Seperti Halnya Anak Kos, Anak Toxic Parent Juga Butuh Bantuan Kala Pandemi - Kabar Paciran -->

Kemarin malam, teman saya mengirimkan pesan WA yang isinya gini “aku oleh dolen nag omahmu gak? Aku aman, suhu badan 36, gak watok, gak pilek” (aku boleh main ke rumahmu gak? Aku aman, suhu bdan 36, tidak batuk, tidak pilek).

Pesan yang lebih terkesan tutorial mengunjungi rumah teman disaat covid dengan baik dan benar tersebut, tentu saja berhasil membuat saya ngakak sejenak selama 6 detik (kalau saya tidak salah hitung), kemudian langsung hening karena saya baru “ngeh” maksud dari pesan tersebut. Saya baru ingat kalau teman saya hidup dalam toxic parent.

Dulu saya sering main ke rumahnya, meskipun tidak terlalu deket juga dengan rumah saya. Beberapa kali saya menginap di sana, sehingga saya tahu ternyata ada rumah yang tidak membuat nyaman penghuninya.

Bagi yang belum tahu, toxic parent adalah pola asuh orang tua yang tidak pas (misal otoriter atau selalu menyalahkan) sehingga membuat hubungan antara anak dan orang tua terkesan memiliki jarak. Jadi anak-anak ini hampir sama seperti brokenhome, hanya saja orang tuanya tidak berpisah.

Rumah adalah siksaan tersendiri bagi anak toxic parent, sedangkan dunia luar merupakan rumah yang nyata bagi mereka. Jadi alasan kenapa mereka sering keluyuran dan jarang pulang adalah karena mereka sedang mencari “rumah”.

Pengertian rumah bukan hanya sekedar tempat yang tidak bergerak dan melindungi dari panas dan dingin. Rumah bisa apa saja. Bisa orang, tempat makan atau bahkan jalanan. Rumah adalah sesuatu yang membuatmu betah berlama-lama dan nyaman di sana. Karena itu anak toxic parent lebih sering keluyuran, bahkan ketika malam hari. Prinsip mereka adalah "jangan kau takut pada gelap malam, bulan dan bintang semuanya teman" (auto nyanyi lagu di sayyidan).

Dalam kondisi pandemi seperti ini, saya memberanikan diri untuk bertemu dengan teman saya yang sudah mengirim WA tadi. Dan ketika bertemu, hal kedua yang ia lakukan (karena hal pertama pasti mesoh) adalah bercerita tentang pedihnya bertahan di rumah dalam masa karantina ini.

Jika saya simpulkan isi dari cerita teman saya kemarin adalah tentang kehilangan, merasa menjadi sebab masalah, selalu disalahkan, dan tak tahu harus pulang kemana.

Di masa-masa seperti ini, saya kok setuju dengan Adriano Qolbi yang mengatakan “orang yang masih menyuarakan #dirumahsaja itu ibarat ketika guru ngomong ayo tugasnya dikerjakan, kemudian kalian berdiri dan menjelaskan kepada teman-teman kelas kalau tugasnya harus dikerjakan”. Ya kami sudah tahuuu…

Orang Indonesia adalah manusia dengan tingkat pengguna internetnya cukup tinggi, jadi ketika ada informasi apapun, orang Indonesia pasti sudah tahu. Jadi rasanya ndak perlu lagi melakukan kampanye #dirumahsaja, apalagi melakukannya hanya dengan menaruh gambar copasan dan menaruhnya di story sosial media tanpa melakukan tindakan nyata.
Karena percuma saja jika hanya menyampaikan himbauan tanpa memberikan solusi dalam permasalahan.

Mungkin bagi kalian yang kondisi rumahnya sangat membahagiakan, akan sangat setuju dengan kampanye #dirumahsaja, tapi tidak bagi anak toxic parent, kondisi ini adalah siksaan batin, dimana tubuhnya baik-baik saja namun hatinya meronta-ronta.

Perlu kalian ketahui, orang-orang yang rentan dalam pandemi ini bukan hanya penjual keliling atau ojol saja, tapi juga anak toxic parent. Dan mirisnya tidak ada yang peduli tentang mereka. Beberapa golongan rentan lainnya mungkin sudah dibantu oleh kaum-kaum dermawan di luar sana. Bahkan sejauh yang saya tahu, anak kos yang tidak mudik juga dimasukkan ke dalam golongan orang-orang rentan dan berhak dibantu. Namun sepertinya belum ada yang membela hak-hak anak toxic parent yang disuruh di rumah saja.

La gimana yah, menyuruh anak toxic parent untuk tetap di rumah saja itu sama halnya menyuruh ikan untuk tidak berenang. Rasanya lebih mudah untuk bepergian ke planet namec dari pada menyuruh ikan tidak berenang.

Kenapa seperti itu? Pertama, bagaimana mungkin menyuruh ikan kalau kita tidak tahu bahasa ikan (sama kayak kita yang ndak tahu bahasa hati anak toxic parent). Kedua, hal tersebut akan mustahil dilakukan jika kita tidak memberikan solusi lain untuk dia bertahan hidup.

Bagi anak toxic parent, bantuan yang diperlukan bukan masker, handsanitizer, atau makanan. Anak toxic parent lebih membutuhkan “rumah” yang dihuni oleh “keluarga” (baca: teman-teman mereka). Kalau misalnya mereka ditempatkan dalam satu rumah dengan teman berharga mereka, saya jamin mereka akan memilih di rumah saja tanpa perlu kalian suruh-suruh.br /> Penulis:
Afiqul Adib | Anak Kos

Seperti Halnya Anak Kos, Anak Toxic Parent Juga Butuh Bantuan Kala Pandemi


Kemarin malam, teman saya mengirimkan pesan WA yang isinya gini “aku oleh dolen nag omahmu gak? Aku aman, suhu badan 36, gak watok, gak pilek” (aku boleh main ke rumahmu gak? Aku aman, suhu bdan 36, tidak batuk, tidak pilek).

Pesan yang lebih terkesan tutorial mengunjungi rumah teman disaat covid dengan baik dan benar tersebut, tentu saja berhasil membuat saya ngakak sejenak selama 6 detik (kalau saya tidak salah hitung), kemudian langsung hening karena saya baru “ngeh” maksud dari pesan tersebut. Saya baru ingat kalau teman saya hidup dalam toxic parent.

Dulu saya sering main ke rumahnya, meskipun tidak terlalu deket juga dengan rumah saya. Beberapa kali saya menginap di sana, sehingga saya tahu ternyata ada rumah yang tidak membuat nyaman penghuninya.

Bagi yang belum tahu, toxic parent adalah pola asuh orang tua yang tidak pas (misal otoriter atau selalu menyalahkan) sehingga membuat hubungan antara anak dan orang tua terkesan memiliki jarak. Jadi anak-anak ini hampir sama seperti brokenhome, hanya saja orang tuanya tidak berpisah.

Rumah adalah siksaan tersendiri bagi anak toxic parent, sedangkan dunia luar merupakan rumah yang nyata bagi mereka. Jadi alasan kenapa mereka sering keluyuran dan jarang pulang adalah karena mereka sedang mencari “rumah”.

Pengertian rumah bukan hanya sekedar tempat yang tidak bergerak dan melindungi dari panas dan dingin. Rumah bisa apa saja. Bisa orang, tempat makan atau bahkan jalanan. Rumah adalah sesuatu yang membuatmu betah berlama-lama dan nyaman di sana. Karena itu anak toxic parent lebih sering keluyuran, bahkan ketika malam hari. Prinsip mereka adalah "jangan kau takut pada gelap malam, bulan dan bintang semuanya teman" (auto nyanyi lagu di sayyidan).

Dalam kondisi pandemi seperti ini, saya memberanikan diri untuk bertemu dengan teman saya yang sudah mengirim WA tadi. Dan ketika bertemu, hal kedua yang ia lakukan (karena hal pertama pasti mesoh) adalah bercerita tentang pedihnya bertahan di rumah dalam masa karantina ini.

Jika saya simpulkan isi dari cerita teman saya kemarin adalah tentang kehilangan, merasa menjadi sebab masalah, selalu disalahkan, dan tak tahu harus pulang kemana.

Di masa-masa seperti ini, saya kok setuju dengan Adriano Qolbi yang mengatakan “orang yang masih menyuarakan #dirumahsaja itu ibarat ketika guru ngomong ayo tugasnya dikerjakan, kemudian kalian berdiri dan menjelaskan kepada teman-teman kelas kalau tugasnya harus dikerjakan”. Ya kami sudah tahuuu…

Orang Indonesia adalah manusia dengan tingkat pengguna internetnya cukup tinggi, jadi ketika ada informasi apapun, orang Indonesia pasti sudah tahu. Jadi rasanya ndak perlu lagi melakukan kampanye #dirumahsaja, apalagi melakukannya hanya dengan menaruh gambar copasan dan menaruhnya di story sosial media tanpa melakukan tindakan nyata.
Karena percuma saja jika hanya menyampaikan himbauan tanpa memberikan solusi dalam permasalahan.

Mungkin bagi kalian yang kondisi rumahnya sangat membahagiakan, akan sangat setuju dengan kampanye #dirumahsaja, tapi tidak bagi anak toxic parent, kondisi ini adalah siksaan batin, dimana tubuhnya baik-baik saja namun hatinya meronta-ronta.

Perlu kalian ketahui, orang-orang yang rentan dalam pandemi ini bukan hanya penjual keliling atau ojol saja, tapi juga anak toxic parent. Dan mirisnya tidak ada yang peduli tentang mereka. Beberapa golongan rentan lainnya mungkin sudah dibantu oleh kaum-kaum dermawan di luar sana. Bahkan sejauh yang saya tahu, anak kos yang tidak mudik juga dimasukkan ke dalam golongan orang-orang rentan dan berhak dibantu. Namun sepertinya belum ada yang membela hak-hak anak toxic parent yang disuruh di rumah saja.

La gimana yah, menyuruh anak toxic parent untuk tetap di rumah saja itu sama halnya menyuruh ikan untuk tidak berenang. Rasanya lebih mudah untuk bepergian ke planet namec dari pada menyuruh ikan tidak berenang.

Kenapa seperti itu? Pertama, bagaimana mungkin menyuruh ikan kalau kita tidak tahu bahasa ikan (sama kayak kita yang ndak tahu bahasa hati anak toxic parent). Kedua, hal tersebut akan mustahil dilakukan jika kita tidak memberikan solusi lain untuk dia bertahan hidup.

Bagi anak toxic parent, bantuan yang diperlukan bukan masker, handsanitizer, atau makanan. Anak toxic parent lebih membutuhkan “rumah” yang dihuni oleh “keluarga” (baca: teman-teman mereka). Kalau misalnya mereka ditempatkan dalam satu rumah dengan teman berharga mereka, saya jamin mereka akan memilih di rumah saja tanpa perlu kalian suruh-suruh.br /> Penulis:
Afiqul Adib | Anak Kos
Load Comments

Subscribe Our Newsletter