pemain, sekaligus berperan sebagai Dalang Kentrung yang bertugas memainkan alat musik dan menuturkan cerita.


Ini biasanya disebut Kentrung ontang-anting. Namun, ada pula yang beranggotakan 10 pemain saat tampil, dengan satu orang berperan sebagai dalang, dua sinden, satu pembaca mocopat dan enam pemusik.


Cerita-cerita dalam penyajian Kentrung biasanya seperti cerita Sunan Drajat, Panji Laras-Liris, Syekh Subakir dan cerita Wali Songo. Namun juga bisa menyesuaikan dengan tema yang diminta penanggap dengan diiringi instrumen musik Kentrung menggunakan rebana.


Penggunaan dua rebana (rebana berukuran besar dan rebana berukuran kecil) yang selalu dimainkan dalam Kentrung, dan pakaian dalang yang menggunakan jubah dan sorban, menjadi ciri khas Kentrung Lamongan.


"Di Lamongan, Kentrung bernuansa Islami, baik dari kostum yang memakai jubah dan sorban, maupun dari segi cerita yang biasanya berasal dari kisah Sunan Drajat, Sunan Giri dan Sunan Kalijaga yang kemudian di tengah-tengah ditambahkan tentang cerita-cerita lokal dan juga cerita riwayat para nabi," tutur Yazid, yang kini meneruskan profesi sang ayah.


Seni-Kentrung-Lamongan-3.jpg


Lebih lanjut, Yazid mengungkapkan, Kentrung Lamongan mengandung tiga unsur. Ada budaya, dakwah dan sejarah yang disampaikan ke penonton.


"Kentrung ini biasanya ditampilkan ketika pernikahan, sunatan atau tingkepan, sedekah Bumi, haul sunan-sunan, peringatan lahirnya suatu daerah atau desa," ujarnya.


Disisi lain, Rodli TL, pemerhati budaya, membeberkan, Kentrung merupakan satu di antara kemasan sastra lisan yang dimainkan oleh seorang dalang tanpa wayang yang sekaligus menjadi panjak (penabuh alat musik).


Kentrung, membawakan cerita yang kebanyakan tentang juru dakwah kebaikan dan tantangannya.


Namun, sambung Rodli, perkembangan Kentrung semakin ditinggalkan generasinya Mbah Kusairi. Padahal, dikatakannya, Kentrung sampai sekarang diyakini memiliki spirit yang cukup tinggi untuk merekatkan antar masyarakat dan mendekatkan pada Tuhan.


Sementara, Welly Suryandoko, Dosen Jurusan Sendratasik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menguraikan, Kentrung Lamongan adalah seni teater tradisional yang bisa digolongkan dalam kentrung ontang anting.


Sebab, Kentrung Lamongan biasanya hanya terdapat satu pemain dalam penyajian pertunjukannya.


Menurutnya, aksi dalang Kentrung Lamongan yang memukul rebana, adalah bagian dari akting yang memberikan peran sebagai suspend dalam cerita.


"Dalang Kentrung Lamongan yang bercerita tidak melakukan gerakan seperti menari ataupun berdiri sebagai bagian dari pertunjukan, melainkan hanya duduk di tempat dan menuturkan ceritanya," kata Welly.


sumber: timesindonesia.co.id

Load Comments

Subscribe Our Newsletter