Mengenang Patung Dewa di Klenteng Tuban yang Selalu di Cemooh Bahkan Ketika Roboh - Kabar Paciran -->
Baca artikel dan tutorial Android dan informasi gadget terbaik

Penulis
Afiqul adib | Anak Kos

Selalu ada hikmah yang bisa kita pelajari dari berbagai tempat. Itu juga yang saya rasakan ketika menikmati suasana di Klenteng Kwan Sing Bio yang berada di daerah Tuban. Klenteng yang di bangun pada tahun 1773 ini memiliki icon berupa patung raksasa yang sangat instagramable, sehingga cocok buat pamer di medsos biar kelihatan bahagia.

FYI ajah, Klenteng Kwan Sing Bio ini kabarnya menjadi Klenteng terluas di Asia Tenggara. Dan patung Dewa Kwan Sing Tee Koen setinggi 30 meter ini juga menjadi patung Panglima Perang tertinggi di Asia Tenggara. Meskipun pada tahun 2017, patung tersebut sempat ditutup karena terjadi polemik.

Klenteng ini agaknya memang selalu memancing polemik, mungkin lebih tepatnya patung yang ada di klenteng ini. Bahkan ketika patungnya roboh pun gonjang-ganjing di dunia perbacotan semakin bergejolak.

Pada hari kamis 16 april 2020 patung tersebut pun sudah tidak berdiri tegak.
Video robohnya patung ini menjadi trending topik dan dibahas di mana-mana, mulai dari grup whatsapp keluarga sampai grup alumni yang biasanya hanya rame kalau waktunya BUBER saja.
Pada video yang di uploud di beranda pesbuk @kabartuban, kita mudah sekali menemukan beberapa komentar yang lebih cocok untuk ditertawakan daripada dibuat pencerahan. (selengkapnya: https://facebook.com/762495190477779/posts/3050852194975389/?app=fbl)

Kebanyakan berkomentar bahwa rubuhnya patung tersebut memang sudah direncanakan. Alasannya sederhana, “video rubuhnya patung tersebut sangat jelas seakan memang ingin mengabadikan secara sempurna”. Mereka ingin mengatakan bahwa ada konspirasi di balik rubuhnya patung ini karena video rekaman tersebut sangat terpampang jelas.

Jika kalian bertemu dengan orang-orang yang seperti ini, tolong beritahu mereka kalau di jaman sekarang ini ada teknologi canggih bernama CCTV yang bisa digunakan untuk merekam kejadian 24 jam.
Dan tolong diberitahu juga kalau pengelola klenteng Kwan Sing Bio sangat tahu akan teknologi tersebut, kemudian memasangnya hampir di setiap sudut komplek klenteng agar mereka tahu alasan kenapa video rubuhnya patung itu sangat terpampang jelas.
Kalau mereka masih ngeyel juga, udah bakar rame-rame ajah, eh yang terahir becanda ding.

Selain komentar ala-ala konspirasi, banyak juga yang berkomentar tentang eksistensi patung tersebut seperti yang ditulis akun pesbuk Mochammad Imron “patungnya tau diri, berdiri bukan di tanah leluhurnya”. Beberapa komentar sejenis pun dapat ditemukan seperti komentar Arjuna Joss “Alhamdulillah, moga semua simbol kecinaan di Indonesia tidak membuat resah pribumi”. Ada juga yang menghubungkan dengan agama seperti “patung tempat singgahnya jin makanya Allah merobohkannya”.

Hmmmm saya ndak tahu yah segabut apa mereka saat ini sampai pemikiran liar ini menempel di kepalanya dengan nyaman. Saya hanya heran kok aneh gitu, orang normal macam apa yang terganggu dengan eksistensi patung?? Maksud saya patung gitu loh, yaelah apa sih yang diresahkan dari patung? Dia kan cuma bisa diem ajah, patung tuh ndak bisa menikung gebetan mereka, patung juga ndak punya kemampuan untuk menjadi saingan berat dalam tes CPNS. Jadi apa sih yang harus dikhawatirkan dari eksistensi sebuah patung?

Huft…
Memang sih berduka terhadap patung ndak perlu sampai tahlil 7 hari 7 malam. Selain memang physical distancing, tahlilan pada patung adalah hal sia-sia. Namun dengan tidak berkomentar negatif setidaknya beban pengelola Klenteng Kwan Sing Bio tidak bertambah. Meskipun menyumbangkan harta benda tentunya lebih berguna.

Terlepas dari semua polemik yang ada, kalau memang teliti kita bisa mengambil banyak pelajaran di Klenteng tersebut, salah satunya adalah adanya tempat ibadah di dalam komplek ibadah. Iyah, di Klenteng tersebut ada sebuah Mushola dengan keadaan bersih.

Ini menjadi sangat menarik, Artinya secara tidak langsung mereka ingin mengatakan kalau orang Islam sekedar ingin sholat yaudah tidak ada salahnya mampir ke Klenteng.
Tidak hanya itu, yang perlu di garis bawahi adalah mushola tersebut dalam keadaan bersih. Saya sering menjumpai beberapa toilet di musholla yang kurang dijaga kebersihananya, namun di klenteng ini tidak, semua bagian musholanya sangat bersih, termasuk toiletnya.

Di sana juga tidak ada larangan bagi siapapun untuk masuk ke kawasan Klenteng Kwan Sing Bio. Orang yang beragama selain Khong Hu Cu tetap boleh masuk dengan santuy, Bahkan bagi deathwood yang penghasilnnya kayak alien, alias gak ada tapi diada-adakan, tetap boleh masuk karena tidak akan ditarik biaya apapun termasuk parkir.
Mungkin ini yang dimaksud Muhammad Abduh dengan melihat Islam namun tidak melihat muslim.

Ini mengingatkan saya dengan sebuah Masjid di Kabupaten L***
Saat itu saya pengen ke toilet. Nah kebetulan di dekat sana ada sebuah Masjid, karena saya Muslim, jadi saya ndak sungkan untuk masuk Masjid meskipun cuma nyari toilet.
Namun baru lima lingkah melewati gerbang Masjid, satpam pun memanggil saya.

“Mau kemana ?”
Ke toilet pak, gak ada toiletnya kah ?
“ada sih, tapi ini Masjid, bukan toilet”
Terrrrrrrrr… terrsquckgkk…. Hiyahiyayaaa
Saya pun ahirnya hanya bisa ngangguk-ngangguk kemudian balik kanan wae

Meski hanya oknum, namun perlu direnungkan juga apakah memang perlu penjagaan tempat ibadah sampai seperti itu, bahkan untuk sesama agamanya sendiri ??
Sedangkan umat minoritas malah sangat terbuka terhadap siapapun dan golongan apapun (termasuk deatwood).

Agaknya kita memang harus belajar dari minoritas, yang mereka lakukan adalah merubah dirinya agar bisa diterima di masyarakat, bukan merubah masyarakat agar dirinya bisa menerima. Jika kita berpikir semua orang menyebalkan, maka berpikirlah lagi. Yang menyebalkan itu semua orang atau pemikiranmu terhadap orang lain saja ?

Mengenang Patung Dewa di Klenteng Tuban yang Selalu di Cemooh Bahkan Ketika Roboh


Penulis
Afiqul adib | Anak Kos

Selalu ada hikmah yang bisa kita pelajari dari berbagai tempat. Itu juga yang saya rasakan ketika menikmati suasana di Klenteng Kwan Sing Bio yang berada di daerah Tuban. Klenteng yang di bangun pada tahun 1773 ini memiliki icon berupa patung raksasa yang sangat instagramable, sehingga cocok buat pamer di medsos biar kelihatan bahagia.

FYI ajah, Klenteng Kwan Sing Bio ini kabarnya menjadi Klenteng terluas di Asia Tenggara. Dan patung Dewa Kwan Sing Tee Koen setinggi 30 meter ini juga menjadi patung Panglima Perang tertinggi di Asia Tenggara. Meskipun pada tahun 2017, patung tersebut sempat ditutup karena terjadi polemik.

Klenteng ini agaknya memang selalu memancing polemik, mungkin lebih tepatnya patung yang ada di klenteng ini. Bahkan ketika patungnya roboh pun gonjang-ganjing di dunia perbacotan semakin bergejolak.

Pada hari kamis 16 april 2020 patung tersebut pun sudah tidak berdiri tegak.
Video robohnya patung ini menjadi trending topik dan dibahas di mana-mana, mulai dari grup whatsapp keluarga sampai grup alumni yang biasanya hanya rame kalau waktunya BUBER saja.
Pada video yang di uploud di beranda pesbuk @kabartuban, kita mudah sekali menemukan beberapa komentar yang lebih cocok untuk ditertawakan daripada dibuat pencerahan. (selengkapnya: https://facebook.com/762495190477779/posts/3050852194975389/?app=fbl)

Kebanyakan berkomentar bahwa rubuhnya patung tersebut memang sudah direncanakan. Alasannya sederhana, “video rubuhnya patung tersebut sangat jelas seakan memang ingin mengabadikan secara sempurna”. Mereka ingin mengatakan bahwa ada konspirasi di balik rubuhnya patung ini karena video rekaman tersebut sangat terpampang jelas.

Jika kalian bertemu dengan orang-orang yang seperti ini, tolong beritahu mereka kalau di jaman sekarang ini ada teknologi canggih bernama CCTV yang bisa digunakan untuk merekam kejadian 24 jam.
Dan tolong diberitahu juga kalau pengelola klenteng Kwan Sing Bio sangat tahu akan teknologi tersebut, kemudian memasangnya hampir di setiap sudut komplek klenteng agar mereka tahu alasan kenapa video rubuhnya patung itu sangat terpampang jelas.
Kalau mereka masih ngeyel juga, udah bakar rame-rame ajah, eh yang terahir becanda ding.

Selain komentar ala-ala konspirasi, banyak juga yang berkomentar tentang eksistensi patung tersebut seperti yang ditulis akun pesbuk Mochammad Imron “patungnya tau diri, berdiri bukan di tanah leluhurnya”. Beberapa komentar sejenis pun dapat ditemukan seperti komentar Arjuna Joss “Alhamdulillah, moga semua simbol kecinaan di Indonesia tidak membuat resah pribumi”. Ada juga yang menghubungkan dengan agama seperti “patung tempat singgahnya jin makanya Allah merobohkannya”.

Hmmmm saya ndak tahu yah segabut apa mereka saat ini sampai pemikiran liar ini menempel di kepalanya dengan nyaman. Saya hanya heran kok aneh gitu, orang normal macam apa yang terganggu dengan eksistensi patung?? Maksud saya patung gitu loh, yaelah apa sih yang diresahkan dari patung? Dia kan cuma bisa diem ajah, patung tuh ndak bisa menikung gebetan mereka, patung juga ndak punya kemampuan untuk menjadi saingan berat dalam tes CPNS. Jadi apa sih yang harus dikhawatirkan dari eksistensi sebuah patung?

Huft…
Memang sih berduka terhadap patung ndak perlu sampai tahlil 7 hari 7 malam. Selain memang physical distancing, tahlilan pada patung adalah hal sia-sia. Namun dengan tidak berkomentar negatif setidaknya beban pengelola Klenteng Kwan Sing Bio tidak bertambah. Meskipun menyumbangkan harta benda tentunya lebih berguna.

Terlepas dari semua polemik yang ada, kalau memang teliti kita bisa mengambil banyak pelajaran di Klenteng tersebut, salah satunya adalah adanya tempat ibadah di dalam komplek ibadah. Iyah, di Klenteng tersebut ada sebuah Mushola dengan keadaan bersih.

Ini menjadi sangat menarik, Artinya secara tidak langsung mereka ingin mengatakan kalau orang Islam sekedar ingin sholat yaudah tidak ada salahnya mampir ke Klenteng.
Tidak hanya itu, yang perlu di garis bawahi adalah mushola tersebut dalam keadaan bersih. Saya sering menjumpai beberapa toilet di musholla yang kurang dijaga kebersihananya, namun di klenteng ini tidak, semua bagian musholanya sangat bersih, termasuk toiletnya.

Di sana juga tidak ada larangan bagi siapapun untuk masuk ke kawasan Klenteng Kwan Sing Bio. Orang yang beragama selain Khong Hu Cu tetap boleh masuk dengan santuy, Bahkan bagi deathwood yang penghasilnnya kayak alien, alias gak ada tapi diada-adakan, tetap boleh masuk karena tidak akan ditarik biaya apapun termasuk parkir.
Mungkin ini yang dimaksud Muhammad Abduh dengan melihat Islam namun tidak melihat muslim.

Ini mengingatkan saya dengan sebuah Masjid di Kabupaten L***
Saat itu saya pengen ke toilet. Nah kebetulan di dekat sana ada sebuah Masjid, karena saya Muslim, jadi saya ndak sungkan untuk masuk Masjid meskipun cuma nyari toilet.
Namun baru lima lingkah melewati gerbang Masjid, satpam pun memanggil saya.

“Mau kemana ?”
Ke toilet pak, gak ada toiletnya kah ?
“ada sih, tapi ini Masjid, bukan toilet”
Terrrrrrrrr… terrsquckgkk…. Hiyahiyayaaa
Saya pun ahirnya hanya bisa ngangguk-ngangguk kemudian balik kanan wae

Meski hanya oknum, namun perlu direnungkan juga apakah memang perlu penjagaan tempat ibadah sampai seperti itu, bahkan untuk sesama agamanya sendiri ??
Sedangkan umat minoritas malah sangat terbuka terhadap siapapun dan golongan apapun (termasuk deatwood).

Agaknya kita memang harus belajar dari minoritas, yang mereka lakukan adalah merubah dirinya agar bisa diterima di masyarakat, bukan merubah masyarakat agar dirinya bisa menerima. Jika kita berpikir semua orang menyebalkan, maka berpikirlah lagi. Yang menyebalkan itu semua orang atau pemikiranmu terhadap orang lain saja ?
Load Comments

Subscribe Our Newsletter