Covid-19 : Kehidupan Sosial dan Kehidupan Ber-Agama - Kabar Paciran
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik
Sejak pertama kali virus ini terdeteksi di Wuhan, China, pada Desember 2019, wabah ini telah berkembang sangat cepat. WHO lalu melabeli wabah virus corona atau Covid-19 ini sebagai pandemi global. Indonesia menjadi salah satu negara positif corona (Covid-19). Kasus pertama yang terjadi di tanah air menimpa dua warga Depok, Jawa Barat. Hal tersebut disampaikan langsung oleh presiden Joko Widodo di istana kepresidenan pada hari senin tanggal 2-3-2020.


Dalam beberapa tulisan dijelaskan beragam dampak positif maupun negatif dari pandemi corona. Penyebaran virus corona ini pada awalnya sangat berdampak pada dunia ekonomi yang mulai lesu, tetapi pada saat ini dampak tersebut sudah mulai dirasakan dalam beberapa lapisan bidang kehidupan. Sepertinya halnya pendidikan, kehidupan sosial, kehidupan beragama, dan masih banyak lagi bidang lainnya.


Dalam bidang pendidikan, kebijakan meliburkan sekolah adalah satu dampak dari pandemi corona. Secara tujuan, kebijakan tersebut perlu diapresiasi sebagai langkah sigap menyikapi wabah Virus Corona. Pun juga kebijakan tersebut sangat efektiv untuk menangkal menularnya wabah virus corona. Tapi apakah para pelajar tersebut memahami maksut dan tujuan dari kebijakan tersebut? Selanjutnya, apakah para pelajar bisa mengimplementasikan maksut dan tujuan kebijakan tersebut?

Kegagapan dan kurangnya edukasi terhadap masyarakat dan bertebarannya informasi hoax semakin memperkeruh dampak dari pandemi Covid-19. Seperti halnya pada kehidupan ber-agama dan kehidupan sosial.

Kehidupan Ber-Agama

Hasil keputusan dan kebijakan pemerintah, Majelis Ulama Indonesia, dan beberapa organisasi masyarakat yang berada di Indonesia menjadi bahan perbincangan dan perdebatan dilapisan masyarakat. Kebijakan tersebut salah satunya adalah meniadakan sholat berjamah, meniadakan sholat Jum’at yang kemudian diganti dengan sholat Dzuhur dirumah, meniadakan sholat tarawih pada bulan Ramadhan nanti. Kebijakan tersebut menjadi sebuah perdebatan dalam lapisan masyarakat.

Dalam buku Islam Tuhan, Islam Manusia karya Haidar Bagir yang diterbitkan oleh Mizan terdapat sebuah penjelasan. Suatu Rasulullah Saw. Membuat garis dengan tangan beliau sendir. “inilah jalan Allah yang lurus”. Kemudian beliau membuat garis lagi ditepi kanan dan kirinya. “inilah jalan-jalan (yang lain). Tidak satu jalan pun darinya, kecuali terdapat setan yang menyeru kepadanya”. Kemudian beliau membaca ayat, “dan sungguh inilah jalan-ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya” (QS Al-An’am [6]).

Garis yang dipilih oleh Nabi bukanlah yang kanan maupun kiri, namun yang diapit keduanya: garis tengah. Secara simbolik, ini mempepertegas bahwa watak dasar islam yang sejatinya adalah moderasi (moderat), tengah-tengah.

Selain persoalan duniawi, dalam aktivitas ibadah yang amat sakral sekalipun Nabi melarang Ekstremisme. Kisah populer tentang tiga pemuda yang ingin beribadah secara total-beribadah selamanya, berpuasa seumur hidup, dan tidak menikah namun justru dilarang oleh nabi.

Ajaran islam identik dengan kemudahan (bukan memudahkan). Didalam Islam, beragam bukanlah mengambil jalan hidup yang sulit, yang memasung, dan anti kemajuan. “sesungguhnya agama (Islam) ini mudah, maka siapapun yang membuatnya sulit, ia akan terkalahkan. Maka bersahajalah, jangan berlebihan, dan berbahgialah”. sabda Nabi melalui periwayatan Abu Hurairah.

Muslim sejati, dengan demikian, sesungguhnya adalah muslim yang memegang teguh prinsip moderasi dalam segenap lini kehidupannya, bahkan dalma kehidupan beribadah sekalipun. Begitu dijelaskan oleh haidar bagir dalam bukunya Islam Tuhan, Islam Manusia.

Maka dalam menanggapi kebijakan pemerintah, MUI, dan Organisasi Masyarakat tentunya kita harus Sami’na Wa Atho’na. tetapi jika keadaan masih memungkinkan maka tentunya ada kajian tersendiri dari tokoh masyarakat sekitar sesuai dengan keadaan lingkungan masyarakat. Karena kebijakan dan keputusan tersebut lahir berkat pemikiran moderasi para pemangku kebijakan.

Kehidupan Sosial



Manusia memiliki fitrah sebagai makhluk sosial atau dalam pengartian sederhananya adalah tidak bisa hidup sendiri serta mebutuhkan orang lain. Pada pandemi Covid-19 ini fitrah tersebut tentunya harus tetap menjadi pegangan manusia. Karena pada masa pandemi ini kita bisa tidak berdiri sendiri tanpa memikirkan oranglain.


Namun fenomena yang ada saat ini seolah fitrah manusia sebagai makhluk sosial itu hilang. Hal itu dibuktikan dengan masyarakat yang malah menjauhi orang yang positif Covid-19 bukannya malah memberikan dukungan moril atau materil. Ada lagi, beberapa masyarakat yang malah menolak jenazah positif covid-19 untuk dimakamkan di pemakaman tempat jenazah tersebut bermukim. Ini tentunya menjadi catatan yang miris ditengan kehidupan diantara pandei covid-19 yang mencekam ini.


Pada saat pandemi Covid-19 ini justru fitrah kita sebagai makhluk sosial sedang diuji. Kebijakan yang memaksa masyarakat untuk bekerja dirumah, beraktivitas dirumah menjadikan sebuah dampak besar bagi perekonomian keluarga. Banyak diantara tulang punggung rumah tangga terpaksa duduk dirumah dan tidak berkerja, secara otomatis mereka tidak mampu menafkahi keluarga. Berbagai persoalan ikutan muncul akibat penghasilan yang berhenti atau turun seperti pertengkaran rumah tangga. Anak-anak pun ikut menjadi korban dalam masalah yang sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa.


Memberi dukungan baik secara moril ataupun materil adalah sebuah jawab kebijaksanaan kita sebagai makhluk sosial. Disinilah peran kita sebagai makhluk sosial bisa kita ambil, jika memang tidak bisa membantu secara materil (uang, barang) masih ada pilihan lain bagi kita untuk bisa membantu secara moril. Memberi dukungan kepada mereka yang terdampak baik yang positif covid-19 maupun mereka yang terdampak dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).


Berstigma buruk bahkan menjauhi orang yang positiv Covid-19 dan menolak jenazah Covid-19 untuk dimakamkan di pemakaman tempat jenazah bermukim adalah kesalahan berfikir dalam memahami Covid-19.


Kita tidak tau kapan covid-19 ini berakhir, namun yang perlu diyakini bahwa setelah Covid-19 ini berakhir masyarakat telah terdidik menjadi manusia yang lebih bijaksana dan dewasa dalam memahami kehidupan beragama dan kehidupan sosial.


Penulis: Dedi Kurniawan | Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur

Covid-19 : Kehidupan Sosial dan Kehidupan Ber-Agama

Sejak pertama kali virus ini terdeteksi di Wuhan, China, pada Desember 2019, wabah ini telah berkembang sangat cepat. WHO lalu melabeli wabah virus corona atau Covid-19 ini sebagai pandemi global. Indonesia menjadi salah satu negara positif corona (Covid-19). Kasus pertama yang terjadi di tanah air menimpa dua warga Depok, Jawa Barat. Hal tersebut disampaikan langsung oleh presiden Joko Widodo di istana kepresidenan pada hari senin tanggal 2-3-2020.


Dalam beberapa tulisan dijelaskan beragam dampak positif maupun negatif dari pandemi corona. Penyebaran virus corona ini pada awalnya sangat berdampak pada dunia ekonomi yang mulai lesu, tetapi pada saat ini dampak tersebut sudah mulai dirasakan dalam beberapa lapisan bidang kehidupan. Sepertinya halnya pendidikan, kehidupan sosial, kehidupan beragama, dan masih banyak lagi bidang lainnya.


Dalam bidang pendidikan, kebijakan meliburkan sekolah adalah satu dampak dari pandemi corona. Secara tujuan, kebijakan tersebut perlu diapresiasi sebagai langkah sigap menyikapi wabah Virus Corona. Pun juga kebijakan tersebut sangat efektiv untuk menangkal menularnya wabah virus corona. Tapi apakah para pelajar tersebut memahami maksut dan tujuan dari kebijakan tersebut? Selanjutnya, apakah para pelajar bisa mengimplementasikan maksut dan tujuan kebijakan tersebut?

Kegagapan dan kurangnya edukasi terhadap masyarakat dan bertebarannya informasi hoax semakin memperkeruh dampak dari pandemi Covid-19. Seperti halnya pada kehidupan ber-agama dan kehidupan sosial.

Kehidupan Ber-Agama

Hasil keputusan dan kebijakan pemerintah, Majelis Ulama Indonesia, dan beberapa organisasi masyarakat yang berada di Indonesia menjadi bahan perbincangan dan perdebatan dilapisan masyarakat. Kebijakan tersebut salah satunya adalah meniadakan sholat berjamah, meniadakan sholat Jum’at yang kemudian diganti dengan sholat Dzuhur dirumah, meniadakan sholat tarawih pada bulan Ramadhan nanti. Kebijakan tersebut menjadi sebuah perdebatan dalam lapisan masyarakat.

Dalam buku Islam Tuhan, Islam Manusia karya Haidar Bagir yang diterbitkan oleh Mizan terdapat sebuah penjelasan. Suatu Rasulullah Saw. Membuat garis dengan tangan beliau sendir. “inilah jalan Allah yang lurus”. Kemudian beliau membuat garis lagi ditepi kanan dan kirinya. “inilah jalan-jalan (yang lain). Tidak satu jalan pun darinya, kecuali terdapat setan yang menyeru kepadanya”. Kemudian beliau membaca ayat, “dan sungguh inilah jalan-ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya” (QS Al-An’am [6]).

Garis yang dipilih oleh Nabi bukanlah yang kanan maupun kiri, namun yang diapit keduanya: garis tengah. Secara simbolik, ini mempepertegas bahwa watak dasar islam yang sejatinya adalah moderasi (moderat), tengah-tengah.

Selain persoalan duniawi, dalam aktivitas ibadah yang amat sakral sekalipun Nabi melarang Ekstremisme. Kisah populer tentang tiga pemuda yang ingin beribadah secara total-beribadah selamanya, berpuasa seumur hidup, dan tidak menikah namun justru dilarang oleh nabi.

Ajaran islam identik dengan kemudahan (bukan memudahkan). Didalam Islam, beragam bukanlah mengambil jalan hidup yang sulit, yang memasung, dan anti kemajuan. “sesungguhnya agama (Islam) ini mudah, maka siapapun yang membuatnya sulit, ia akan terkalahkan. Maka bersahajalah, jangan berlebihan, dan berbahgialah”. sabda Nabi melalui periwayatan Abu Hurairah.

Muslim sejati, dengan demikian, sesungguhnya adalah muslim yang memegang teguh prinsip moderasi dalam segenap lini kehidupannya, bahkan dalma kehidupan beribadah sekalipun. Begitu dijelaskan oleh haidar bagir dalam bukunya Islam Tuhan, Islam Manusia.

Maka dalam menanggapi kebijakan pemerintah, MUI, dan Organisasi Masyarakat tentunya kita harus Sami’na Wa Atho’na. tetapi jika keadaan masih memungkinkan maka tentunya ada kajian tersendiri dari tokoh masyarakat sekitar sesuai dengan keadaan lingkungan masyarakat. Karena kebijakan dan keputusan tersebut lahir berkat pemikiran moderasi para pemangku kebijakan.

Kehidupan Sosial



Manusia memiliki fitrah sebagai makhluk sosial atau dalam pengartian sederhananya adalah tidak bisa hidup sendiri serta mebutuhkan orang lain. Pada pandemi Covid-19 ini fitrah tersebut tentunya harus tetap menjadi pegangan manusia. Karena pada masa pandemi ini kita bisa tidak berdiri sendiri tanpa memikirkan oranglain.


Namun fenomena yang ada saat ini seolah fitrah manusia sebagai makhluk sosial itu hilang. Hal itu dibuktikan dengan masyarakat yang malah menjauhi orang yang positif Covid-19 bukannya malah memberikan dukungan moril atau materil. Ada lagi, beberapa masyarakat yang malah menolak jenazah positif covid-19 untuk dimakamkan di pemakaman tempat jenazah tersebut bermukim. Ini tentunya menjadi catatan yang miris ditengan kehidupan diantara pandei covid-19 yang mencekam ini.


Pada saat pandemi Covid-19 ini justru fitrah kita sebagai makhluk sosial sedang diuji. Kebijakan yang memaksa masyarakat untuk bekerja dirumah, beraktivitas dirumah menjadikan sebuah dampak besar bagi perekonomian keluarga. Banyak diantara tulang punggung rumah tangga terpaksa duduk dirumah dan tidak berkerja, secara otomatis mereka tidak mampu menafkahi keluarga. Berbagai persoalan ikutan muncul akibat penghasilan yang berhenti atau turun seperti pertengkaran rumah tangga. Anak-anak pun ikut menjadi korban dalam masalah yang sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa.


Memberi dukungan baik secara moril ataupun materil adalah sebuah jawab kebijaksanaan kita sebagai makhluk sosial. Disinilah peran kita sebagai makhluk sosial bisa kita ambil, jika memang tidak bisa membantu secara materil (uang, barang) masih ada pilihan lain bagi kita untuk bisa membantu secara moril. Memberi dukungan kepada mereka yang terdampak baik yang positif covid-19 maupun mereka yang terdampak dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).


Berstigma buruk bahkan menjauhi orang yang positiv Covid-19 dan menolak jenazah Covid-19 untuk dimakamkan di pemakaman tempat jenazah bermukim adalah kesalahan berfikir dalam memahami Covid-19.


Kita tidak tau kapan covid-19 ini berakhir, namun yang perlu diyakini bahwa setelah Covid-19 ini berakhir masyarakat telah terdidik menjadi manusia yang lebih bijaksana dan dewasa dalam memahami kehidupan beragama dan kehidupan sosial.


Penulis: Dedi Kurniawan | Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur
Load Comments

Subscribe Our Newsletter