COVID-19, Ilmuwan Uji Chloroquine pada 40.000 Petugas Medis Dunia - Kabar Paciran -->
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik

KABAR.PACIRAN.COM - Para ilmuwan dan pekerja medis di seluruh dunia akan diuji coba terhadap dua obat anti-malaria yang sudah ada yang dapat membantu melindungi mereka terhadap pandemi virus corona COVID-19.


Seperti dikutip Science, uji coba itu akan melibatkan 40.000 dokter dan perawat di Asia, Afrika, dan Eropa yang akan diberikan chloroquine atau hydroxychloroquine, dua obat anti-malaria yang telah ada.


Obat-obatan tersebut akan digunakan dalam strategi profilaksis pra pajanan (PrEP) dan dapat dimulai bulan ini, meskipun seorang peneliti Malaria, Matthew White, menyebutnya sebagai 'proses yang sangat sulit' dan 'proses birokratis'.


"Dalam sistem perawatan kesehatan yang rapuh, jika Anda mulai merobohkan beberapa perawat dan dokter, semuanya dapat runtuh," ujar White, yang berbasis di Universitas Mahidol di Bangkok, kepada Science, sebagaimana dikutip Daily Mail, Rabu, 8 April 2020. “Jadi kami menyadari bahwa prioritasnya adalah melindungi mereka."


Percobaan ini akan memilih peserta secara acak di Asia yang menggunakan chloroquine atau plasebo kontrol selama tiga bulan sementara hydroxychloroquine akan diberikan kepada peserta di Eropa dan Afrika.


Peserta tersebut akan diminta untuk melaporkan suhu mereka melalui aplikasi atau situs web dan kemudian para peneliti akan membandingkan mereka yang bergejala dan tidak bergejala selain keparahan gejala.


Di antara manfaat dari pengujian obat-obatan tersebut secara khusus adalah kenyataan bahwa obat-obatan tersebut sudah tersedia dan dapat digunakan secara massal tepat waktu.


"Daya tarik obat-obatan ini adalah bahwa obat-obatan tersebut berpotensi mudah digunakan dan kita tahu banyak tentang mereka," kata White kepada Science.


Di sisi lain, para peneliti juga telah berhati-hati untuk menggunakan obat-obatan tersebut bahkan meski ada bukti awal bahwa obat tersebut mungkin efektif karena orang dengan kondisi lain bergantung pada obat itu untuk mengobati lupus dan rheumatoid arthritis.


Yayasan Bill dan Melinda Gates menjalankan sebuah studi berbarengan terkait obat itu di Afrika, Amerika Utara, dan Eropa sementara studi terpisah sedang berlangsung di Amerika Serikat, Australia, Kanada, Spanyol, dan Meksiko.


Sebuah obat pencegahan yang berbeda, nitazoxanide, juga sedang dipertimbangkan oleh para peneliti dan biasanya digunakan untuk mengobati infeksi parasit serta serum kaya anti-bodi yang dibuat dari orang yang telah pulih dari virus itu.


"Jika ada obat yang dapat mencegah infeksi dan petugas kesehatan dapat meminumnya, itu akan memberi manfaat kesehatan masyarakat yang sangat besar," ujar Jeremy Farrar, kepala Wellcome Trust, yang mendanai upaya White, kepada Science.


(MKD)
Sumber: dailymail.com, sciencemag.org via tempo.co

COVID-19, Ilmuwan Uji Chloroquine pada 40.000 Petugas Medis Dunia

KABAR.PACIRAN.COM - Para ilmuwan dan pekerja medis di seluruh dunia akan diuji coba terhadap dua obat anti-malaria yang sudah ada yang dapat membantu melindungi mereka terhadap pandemi virus corona COVID-19.


Seperti dikutip Science, uji coba itu akan melibatkan 40.000 dokter dan perawat di Asia, Afrika, dan Eropa yang akan diberikan chloroquine atau hydroxychloroquine, dua obat anti-malaria yang telah ada.


Obat-obatan tersebut akan digunakan dalam strategi profilaksis pra pajanan (PrEP) dan dapat dimulai bulan ini, meskipun seorang peneliti Malaria, Matthew White, menyebutnya sebagai 'proses yang sangat sulit' dan 'proses birokratis'.


"Dalam sistem perawatan kesehatan yang rapuh, jika Anda mulai merobohkan beberapa perawat dan dokter, semuanya dapat runtuh," ujar White, yang berbasis di Universitas Mahidol di Bangkok, kepada Science, sebagaimana dikutip Daily Mail, Rabu, 8 April 2020. “Jadi kami menyadari bahwa prioritasnya adalah melindungi mereka."


Percobaan ini akan memilih peserta secara acak di Asia yang menggunakan chloroquine atau plasebo kontrol selama tiga bulan sementara hydroxychloroquine akan diberikan kepada peserta di Eropa dan Afrika.


Peserta tersebut akan diminta untuk melaporkan suhu mereka melalui aplikasi atau situs web dan kemudian para peneliti akan membandingkan mereka yang bergejala dan tidak bergejala selain keparahan gejala.


Di antara manfaat dari pengujian obat-obatan tersebut secara khusus adalah kenyataan bahwa obat-obatan tersebut sudah tersedia dan dapat digunakan secara massal tepat waktu.


"Daya tarik obat-obatan ini adalah bahwa obat-obatan tersebut berpotensi mudah digunakan dan kita tahu banyak tentang mereka," kata White kepada Science.


Di sisi lain, para peneliti juga telah berhati-hati untuk menggunakan obat-obatan tersebut bahkan meski ada bukti awal bahwa obat tersebut mungkin efektif karena orang dengan kondisi lain bergantung pada obat itu untuk mengobati lupus dan rheumatoid arthritis.


Yayasan Bill dan Melinda Gates menjalankan sebuah studi berbarengan terkait obat itu di Afrika, Amerika Utara, dan Eropa sementara studi terpisah sedang berlangsung di Amerika Serikat, Australia, Kanada, Spanyol, dan Meksiko.


Sebuah obat pencegahan yang berbeda, nitazoxanide, juga sedang dipertimbangkan oleh para peneliti dan biasanya digunakan untuk mengobati infeksi parasit serta serum kaya anti-bodi yang dibuat dari orang yang telah pulih dari virus itu.


"Jika ada obat yang dapat mencegah infeksi dan petugas kesehatan dapat meminumnya, itu akan memberi manfaat kesehatan masyarakat yang sangat besar," ujar Jeremy Farrar, kepala Wellcome Trust, yang mendanai upaya White, kepada Science.


(MKD)
Sumber: dailymail.com, sciencemag.org via tempo.co

Load Comments

Subscribe Our Newsletter